Eksplorasi

Bersiap Berlayar dengan Kapal Bertenaga Hidrogen

Sabtu, 22 April 2017 01:15 WIB Penulis: Hanif Gusman

SETELAH Solar Impulse 2 sukses melakukan perjalanan keliling dunia dengan tenaga surya pada Juni 2016 lalu, para ilmuwan semakin tertarik untuk mengembangkan moda transportasi tanpa bahan bakar fosil.

Ambisi mereka itu terwujud dengan inovasi yang diluncurkan pada pertengahan bulan ini.

Diperkenalkan pada 14 April lalu di Saint Malo, Prancis, inovasi itu ialah kapal pertama dengan bahan bakar tanpa fosil.

Nantinya kapal bernama Energy Observer tersebut bakal digerakkan dengan tenaga hidrogen dan energi terbarukan seperti cahaya matahari dan udara.

Proyek pembuatan Energy Observer dikerjakan tim yang dipimpin Kapten Victorien Erussard dan pemimpin ekspedisi Jerome Delafosse.

Mereka menghabiskan biaya sekitar 4,2 juta euro (US$4,72 juta) untuk membuat Energy Observer.

Bentuk kapal berupa kapal layar dengan dua lambung yang akan dilengkapi panel surya berukuran 130 meter persegi, dua turbin angin, layang-layang traksi, dan dua motor listrik reversibel.

Untuk urusan teknologi energi terbarukan, tim pembuat kapal bekerja sama dengan lembaga penelitian Prancis CEA-Liten.

"Hidrogen merupakan cara terbaik dalam hal ini karena sangat ringan dan tiga kali lebih efisien jika dibandingkan dengan bahan bakar biasa," ujar Delafosse.

Energy Observer juga bekerja sama dengan perusahaan Prancis yang bergerak di bidang kimia Air Liquide untuk teknologi pemanfaatan hidrogen.

Selama melakukan perjalanan nantinya, hidrogen yang dihasilkan melalui elektrolisis laut akan dikompresi dan disimpan.

Nantinya akan diubah menjadi listrik melalui sel bahan bakar.

"Jika tidak ada matahari atau angin, atau jika saat malam hari, hidrogen yang dihasilkan elektrolisis didukung panel surya dan turbin angin akan mengambil alih perjalanan kapal," sebut Erussard.

Dengan adanya teknologi hibrida ini, perjalanan kapal tidak akan menggunakan bahan bakar fosil beremisi karbon seperti yang ada pada hampir seluruh kapal saat ini.

Saat ini Energy Observer yang ditambatkan di galangan kapal Saint Malo tengah menunggu pemasangan panel surya, turbin angin, dan peralatan elektrolisis yang memecah air untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen.

Pelayaran bertama kapal ini direncanakan dari Paris pada Mei 2017.

Program ekspedisi

Nantinya Energy Observer akan melakukan tur ekspedisi untuk menguji teknologi tersebut di bawah kondisi ekstrem.

Jika dianggap berhasil, teknologi tersebut akan diluncurkan pada skala yang lebih besar di laut dan di darat untuk keperluan transportasi dan keperluan lainnya.

Lembaga penelitian CEA-Liten sebagai salah satu pihak yang terlibat menyatakan kapal tersebut dapat menjadi simbol jaringan energi bahkan bisa menjadi solusi dalam lima tahun ke depannya.

Ekspedisi tersebut direncanakan akan melintasi 50 negara dan singgah di 101 pelabuhan mulai Kuba ke Kaledonia Baru hingga ke Goa di pantai barat di India.

Kapal tersebut akan melewati Laut Mediterania, Samudra Atlantik, dan lautan Pasifik. Perjalanan tersebut diperkirakan memakan waktu enam tahun.

Meskipun sudah matang dalam perencanaan, ekspedisi kapal tersebut terancam masalah yaitu pendanaan.

Perjalanan kapal berlambung ganda tersebut diperkirakan menelan biaya minimal 4 juta euro per tahun terutama untuk pendanaan pameran keliling.

Dana yang besar dikali tahun perjalanan yang panjang tentu saja akan membuat tim ekspedisi harus lebih giat mencari dukungan.

Namun, tim yakin mereka akan mendapatkan dana tersebut laiknya tim Solar Impulse 2 yang berhasil melakukan penerbangan keliling dunia tahun lalu.

"Semua orang bisa saja mengatakan hal ini tidak akan terwujud," kata Delafosse.

(Energy Observer/Air Liquide/The Guardian/L-1/M-3)

Komentar