Podium

Kian Jelas 212

Selasa, 16 January 2018 05:31 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

INI bukan Nyanyian Lavino dari Afrika yang resah. Ini nyanyian La Nyala dari Surabaya. Nyanyian Lavino, buku puisi ini, ditulis penyair Uganda Okot p'Bitek tentang derita Afrika. Nyanyian La Nyalla Mattalitti bicara tentang sakit hati sebagai politikus karena kehendaknya sebagai kader partai yang ingin menjadi calon Gubernur Jawa Timur tak mendapat restu Gerindra, partainya.

Dengan rasa kecewa yang dalam ia ungkap hal ihwal yang sebelumnya tabu. Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Kamis pekan lalu, ia ungkap uang mahar politik puluhan miliar, dukungan alumni 212, rekomendasi calon Gubernur Jawa Timur yang gagal, Prabowo Subianto yang ia dukung sejak 2009, dan keputusannya meninggalkan Gerindra.

La Nyala yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur, dan mantan Ketua Umum PSSI, didampingi salah satu pentolan Aksi 212, Al-Khaththath. Publik pun dapat penegasan bahwa pilkada DKI Jakarta yang membelah publik justru akan di-copy paste di Jawa Timur.

Meskipun mahar politik selama ini menjadi cerita 'bercikun-cikun' di belakang, banyak juga yang mengungkap lantang. La Nyalla menceritakan, dalam pertemuannya dengan Prabowo pada pekan kedua Desember 2017 di Hambalang, Jawa Barat, kediaman pendiri Partai Gerindra itu, ia diminta uang (mahar) Rp40 miliar.

Sesungguhnya La Nyalla telah menyiapkan jumlah berkali lipat, Rp300 miliar. Ia akan menyerahkan uang itu setelah partai secara resmi mendaftarkannya sebagai calon gubernur ke KPU Jawa Timur. Namun, Prabowo minta uang diserahkan sebelum pendaftaran. Mereka sepakat untuk tidak sepakat.

"Dia (Prabowo) marah-marah. Marahnya seperti orang kesurupan. Pokoknya seperti bukan Prabowo Subianto-lah," ungkap La Nyalla. Ia mengatakan tak memiliki bukti apa pun berkait dengan klaim uang mahar. "Tapi saya berani sumpah pocong," ungkap Nyalla. Dalam Pilpres 2009 dan 2014 ia mengaku mendukung Gerindra dengan dana sendiri.

Pada Pilpres 2019 ia tak akan lagi mendukung Prabowo. Klaim La Nyalla pun dibantah para pentolan Gerindra. Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, memperkirakan uang yang dimaksud La Nyalla untuk membiayai logistik dan saksi untuk pilkada. Prabowo, kata Fadli, tak pernah meminta uang untuk kepentingan pribadi. Jawa Timur itu luas, butuh logistik tak sedikit.

"(Pernyataan) itu lucu, hanya untuk mencari popularitas," kata Desmon J Mahessa yang juga anggota DPR dari Gerindra. Meski sukses mengusung calon gubernur di Jawa Barat dan Jawa Tengah, Gerindra, PKS, dan PAN gagal mengusung poros baru setelah Yenny Wahid tak bersedia dicalonkan.

Gerindra dan PKS pun bergabung dengan PDIP dan PKB mengusung Saifulah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Mereka berhadapan dengan Partai Demokrat, Golkar, NasDem, PPP, dan Hanura yang mengusung Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak. PAN pun memilih bersekutu dengan poros itu.

(Jika ada yang memakai postulat keberhasilan pilkada di 171 daerah menjadi tiket menuju Pilpres 2019, di mana menjawab dinamika koalisi yang cair, saling-silang, dan tak linier ini di Jawa Timur? Politik di negeri ini agaknya punya jalan bersekutunya sendiri).

Kembali soal mahar, dan inilah yang menjadi perbincangan publik. Prabowo dengan jujur juga mengatakan, di sebuah pesantren di Bondowoso Juli 2017, dan rekaman itu kini viral di media sosial, kepada siapa saja yang ingin menjadi gubernur, pertama-tama yang ia tanyakan ialah punya uang berapa?

"Ente punya uang enggak? Saya tidak tanya Anda lulusan mana? Saya tidak tanya Anda prestasinya apa? Saya tidak tanya Anda pernah nulis buku apa? Saya tidak tanya Anda mau jadi gubernur pernah jadi bupati enggak? Pernah jadi camat enggak? Saya tidak tanya. Yang saya tanya, ente punya uang berapa?" kata Prabowo dalam video itu.

Prabowo merasa sedih, ada orang hebat, orang berakhlak, enggak punya uang untuk menjadi gubernur. "Kalau mau jadi gubernur, minimal Rp300 miliar. Itu paket hemat," katanya menambahkan. Dulu banyak pentolan Aksi 212, termasuk Rizieq Shihab, menolak aksi itu sebagai gerakan politik.

Namun, setelah melihat kiprahnya, sulit mengatakan itu bukan aksi politik. Bukankah pujian pemberani dari Prabowo terhadap Rizieq Shihab pascakemenangan Anies-Sandi karena kerja politik? Pengakuan La Nyala sebagai bagian Aksi 212 dan juga Al-Khaththath menguatkan semerbaknya aksi politik itu.

Terlebih kini ada Garda 212, wadah yang didirikan untuk umat Islam yang hendak maju ke gelanggang politik praktis. "Dari lima nama, salah satunya adalah Mas La Nyalla, itu ternyata tidak satu pun yang diberikan rekom. Kita kan menganggap para ulama sudah memperjuangkan dengan pengerahan Aksi Bela Islam 212 yang sangat fenomenal dan kita di Jakarta sudah berhasil, ya, memunculkan Gubernur Anies-Sandi yang didukung oleh para ulama," ungkap Al-Khaththath.

Jelas bukan aksi politik itu? Andai saja dari awal para tokoh yang menggagas Aksi Bela Islam lebih jujur, bahwa itu memang aksi politik? Bukankah kejujuran ialah salah satu ajaran Islam yang paling dasar? Banyak orang, termasuk teman dan saudara saya, juga mereka yang datang dari banyak tempat, menganggap aksi yang puncaknya 212 itu murni membela agama (Islam).

Nyanyian La Nyalla dan Al-Khaththath kian memperjelas aksi politik 212 itu. Kejujuran memang kerap butuh jarak untuk mengungkapnya. Namun, saya juga menafsirkan tak direkomendasinya lima orang untuk maju Pilkada 2018 oleh Gerindra, PKS, dan PAN, juga sebuah evaluasi dari mereka, betapa cara berpolitik di DKI Jakarta yang bernuansa SARA memang tak boleh terulang di daerah lain.

Keterbelahan bangsa ini akan kian meluas dan dalam. Bangsa ini kian mundur. Saya berharap tafsir bersahaja ini tak sepenuhnya keliru. Terlalu sayang politik yang sesungguhnya jalan kebajikan ini justru kian mengoyak persaudaraan.

Komentar