Terjebak di Raga yang Ia Benci
Apa jadinya jika roh yang belum bisa pulang ke alam akhirat menempat
tubuh temannya yang dulu suka mengolok-oloknya?
SOELISTIJONO
“AKU mati?” Adanya bayangan truk yang berjalan mun dur ke arahnya membuat Amber berpikiran dia sudah tidak bernyawa lagi. Apalagi ia berjumpa dengan Granny, neneknya dan anjingnya yang sudah lama meninggalkan dunia fana.
Namun kenyataannya, Amber sedang mengalami mati suri. Dengan bimbingan dari neneknya, Amber berjalan kembali menuju tubuhnya yang berada di rumah sakit. “Apa pun yang terjadi, beloklah ke kiri,” pesan neneknya.
Dengan pelan akhirnya Amber bisa membuka matanya. Hal pertama yang
ia lakukan ialah mencari cermin untuk melihat seberapa parah luka yang didapatnya saat dihantam truk.
Insiden yang menimpanya tentu bukan kecelakaan kecil. “Minimal patah
tulang bakal saya alami.” Itulah yang ada di pikiran Amber saat terbangun dari mati surinya di rumah sakit. Tapi, dia merasakan ada hal yang aneh. Pantulan wajah di cermin itu… bukanlah dirinya yang dulu! Yang ada di sana adalah Leah, teman sekolah yang selalu mengintimidasinya.
Novel terjemahan karya Linda Joy Singleton ini merupakan novel fiksi misteri, menceritakan tentang perpindahan satu jiwa ke tubuh orang lain, dengan sudut pandang orang pertama (aku).
Di sini, tokoh utama (Amber) digambarkan sebagai remaja berperangai baik
dan memiliki rasa setia kawan yang tinggi, tapi keras kepala serta tidak puas dengan kondisi kehidupannya.
Konflik muncul saat Amber menyadari ia berada di tubuh yang salah. Itu gara-gara ia bingungmenentukan arah saat kembali dari mati surinya.
Seharusnya ia mengambil arah kiri, seperti tuntunan neneknya, tetapi Amber mengambil arah sebaliknya. Sekarang ia terjebak di tubuh Leah.
Panik mulai menyerang Amber. “Aku bukan Leah, aku Amber!” Namun, tidak satu orang pun yang memercayainya.
Leah, yang menjadi primadona di sekolah, kini adalah orang yang ia lihat di cermin. Bukan, sekarang ia adalah Leah, jiwanya ada di dalam tubuh Leah. Ia hi dup di badan orang yang dibencinya yang selama ini mengolok-olok dirinya dengan sebutan ‘si aneh’.
Tanpa ia duga, hidup Leah tak seindah apa yang selalu diperlihatkan di sekolah. Leah ternyata hidup dalam penderitaan yang cukup berat.
Di usianya yang masih 17 tahun, Leah harus menjalani operasi botox dan operasi plastik secara berkala atas perintah ayahnya, seorang pengusaha musik ter nama.
Leah menjadi barang pajangan milik ayahnya, yang selalu dipamerkan di
pesta-pesta besar. Ibunya seorang pemabuk berat. Adiknya sangat membenci Leah.
Chad, kekasihnya, bermesraan dengan sahabatnya sendiri, Jessica. Semua itu menyebabkan Leah frustrasi hingga nekat bunuh diri. Hidup Leah ternyata tak sesempurna yang dibicarakan dan dibayangkan orang lain, termasuk Amber. Dengan berada di tubuh Leah, ia berusaha menghindari segala hal yang menyakiti Leah (dirinya).
Masalah lain yang harus dihadapi Amber ialah mempertahankan tubuh aslinya. Dokter mengatakan bahwa ia mengalami mati otak dan tidak ada kemungkinan kembali normal. Orangtuanya sepakat untuk mendonorkan organ tubuh Amber, sesuai dengan yang ia inginkan semasa hidup.
Bagaimana cara Amber menghindari paksaan ayah Leah untuk melakukan operasi-operasi penyempurnaan tubuh? Bagaimana pula ia bisa menyelamatkan tubuhnya dalam waktu dua hari? Apakah dia berhasil
kembali ke tubuh aslinya?Masih banyak peristiwa menarik yang dialami Amber. Kesemua peristiwa yang dialami tak ubahnya se perti benang kusut yang perlahan-lahan mulai terurai, walau awalnya banyak hambatan yang menghadangnya.
Dengan kemauan keras dan bantuan neneknya, Amber sedikit demi
sedikit bisa mengatasi permasalahannya yang berat itu. Novel ini merupakan novel berseri dari The Dead Girl. Buku pertama berjudul Dead Girl Walking, buku kedua Dead Girl Dancing, dan buku terakhir
ialah Dead Girl in Love.
Walau banyak hal yang menarik dalam novel Dead Girl Walking ini, ada
sedikit kejenuhan saat membacanya. Buku setebal 400 halaman itu terlalu
lama bermain di intro, sedangkan alur berjalan cukup cepat saat cerita mulai memasuki puncak konfliknya. Namun, secara keseluruhan, Dead Girl Walking adalah bacaan remaja yang cukup menarik, menegangkan dan penuh dengan hal-hal mengejutkan.
Novel ini sarat akan makna dan pesan kehidupan. Bisa jadi kita merasa orang yang paling malang sedunia. Bisa jadi ki ta merasa bahwa seluruh kemalangan memang hanya diciptakan untuk kita.
Namun, kenyataannya masih banyak orang yang lebih malang di luar sana. Bahkan orang yang menurut kita me miliki seluruh kebahagiaan dan
keberuntungan di dunia ini terkadang juga menyembunyikan kepedihan dan
kemalangan. (*/M-1)
miweekend@mediaindonesia.com
Mengembalikan Harta Kelautan
INDONESIA sebagai negara kepulauan sudah seharusnya lebih memprioritaskan potensi dan pembangunan wilayah lautnya. Hal yang paling mendasar terutama menjaga kedaulatan maritimnya.

Namun setelah merdeka, bidang kelautan diperlakukan seperti anak tiri. Penyerobotan yang dilakukan kapal-kapal asing baik untuk keperluan militer maupun ekonomi menjadi hal yang dianggap wajar dan tak terkendali. Perairan Indonesia masih kedodoran di sana-sini dan seperti tak bertuan.
Salah satu yang ditawarkan dalam buku ini–untuk membangun kelautan Indonesia–ialah melakukan reformasi birokrasi kelautan termasuk mengatasi tumpang tindih peraturan warisan pemerintah lalu.
Kehadiran wadah tunggal yang multifungsi mutlak diperlukan. Hal itu berguna untuk menjaga keamanan, keselamatan, dan menghindari pihak lain yang hendak mencuri hasil kekayaan laut Indonesia. Dalam buku Tahun 1511-Lima Ratus Tahun Kemudian, ada sebuah pemetaan. Yakni, sebuah benang merah untuk membangun kejayaan kelautan Indonesia, terutama di masa sekarang dan masa depan.
Buku setebal 247 halaman ini ditulis Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Laksamana Madya TNI Y Didik Heru Purnomo bersama 33 wartawan dari berbagai media massa.
“Laut kita belum terjaga keamanannya dengan baik. Lewat buku ini, semua pihak bisa belajar untuk menjaga keamanan dan keselamatan laut dengan maksimal,” ujar Didik dalam pengantarnya.
Akibat masih lemahnya pengelolaan laut, sengketa mengenai batas laut sering mencuat terutama dengan negara tetangga. Sebut saja wilayah laut Indonesia yang ada di Sumatra Utara yang berbatasan dengan Selat Malaka, sering terjadi gesekan di sana.
