ANDA sering kesal dan merasa dikungkung stres setiap harinya? Mulailah menghadapi dan mengatasi emosi kekesalan Anda dengan cara yang lebih positif. Pasalnya, membiarkan diri terbelenggu emosi akan membuat Anda berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung. "> ANDA sering kesal dan merasa dikungkung stres setiap harinya? Mulailah menghadapi dan mengatasi emosi kekesalan Anda dengan cara yang lebih positif. Pasalnya, membiarkan diri terbelenggu emosi akan membuat Anda berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung. , hidup sehat, sex, cantik, kesehatan, makanan, gaya hidup, terapi penyakit, info obat, pengobatan alternatif, jurnal kesehatan, berita, aktual, editorial, politik, kriminal, olahraga, polkam, ekonomi, hukum, nusantara, jabotabek, sains, teknologi, keamanan, hiburan, entertain, artist, sby, lapindo, internasional, tsunami, gempa, gempa bumi, longsor, pariwisata, sepakbola, humaniora, asian games, sea games, olimpiade, pemilu, pilkada, gubernur, kepala daerah, bupati, wali kota, walikota, dpr, mpr, menteri, negara, presiden, wapres, kala, metrotv, paloh, surya paloh">
Kamis, 26 Maret 2009 10:00 WIB
Jengkel Picu Serangan Jantung
Penulis : Ikarowina Tarigan

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Jengkel Picu Serangan Jantung

rosemarysantos.com.au

ANDA sering kesal dan merasa dikungkung stres setiap harinya? Mulailah menghadapi dan mengatasi emosi kekesalan Anda dengan cara yang lebih positif. Pasalnya, membiarkan diri terbelenggu emosi akan membuat Anda berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung.

Hal ini didukung oleh studi kecil yang dilakukan peneliti dari Universitas California. Penelitian menunjukkan, remaja yang mengalami banyak stres setiap harinya akan mengalami peningkatan protein tertentu dalam darah. Protein ini bisa menyebabkan peradangan kronis. Peradangan ini selanjutnya akan meningkatkan risiko penyakit jantung seiring dengan pertambahan usia.

dr. Andrew J. Fuligni dan teman-temannya meneliti 69 siswa sekolah menengah atas. Peneliti merekam semua interaksi interpersonal negatif dari para partisipan selama 2 minggu. Interaksi negatif ini bisa berupa konflik dengan keluarga, gangguan dari teman, atau teguran dari guru-guru. Selanjutnya, para peneliti mengukur kadar protein reaktif-c dalam darah partisipan sekitar 8 bulan kemudian.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, kadar protein reaktif-c yang tinggi merupakan pertanda kemungkinan terjadinya peradangan pada tubuh. Hal ini kemudian akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada orang dewasa.

Para peneliti menemukan, kadar protein reaktif-c meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi stres harian yang melibatkan orang lain. Hasilnya tetap sama, bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor tingkat perbedaan sensitivitas setiap partisipan terhadap penolakan, situasi-situasi yang penuh tekanan dalam kehidupan sehari-hari, dan sumber stres lainnya.

"Kejadian yang mengesalkan dan menyulitkan seperti bertengkar dengan anggota keluarga atau teman bisa berdampak buruk bagi kesehatan, khususnya jika sering terjadi selama rentang waktu tertentu," terang Fuligni seperti yang dikutip oleh foxnews.com.

Dalam studi yang dipublikasikan di  journal Psychosomatic Medicine ini, Fuligni dan teman-temannya menekankan konsistensi hasil penelitian dengan sejumlah bukti yang mengaitkan stres dengan peningkatan peradangan."Peradangan ini selanjutnya akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular," terang meraka.
MORE INFO
Senin, 21 Mei 2012 12:30 WIB
Rabu, 16 Mei 2012 13:20 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 09:10 WIB
05 Mei 2012 15:35 WIB
05 Mei 2012 13:00 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 14:00 WIB
Selasa, 01 Mei 2012 12:45 WIB
28 April 2012 13:10 WIB
Rabu, 25 April 2012 15:40 WIB
Selasa, 24 April 2012 15:00 WIB
Selasa, 24 April 2012 09:15 WIB
Selasa, 17 April 2012 14:00 WIB
image image image image image