Setop Politisasi Terorisme

Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 05:00 WIB Editorial MI

MENGAMBIL manfaat atas sebuah tragedi kemanusiaan ialah sebuah perilaku yang sangat tidak terpuji.

Pada saat sebagian dari kita masih berduka karena ditinggalkan anggota keluarga, sebagian yang lain justru menggunakan momentum dari tragedi tersebut untuk menarik keuntungan baik pribadi, kelompok, maupun golongan.

Ironisnya, perilaku semacam itu mengemuka pada saat dukacita atas tragedi akibat serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5), dan di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5), belum sepenuhnya berlalu.

Tragedi bertambah ketika teroris menyerang Polda Riau, kemarin, menyebabkan satu polisi tewas dan dua jurnalis luka-luka.

Sebagian kalangan, belakangan ini, kita lihat telah memanfaatkan tragedi yang merenggut setidaknya 18 korban jiwa dan melukai 57 orang lainnya itu untuk melakukan manuver politik.

Di ranah publik, ada saja individu dan kelompok kepentingan yang menggunakan tragedi bom Surabaya untuk menyudutkan pemerintah dan partai-partai pendukung pemerintah.

Isu-isu yang sarat teori konspirasi bertebaran di media sosial.

Mulai tudingan pengalihan isu, lemah dan buruknya kinerja aparatur Polri dan intelijen, hingga kegagalan pemerintahan digunakan untuk menguatkan kampanye mengganti presiden pada Pilpres 2019.

Kita sangat menyayangkan sikap-sikap tidak sensitif, tidak kesatria, dan sekaligus juga sikap teramat oportunistis semacam itu.

Sepatutnya dalam situasi dukacita yang mendalam akibat tragedi yang ditimbulkan aksi biadab para teroris, sebagai sesama anak bangsa kita prihatin dan saling mendukung.

Nyatanya, tidak sedikit dari mereka yang justru menggunakan kesempatan dalam suasana dukacita ini untuk bertindak di luar kepatutan.

Kita bukannya tidak mengerti betapa di tahun politik terbuka kesempatan bagi siapa pun untuk memperkuat posisi politik diri dan kelompok.

Apalagi kontes pemilihan kepala daerah serentak tinggal satu bulan lagi digelar dan tahap pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden tinggal tiga bulan lagi dilakukan.

Dalam kaitan itu, masuk akallah bila isu terorisme lantas digunakan sebagai materi kampanye antarkekuatan politik yang akan bertarung dalam kompetisi, baik dalam pilkada maupun pilpres.

Akan tetapi, secara etika, sungguh sangat tercela bila ada yang memanfaatkan tragedi kemanusiaan untuk mengambil manfaat politik.

Karena itu, kita mendesak siapa pun, baik elite politik maupun partisan politik, untuk menghentikan praktik politisasi isu terorisme.

Politisisasi isu terorisme, selain menambah luka mereka yang masih berduka, akan membuat kasus terorisme menjadi kian sulit diselesaikan hingga ke akar-akarnya.

Selain buruk bagi ekonomi, kegaduhan jika terus dibiarkan akan semakin membelah bangsa ini ke dalam kelompok-kelompok yang saling melemahkan.

Lupakan dulu perbedaan politik. Politisasi isu terorisme hanya akan memperlebar perbedaan politik yang tidak mungkin berujung pada perpecahan.

Perpecahan ialah hal yang diinginkan para teroris. Bila kita pecah sebagai bangsa, teroris mudah sekali menguasai negara kita sebagaimana Suriah, misalnya.

Kita tentu sama sekali tak menginginkan itu terkadi. Oleh karena itu, sekali lagi, hentikan politisasi isu terorisme.

Yang harus dilakukan bersama ialah menyerahkan penyelesaian kasus terorisme kepada aparat penegak hukum.

Kita mesti membantu Polri dan penegak hukum lain untuk mengenyahkan terorisme dari Bumi Pertiwi.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More