Sekadar contoh, kasus yang terjadi pada 27 Mei 2011 saat terjadi penangkapan dua kapal berbendera Malaysia. Ada kesalahpahaman antara Angkatan Laut Diraja Malaysia dan Angkatan Laut RI di seputar wilayah perbatasan.
Tiap pihak memiliki versi. Indonesia menganggap Malaysia sudah melanggar batas NKRI, sedangkan Malaysia menganggap masih berada di perairan mereka, (hal 89).
Catatan lain yang menunjukkan lemahnya pengelolaan wilayah laut nasional ialah banyaknya kasus pencurian ikan, penambangan pasir, illegal logging, transshipment, perdagangan orang, penyelundupan narkoba, dan subversi.
Untuk mengantisipasi permasalahan itu, perlu adanya badan tunggal yang memiliki fungsi koordinasi dan operasi wilayah kelautan. Jadi bisa dibayangkan jika wilayah kelautan Indonesia itu dikelola tanpa koordinasi, mengingat Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki pulau sekitar 17.506 dengan luas 5,7 juta kilometer persegi atau dua pertiga bagian wilayah NKRI, dengan panjang pantainya 81 ribu km.
Bakorkamla
Sudah menjadi hal yang mutlak jika pengelolaan wilayah (laut) setiap negara memerlukan dukungan teknologi canggih. Hal itu mengingat, dalam realitasnya, pertahanan laut yang mengandalkan kekuatan militer saja masih minim. Terlebih secara geografis, tidak sedikit pulau yang menjadi wilayah kedaulatan RI tak berpenghuni.
Pembentukan Bakorkamla didasari kebutuhan untuk menjaga integritas negara hingga menjaga aset-aset kelautan.
Kehadiran Bakorkamla sangat relevan untuk menguatkan tuntutan objektif di tingkat internasional. Sebagai anggota International Maritime Organisation (IMO) sejak 1959, Indonesia diwajibkan menetapkan instansi yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan maritim. PE (Iwa/M-1)
Bermain Aman di Tema Abadi
Pertimbangan penerbit untuk memilih dan mencetak buku-buku motivasi lebih disebabkan pasar pembaca (buku) di Tanah Air yang susah ditebak.
Soelistijono
DATANGLAH ke toko-toko buku. Jangan heran jika Anda akan disuguhi banyak judul buku yang mengulas dan bertema tentang motivasi dan pengembangan diri. Sebagian besar buku jenis how to itu berada di rak atau tempat khusus sebagai buku terlaris (bestseller) dan buku baru.
Sekadar menyebutkan judul, Kata-Kata Inspiratif Mario Teguh, Buang Rasa Jenuh Anda, Kisah Manusia Pembawa Ember dan Manusia Pipa, Berfikir Benar Berfikir Positif, Merenungi Ayat-Ayat Inspirator, Dari tidak Bisa Menjadi Bisa, hingga Kumpulan Artikel Motivasi dan Pengembangan Diri adalah beberapa buku motivasi yang menarik minat pengunjung.
Meski tidak selalu dibeli, buku-buku itu cukup membuat pengunjung berhenti dan membolak-balik beberapa halamannya.
“Sebenarnya materi-materi yang ditulis di buku motivasi semuanya ada di kitab-kitab suci, ya. Cuma menariknya, pengarang mengaitkannya dengan pengalaman nyata dan kondisi masyarakat modern yang ada saat ini,” ujar Anik, seorang pengunjung yang ditemui di Toko Buku Gramedia, Puri Indah Mal, Jakarta Barat, Kamis (5/1).
Siang itu, ia tampak serius membolak-balik halaman buku Kiat-Kiat Pede untuk Meningkatkan Percaya Diri karya Ros Taylor, yang dicetak Gramedia Pustaka Utama pada Juni 2011.
Pelopor
Pada dasarnya pesan dari berbagai buku motivasi tidaklah jauh berbeda, yakni menginginkan para pembaca memetik manfaat dari bab demi bab untuk membangun spirit jiwa dan membantu meningkatkan kualitas hidup.
