Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Berlatih Dahulu sebelum Beraksi

Golda Eksa/J-4
03/3/2015 00:00
Berlatih Dahulu sebelum Beraksi
(MI/SENO)
TAWARAN membegal datang kepada Sarbo alias Abu, 25, dua tahun lalu.

Saat itu, Sarbo muda gelisah karena baru dipecat dari pekerjaannya sebagai buruh rendahan di Bogor.

Terbatasnya keterampilan yang dikuasai membuat tenaganya tak lagi dibutuhkan.

"Setelah menganggur, saya diajak teman. Katanya kurang orang untuk membegal motor," ungkapnya kepada Media Indonesia di pelataran parkir Polda Metro Jaya, akhir pekan lalu.

Serbo menjadi salah satu pembegal yang diringkus aparat Polres Kota Tangerang.

Karena tak berminat memburuh lagi, pemuda asal Lampung Utara itu langsung menerima tawaran sang teman.

"Perintahnya untuk 'main' di Jakarta."

Sarbo tidak langsung bergabung dalam operasi yang dilakukan 'timnya'.

Ia masih harus berlatih sebelum diikutsertakan dalam aksi.

"Diterima, tapi harus belajar dulu," imbuhnya.

Pelajaran membegal dimulai dengan membonceng ketua komplotan bernama Tohir yang saat ini masih buron.

Sarbo belajar bagaimana menyisir lokasi.

Setelah lulus pelajaran itu, Sarbo berlatih membawa kabur motor korban setelah pelaku lain melumpuhkan target dengan senjata tajam.

"Motor yang melintas lebih gampang digondol daripada yang diparkir," tuturnya.

Selama dua tahun menjadi begal, sudah lebih dari 15 kali ia dan kawanannya melancarkan operasi dengan wilayah operasi di Depok, Tangerang, dan Jakarta.

Namun, petualangan membegalnya berakhir setelah ia diringkus polisi di Lampung Utara, Selasa (27/1).

Pengakuan senada juga disampaikan tersangka lain.

Menurut pemuda berusia 19 tahun yang enggan menyebutkan namanya itu, sasaran utamanya ialah anak kecil atau pelajar yang membawa sepeda motor seorang diri.

"Karena target lebih lemah, jadi lebih gampang."

Pemuda yang baru sekali membegal itu diringkus seusai beraksi di sekitar kampus Universitas Indonesia.

Ia bertugas hanya memantau situasi.

Melihat fenomena begal, kriminolog dari Universitas Indonesia Josias Simon berpendapat kenekatan para pembegal terjadi karena pelaku yang kebanyakan berusia muda merasa memiliki kesamaan visi dalam beroperasi.

"Anak muda berbuat nekat karena ingin mencari jati diri. Mengekspresikan keberanian dan menunjukkan identitas. Tapi melihat aksi mereka yang tidak kenal ampun, seperti mengikuti cara para residivis," jelasnya.

Kelompok begal tidak menginduk pada satu jaringan besar.

"Ini sifatnya menular sehingga perlu kesiagaan dari semua pihak," tukasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya