Internasional

Facebook Hapus Konten Pedofilia

Selasa, 21 March 2017 10:00 WIB Penulis: Richaldo Y Hariandja

AP/Matt Rourke

LAYANAN jejaring sosial Facebook akan menghapus dan melaporkan konten pornografi, khususnya pedofilia yang muncul di laman mereka baru-baru ini. Facebook akan melaporkan hasil pendeteksian mereka kepada penegak hukum terkait.

“Kami tidak memberikan toleransi sedikit pun dalam hal eksploitasi anak-anak di Facebook. Kami bekerja sama dengan para ahli perlindungan anak serta badan penegakan hukum lokal, federal, dan internasional untuk memerangi aktivitas yang mengerikan ini dan membawa pelaku ke jalur hukum,” ungkap Facebook dalam pernyataan tertulis, kemarin.

Facebook memastikan akan menutup grup dan konten terkait setelah aktivitas ilegal tersebut dilaporkan kepada mereka.

“Kami pun akan melaporkan akun beserta individu terkait sesuai dengan deteksi menggunakan Photo DNA kami kepada National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC),” tutup Facebook dalam pernyataan tersebut.

Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan dalam jumpa pers di Kantor Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/3), menyatakan Subdit VI Cyber Crime Polda Metro Jaya menangkap empat pengelola (admin) dari grup Facebook bernama Official Candy’s Group.

Grup itu dijadikan sebagai wadah berbagi video dan foto yang memuat konten pornografi anak. Diperkirakan, ada lebih dari 7.000 anggota aktif di dalam grup tersebut.

Para admin bertugas menerima anggota baru serta mengeluarkan anggota yang tidak aktif atau tidak ikut mengirimkan gambar atau video pelecehan anak di bawah umur.

Polisi mencatat setidaknya ada 500 film dan 100 foto bermuatan pornografi anak dalam grup Facebook Official Candy’s Groups.

Pelecehan seks
Member aktif di grup Whatsapp sindikat pedofil tak hanya menyebar video konten pornografi anak. Mereka juga melakukan pelecehan seks tehadap korban yang ada di video tersebut.

Kasubdit Cyber Crime Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya AKB Roberto Pasaribu menjelaskan 102 member yang ada di grup Whatsapp lokal atau biasa disebut Candy diduga melakukan pelecehan terhadap korban.

“Dugaan semua melakukan pelecehan, tapi videonya itu tidak live ya. Itu direkam lalu di-share,” ungkap Roberto, kemarin.

Dia sudah mengantongi data identitas dari 102 member itu. “Sejak tertangkap empat tersangka awal (admin grup Facebook), semua sudah tidak aktif nomor handphone-nya. Kami masih telusuri,” katanya.

Pihaknya, lanjut Roberto, juga berkoordinasi dengan Biro Investigasi Federal AS (FBI) untuk memburu member yang tergabung di 11 grup Whatsapp internasional.

Diperkirakan, ada ratusan member di grup yang di dalamnya terdapat member lintas negara, seperti dari Argentina dan Peru (Amerika Latin), juga Pakistan dan India.

Selain grup Whatsapp baik lokal maupun internasional, polisi pun masih mendalami keterlibatan anggota di grup Facebook yang berjumlah 7.479 akun itu.

Di sisi lain, ahli forensik digital dari Institut Teknologi Bandung Ruby Alamsyah berpendapat pihak Facebook tidak bisa di-salahkan sepenuhnya meski mereka bertanggung jawab memblokir atau menutup akun yang tidak sesuai. (Mal/WJ/X-4)

Richaldo@mediaindonesia.com

Komentar