Sebuah studi yang dilakukan di Jepang baru-baru ini menemukan bahwa "> Sebuah studi yang dilakukan di Jepang baru-baru ini menemukan bahwa , hidup sehat, sex, cantik, kesehatan, makanan, gaya hidup, terapi penyakit, info obat, pengobatan alternatif, jurnal kesehatan, berita, aktual, editorial, politik, kriminal, olahraga, polkam, ekonomi, hukum, nusantara, jabotabek, sains, teknologi, keamanan, hiburan, entertain, artist, sby, lapindo, internasional, tsunami, gempa, gempa bumi, longsor, pariwisata, sepakbola, humaniora, asian games, sea games, olimpiade, pemilu, pilkada, gubernur, kepala daerah, bupati, wali kota, walikota, dpr, mpr, menteri, negara, presiden, wapres, kala, metrotv, paloh, surya paloh">
Kamis, 18 Desember 2008 18:00 WIB
Tinggal dengan Keluarga Besar Picu Sakit Jantung
Penulis : Ikarowina Tarigan

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Tinggal dengan Keluarga Besar Picu Sakit Jantung

news.google.com/images

Sebuah studi yang dilakukan di Jepang baru-baru ini menemukan bahwa tinggal bersama sejumlah anggota keluarga dari generasi yang berbeda meningkatkan risiko penyakit Jantung pada perempuan.

Perempuan-perempuan yang tinggal dan hidup dalam sebuah rumah tangga yang dihuni oleh beberapa generasi, termasuk anak-anak dan kakek/nenek, memiliki risiko 2-3 kali lebih banyak mengalami penyakit jantung serius daripada perempuan yang hanya hidup dengan suaminya.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Osaka dan dilaporkan di Online Issue of Heart edisi 11 Desember. Penelitian yang diikuti oleh 91.000 keluarga selama 14 tahun ini menunjukkan bahwa peningkatan risiko seperti ini tidak terlihat pada laki-laki.

Walau tidak satu pun peserta mengalami penyakit yang serius seperti kanker, kelainan jantung atau stroke saat studi dimulai, para peneliti menemukan bahwa saat meminitor periode akhir di tahun 2004, 671 orang sudah didiagnosa mengalami penyakit arteri koroner dan 339 orang telah meninggal karena penyakit jantung koroner.

Para peneliti mengatakan, hidup bersama dengan keluarga dari generasi yang berbeda tidak meningkatkan kebiasaan yang merugikan seperti merokok dan minum minuman keras. Sebagai contoh, hanya 2.7% dari perempuan yang hidup dengan suami, anak, serta orang tua, merokok, dibandingkan dengan 6.3% perempuan yang hanya hidup dengan suaminya.

Para peneliti mengatakan, peningkatan risiko ini disebabkan oleh tingkat stres karena perempuan tidak hanya bertanggungjawab mengurus rumah tangga tetapi juga harus bekerja.

"Sebagian besar perempuan jepang di usia pertengahan bekerja penuh," tulis mereka."Tetapi beban rumah tangga (termasuk pemeliharaan anak dan orangtua) tetap menjadi tugas utama perempuan, walaupun partisipasi mereka dalam dunia kerja juga meningkat."

Dr. Suzanne Steinbaum, direktur women and heart disease di Lenox Hill Hospital di New York City, mengatakan, pola seperti ini juga terjadi di Amerika."Saya membicarakan hal ini sepanjang waktu," tambahnya.

"Perempuan semakin terdidik dan lebih berperan dalam dunia kerja, tetapi dari sudut pandang budaya, perempuan tetap menjadi orang yang berperan memelihara keluarga."

Steinbaum mengatakan, karena perempuan tidak hanya mencari uang dengan bekerja tetapi juga harus memelihara keluarga besar, maka tingkat stres dan tekanan yang dialaminya lebih besar. "Situasi ekonomi sekarang juga merupakan penambah stres, karena keluarga berusaha menekan biaya pengeluaran," kata Steinbaum.
MORE INFO
Rabu, 23 Mei 2012 16:40 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 12:30 WIB
Senin, 21 Mei 2012 15:48 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 09:30 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 11:45 WIB
Kamis, 17 Mei 2012 16:10 WIB
Kamis, 17 Mei 2012 12:20 WIB
Rabu, 16 Mei 2012 15:50 WIB
Senin, 14 Mei 2012 16:30 WIB
Senin, 14 Mei 2012 09:15 WIB
12 Mei 2012 09:15 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 16:15 WIB
image image image image image