|
Selasa, 07 Februari 2012 14:38 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:32 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:25 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:21 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:17 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:12 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:11 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:04 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 14:04 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 13:57 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 13:50 WIB
|
|
Selasa, 07 Februari 2012 13:47 WIB
|
Index Berita |
Di sini/Di tempat sunyi ini/Hanya aku dengan maut/Ketika kutusuk tembus jantungnya/Aku yang mati//
Inilah cuplikan puisi terakhir yang ditulis menjelang kematiannya. Tanggal 15 April 2009 menjadi saksi atas berakhirnya eksistensi seorang Fadli Rasyid di muka bumi ini. Di akhir umurnya yang ke-71 tahun hanya nama dan karya yang tersisa dari seorang Fadli Rasyid. Ibarat pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Kini Fadli Rasyid telah pergi, meninggalkan keluarga, sanak saudara, kawan, lawan bahkan guru-gurunya.
Fadli Rasyid atau dengan sebutan Mbah Fadli mempunyai nama kecil Abdul Rasyid. Lahir 7 Juli 1937 dan berdomisili di tempat kelahirannya Mumbulsari, Jember. Dia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang asri dan penuh keheningan.
Pendidikan yang ditempuh Mbah Fadli yaitu Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru tingkat B di Jember. Tahun 1958, setelah lulus dari sekolah guru, Mbah Fadli sempat mengajar di Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Pakisan Kabupaten Bondowoso.
Tepatnya tahun 1962, hasratnya untuk terjun di bidang seni budaya tak tertahankan lagi. Dia nekat melepas profesinya sebagai guru kemudian memilih merantau ke Yogyakarta dan bergabung dengan kelompok seniman dalam Komunitas Sanggar Bambu. Kemudian di tahun 1964 Mbah Fadli pindah ke Jakarta dan ikut berbagai pameran serta berbagai kegiatan seni rupa. Tahun 1970 Mbah Fadli bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja dan Asmara Nababan, mendirikan majalah anak-anak Kawanku. Yang pada sekira tahun 90-an berubah format menjadi majalah remaja.
Sampai pada tahun 1983 di saat umur Mbah Fadli sudah mencapai 45 tahun, dia memutuskan untuk menikah dengan Sri Utami yang pada saat itu berumur 25 tahun. Di tahun itu pun, Mbah Fadli kemudian memutuskan untuk menetap di tanah kelahirannya. Hidup bertani namun masih tetap menulis dan melukis. Banyak karya yang dihasilkan Mbah Fadli dibuat di rumahnya Mumbulsari, yang sekarang sudah menjadi sanggar. Mbah Fadli dikaruniai dua orang anak, Bayu Anggun Nilakandi dan Bahana Purwa Kendita. Saat ini Mbah Fadli sudah memiliki tiga orang cucu dari anaknya yang pertama.
Mbah Fadli tergolong seniman yang multitalenta. Dia mempunyai spesifikasi jenis karya seni yang beragam. Jenis karya seni yang sudah dibuat diantaranya; lukisan, novel, novel anak, cerpen, cerpen anak, cerita humor, artikel koran, naskah drama, sajak dan puisi, kemudian patung atau monumen. Buku-buku karangan mbah Fadli diterbitkan oleh beberapa penerbit diantaranya; Dinas P&K, Yayasan Sehati, Yayasan Kawanku-Jakarta, dan lain sebagainya.
Kronologis pengalaman perjalanan hidup berkecimpung di bidang kesenian yang dilakukan Mbah Fadli di antaranya; sejak sekira tahun 1962, bergabung dengan Sanggar Bambu Yogyakarta, pameran seni rupa keliling Jawa dan Madura. Tahun 1967, Mbah Fadli menggawangi pembuatan monumen Sasmita Loka Jakarta yang berupa patung Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal S. Parman. Sekira tahun 1970, Mbah Fadli mendirikan majalah anak-anak Kawanku bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Asmara Nababan dan Trim Suteja. Tahun 1972-1976, Mbah Fadli membuat monumen gerbong maut di Kabupaten Bondowoso. Tahun 1973, mendirikan majalah humor Astaga bersama Arswendo Atmowiloto, Julius Siyaranamual dan Alex Dinuth. Tanggal 7-11 Maret 1975, pameran tunggal lukisan di Balai Budaya Jakarta. Tahun 1978, Mbah Fadli menjadi pememang pertama Lomba penulisan Naskah Humor yang diselengarakan Lembaga Humor Indonesia bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tahun 1992, pameran bersama Masyarakat Seni Rupa Jember, pameran lukisan di Beranda Seni Indigo Jakarta dan lukisan Mbah Fadli menjadi koleksi Bentara Budaya Kompas Jakarta.
