Jendela Buku

Sajian Riwayat Hidup yang Bernyawa

Sabtu, 22 April 2017 01:30 WIB Penulis: Wnd/M-2

KETIKA kau melintasiku, maksudu pondok tempatku berteduh dari terik dan hujan yang tiba-tiba turun deras sekali, aku merasa sedang mendapat mukjizat.

Sudah lama, aku ingin berbincang denganmu meskipun sebenarnya aku ingin melakukan lebih.

Ternyata, kau membalas sapaanku dengan ramah.

Maka kita pun menghangatkan diri dengan berbincang-bincang.

Mulai dari pertanyaan tempat tinggal hingga aku menanyakan pertanyaan yang telat, namamu.

Hujan yang semakin deras membuatku meminta kau mengulangi jawabanmu dan kau kembali berteriak.

Nukilan ini diambil dari subjudul dari bagian Identitas, Mukjizat.

Sementara itu, pembuka dimulai dengan subjudul Telur yang mengisahkan dua telur berbeda warna yang menetas menjadi dua jenis spesies unggas yang berbeda, ayam dan bebek.

Kedua makhluk hidup tersebut seperti melambangkan sebuah perbedaan akan dan tidak saling mengenal.

Akan tetapi, mereka tetap seperti lahirnya, bermain bersama dan saling merasa bahagia apalagi salah satu di antara mereka bergembira.

Persis seperti judul bukunya, Curriculum Vitae, sang penulis Benny Arnas benar-benar menyampaikan riwayat hidup secara singkat dan padat dalam lembaran yang tak lebih dari dua halaman.

Dimulai dari perkenalan, lantas menjadi lebih terang pada bagian kedua bahwa penulis sedang mengisahkan sepasang manusia yang dipersatukan dalam rumah tangga.

Mulai kisah rekan dalam lingkungan hingga peristiwa-peristiwa lain yang dituliskan dengan gaya bahasa tidak biasa.

Bagi saya, sebagai pembaca memang sungguh tidak biasa, seperti mudah dipahami tetapi terkesan dengan pilihan kata yang mumpuni.

Mengumbar satire

Tawa kerap menyelinap dari bibir, menandakan apa yang disampaikan Benny memang benar adanya, serupa dengan kehidupan yang banyak dialami insan dalam ikatan pernikahan.

Sungguh tak bosan membacanya karena cerita yang dituangkan dalam kisah-kisah singkat ini justru membuat tak mau berhenti untuk tahu kisah apalagi yang akan ditularkan si penulis.

Tokoh yang berperan pun terasa abstrak, hanya ada sebutan, aku, kamu, fulan, fulani, juga fulanah.

Tak ada kisah hidup yang lepas dari pandangan penulis, mulai merajuk, bertikai, hingga di akhir dengan momen rujuk.

Penulis juga kerap mengumbar satire yang pedih dengan gamblang, seperti pada subjudul di bagian akhir, Muhasabah.

Penulis menyajikan realitas dengan bahasa yang penuh simbol perihal perbincangan suami istri yang kerap menyulut keributan.

Masing-masing saling mempertahankan pendapat, suara perlahan meninggi, hingga nada berubah menjadi marah dan mengintimidasi.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama, keesokan hari kehangatan sudah kembali.

Tak luput penulis memanjatkan doa-doa layaknya seseorang yang berumah tangga, menginginkan rahmat-Nya dan menjadi lebih bertakwa serta bersyukur.

Dikisahkan pula, sang tokoh meminta dihindari dari kebiasaan berdebat dan memberikan sifat kejujuran, keikhlasan, gemar memberi, dan tidak membincangkan keburukan orang lain.

Sebab, amalan kami adalah hari ini.

Kemarin telah berlalu. Esok belumlah tentu.

_____________________________________

Judul : Curriculum Vitae

Penulis : Benny Arnas

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Maret 2017

Tebal : 213 halaman

Komentar