Buku The Seven Habits of Highly Effective People yang ditulis Stephen R Covey dan pertama kali dipublikasikan pada 1989, misalnya, sampai sekarang masih mudah dijumpai di toko-toko buku besar di Jakarta.
Buku yang masuk bestseller dan telah diterjemahkan ke 38 bahasa ini mengupas tujuh prinsip, yang bila diterapkan sebagai kebiasaan hidup akan menuntun seseorang mencapai efektivitas sejati.
Buku Covey ini boleh dikatakan pelopor buku-buku motivasi yang juga mengilhami banyak penulis lokal untuk membuat buku-buku sejenis–dengan embel-embel ‘ditambah pengalaman nyata’ dari penulisnya atau orang lain yang dijadikan narasumbernya. Buku lainnya yang juga bisa disebut sebagai ‘master’ dari buku-buku motivasi atau pengembangan diri adalah Rich Dad, Poor Dad karya Robert Toru Kiyosaki. Buku ini merupakan bagian dari seri buku-buku dan materi lain yang cenderung ‘ekonomis’ tentang motivasi. Tercatat 15 buku, yang secara akumulatif karyanya, telah terjual lebih dari 26 juta eksemplar.

Tetap diminati
Kehadiran beragam buku motivasi ini memang tak terlepas dari strategi pemasaran dan penilaian para penerbit terhadap urgensi tematik. Seperti diakui M Deden Ridwan, CEO Noura Books, Grup Mizan. Dari sisi kebutuhan, kata dia, banyak pembaca merasa mendapat sesuatu yang positif setelah membaca buku motivasi.
Karena melihat sambutan pasar yang tak pernah surut itu, sekitar 100 judul buku motivasi termasuk yang bertema agama diterbitkan. “Untuk tahun 2012 ini sedikit kami kurangi karena harus lebih selektif. Apalagi buku-buku serupa di pasar sudah banyak. Harus benar-benar unik dan punya keunggulan,” terangnya.
Ia pun menambahkan, ke depan, buku-buku motivasi yang akan diterbitkan haruslah memiliki kualitas konten yang punya diferensiasi atau unik. Konteksnya pun harus sesuai dengan kebutuhan pasar.
Beberapa buku motivasi terbitan Noura Books yang mendapat respons positif pasar antara lain The Ultimate Happiness, 10 Jalan Sukses: Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada (karya Akbar Zainuddin), Ayah Edy Menjawab (karya Ayah Edy), Kisah Secangkir Kopi (Melani Subono), dan Mestakung (Yohanes Surya).
Rata-rata buku tersebut terjual di atas 30 ribu eksemplar. Buku Mestakung bahkan terjual lebih dari 50 ribu eksemplar. Deden pun mengakui, pada 2011, buku-buku motivasi dan pengembangan diri tercatat sebagai buku paling laris.
Tidak basi
Kondisi pasar yang cukup bagus itu pada akhirnya mengundang penerbit baru untuk bermain di tema tersebut. G Hersan Mulyatno dari Penerbit Indo Camp, yang sebelumnya tidak bermain di segmen itu, pada 2011 menerbitkan 10 buku bergenre motivasi.
“Selain respons pasar yang positif, pertimbangan kami buku-buku jenis motivasi bersifat timeless atau temanya tidak pernah basi. Hampir sama dengan novel,” kata dia.
Dari kalkulasi bisnis, meski angka penjualan jarang yang ‘meledak’, rata-rata dalam waktu tiga tahun selama satu masa penerbitan, bisa dipastikan sudah meraup untung.
Karakter buku motivasi juga berbeda dengan buku-buku bergenre teori, budaya, atau di kalangan penerbit biasa disebut ‘buku berat’. Pangsa pasar buku-buku jenis ini sangat terbatas dan temanya cepat out of context. Bahkan untuk tahun ini, pihaknya berminat mencetak lebih banyak lagi buku bergenre ini.