Karya-karya tulisnya kebanyakan ditujukan untuk segmen anak-anak. Mbah Fadli mengakui, selain hal itu untuk tetap menyalurkan misi pendidikan (sebagai guru yang berhenti mengajar), dia juga menganggap anak-anak harus terus dimotivasi dengan karya-karya tulis seperti puisi, cerpen dan novel. Puisi dan cerita yang ditulis Mbah Fadli selalu mengusung tema lingkungan dan nasionalisme. Semuanya menggunakan tokoh anak-anak.
Selain tersebar di berbagai media seperti Horizon, Kompas, Zaman, Kawanku, beberapa naskah sudah diterbitkan menjadi buku. Buku kumpulan puisi karya Mbah Fadli yang sudah diterbitkan antara lain, Musim dan Peristiwa Alam, Surat Pada Pahlawan, dan Dibawah Matahari. Sedangkan cerita atau novel anak karyanya yang sudah diterbitkan seperti Arman Anak Revolusi, Merah Putih Berkibar Kembali, Tamu yang Cerdik (cerita Jenaka/Humor). Ada juga cerita bertema pelestarian lingkungan dan benda sejarah seperti Lepas Ke samudera Luas, Melacak jejak Harimau Jawa, Gerhana Diatas Baluran dan Merebut Dewi Rengganis.
Karya-karya Mbah Fadli banyak digarap dan dihasilkan selama dia berada di Desa Mumbulsari. Beberapa karyanya juga begitu dekat dengan keseharian hidupnya. Ia menghirup denyut kehidupan pedesaan. Melukiskan pesona semesta dengan alamnya yang perawan. Menjadikan semua itu sebagai bagian dari proses kreatifnya.
Dunia seni adalah napas baginya. Dia suka berpetualang, tidak hanya dalam imajimasi, secara fisikpun dia lakukan. Dimasa tuanya Mbah Fadli mempunyai cita-cita untuk memberikan sumbangsih dengan karya-karyanya untuk Jember. Dua diantaranya yaitu, membuat sanggar seni dan Monumen Moh. Seruji. Sanggar seninya, berhasil dia resmikan pada 22 Februari 2009 dengan nama “Sanggar Fosil”.
Tempat yang digunakan untuk sanggar adalah rumah lamanya di desa Mumbulsari. Namun, untuk pembuatan Monumen Seruji tidak sampai terealisasi. Bukan karena tak ada usaha dari Mbah Fadli tapi memang karena tak ada dukungan dari pemerintah Kabupaten Jember. Dalam pandangan Mbah Fadli Monumen Seruji perlu dibuat untuk mengenang pahlawan Jember sebagai pengenalan sejarah bagi generasi muda. Sekaligus sebagai gerakan melawan lupa akan arti perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia.
Begitulah sosok Mbah Fadli yang sudah malang melintang di dunia seni budaya. Seorang seniman yang mempunyai tanggung jawab, kepedulian dan kepekaan atas realitas kehidupan. Salah satu pernyataan yang ditulis Bambang Bujono tentang Mbah Fadli yaitu: Rasyid suka mengaku dia hanya “petani” biasa. Saya kira kunci untuk memahami Rasyid memang itu: petani. Ia akan menanami lahannya sesuai “musim”, suatu ketika menulis cerita pendek, di ketika lain, melukis dengan cat minyak, dan di ketika lain pula ia membuat garis-garis hitam pada kertas putih, di samping benar-benar menanam padi di sebidang tanahnya di Mumbulsari Jember.