BELAKANGAN ini, ‘demam Korea’ semakin menggila di Tanah Air. Semua yang berbau Korea menjadi laris manis. Mulai drama, lagu-lagu, hingga pakaian dan makanan, semua serba-Korea.
Kini yang terbaru, industri buku ikut terjangkit demam Korea. Berbagai buku dan majalah yang membahas Korea bertebaran di rak-rak toko-toko buku.
Rasa Korea hadir dalam balutan novel, resep masakan, panduan wisata, dan pembelajaran bahasa Korea. Adapun yang paling dicari ialah buku tentang boy band dan girl band ‘Negeri Ginseng’.
Buku seperti itu biasanya membahas seluk-beluk sebuah boy/girl band Korea. Uniknya, penggarangnya ialah penggemar setia artis tersebut. Mereka melakukan berbagai riset untuk menghasilkan buku.
Sebutlah buku karya Yu Kigoshi, The Secret of Suju, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Selain menulis profil lengkap 13 anggota Super Junior, Kigoshi menulis rahasia kehidupan para anggota Suju dengan mewawancarai keluarga, teman, guru, bahkan pelatih vokal mereka sejak masa training.
Hasilnya, cerita yang jarang ditemui ini menjadikan buku Kigoshi laris manis.
Seolah merasa tertantang, penggemar Indonesia pun berlomba-lomba membuat buku serupa. Muncullah buku-buku unofficial berupa informasi tidak resmi (bukan dari manajemen atau sang artis langsung) yang ditulis penggemar.
Buku-buku tersebut antara lain Super Junior Power karya Fajar Andi, Hello SHINee (Shin), Shining SHINee (Wahyu Medi), Girls Generation (Septyandini), Girls Generation: The Story of SNSD (Sari Yuanita), dan Korea Fever (Antrie dan Sitta).
Rata-rata buku itu terbit pada pertengahan sampai akhir tahun 2011. Beberapa toko buku memajang buku unofficial ini di rak rekomendasi. Hasilnya bisa ditebak, penggemar menyerbu, terutama kalangan remaja.
Manfaatkan fanpage
Buku-buku boy/girl band Korea itu biasanya berisi profil anggota dilengkapi perjalanan karier mereka, keluarga mereka, masa-masa menjalani training, kisah cinta, dan couple sahabat dalam satu grup.
Tak ketinggalan, ada beragam foto, lirik lagu, informasi album, penghargaan yang mereka raih, iklan-iklan yang mereka bintangi, dan sebagainya. Demi menarik minat, ada buku yang melampirkan bonus berupa stiker, poster, foto anggota, bahkan CD tutorial tarian dan lagu-lagu mereka.
Informasi seputar artis tersebut biasanya didapat penulis dari banyak situs dunia maya. Penulis juga tergabung dalam sebuah fanpage, yaitu komunitas penggemar di jejaring sosial. Keuntungan penulis dari fanpage ialah mereka melibatkan banyak orang untuk memilah informasi. Bahkan banyak di antara informasi itu yang sudah pernah dipublikasikan lewat fanpage mereka. Tim penulis tinggal menyusunnya saja dan jadilah buku.
Dalam setahun terakhir, kisah boy/girl band yang dibukukan penggemar mereka masih didominasi tiga boy/girl band asuhan SM Entertainment, manajemen boy/girl band papan atas Korea.
Mereka yaitu Super Junior, SHINee, dan Girls Generation atau SNSD. Ketiga band itu tak hanya sukses di Korea, tetapi juga sampai ke negara Asia lain, Eropa, hingga Amerika.
Jumlah penggemar mereka di Indonesia menembus angka jutaan orang. Tak salah jika tema buku-buku paling banyak berkaitan dengan mereka. Apakah Anda tertarik membuat buku tentang boy/girl band lain?









