Minggu, 03 Mei 2009 10:00 WIB
Penanganan Kanker Anak Kerap Terlambat
Penulis : Eni Kartinah

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Penanganan_Kanker_Anak_Kerap_Terlambat

tuberose.com

KANKER menyerang tanpa memandang usia. Anak-anak juga bisa terkena penyakit yang menjadi momok masyarakat ini. Namun, satu hal yang menggembirakan, kanker pada anak relatif lebih mudah disembuhkan.

Menurut dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof dr Djajadiman Gatot SpA(K), angka kejadian kanker anak secara internasional adalah 122 per sejuta anak (di bawah 17 tahun). Jumlahnya 1%-2% dari seluruh penyakit kanker.
''Di RSCM, tiap tahunnya 130-150 kasus baru dari berbagai jenis kanker ditangani,'' ujar Djajadiman di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jenis kanker yang menyerang anak beragam. Yang paling banyak adalah leukemia atau kanker darah, jumlahnya mencapai sepertiga dari keseluruhan kanker pada anak. Jenis kanker lainnya adalah kanker padat seperti tumor otak, limfoma, tumor pada tulang, otot, ginjal, mata, dan lain-lain.

Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, lanjut Djajadiman, penyebab kanker pada anak lebih karena faktor genetik atau keturunan. Hal itu memberi kemudahan tersendiri bagi upaya penyembuhan.

''Kanker pada anak relatif lebih mudah disembuhkan, sekitar 70% anak dengan kanker bisa diobati dan disembuhkan. Sementara itu, kanker pada orang dewasa, pengaruh faktor lingkungan lebih banyak sehingga lebih sulit dikendalikan,'' jelas Djajadiman.

Meski demikian, pada kanker anak tetap berlaku prinsip bahwa semakin dini kanker ditemukan dan diobati, semakin besar tingkat kesembuhannya. Yang menjadi persoalan, deteksi dan penanganan dini tersebut ternyata sulit diterapkan karena berbagai kendala.

Spesialis anak FKUI/RSCM dr Endang Windiastuti SpA pada kesempatan yang sama mengungkapkan, sejauh ini sebagian besar pasien kanker anak di RSCM datang dalam kondisi stadium lanjut, yakni pada stadium tiga atau empat, ketika kanker sudah menyebar. Akibatnya, pengobatan menjadi lebih sulit dilakukan.

Data 2000-2006 Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM menunjukkan, dari 973 anak penderita kanker yang dirawat, sebanyak 27% meninggal, 42% masih hidup dan tetap dalam pengawasan, sedangkan 31% tidak dapat diikuti lagi.
Keterlambatan deteksi dan pengobatan dini tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Antara lain minimnya pengetahuan orang tua dan karakteristik anak yang belum bisa mengeluhkan gejala sakit secara spesifik.

''Paling-paling si anak tiba-tiba tidak mau makan, rewel. Orang tua mungkin tidak akan mengira hal itu berhubungan dengan gejala kanker sehingga lengah,'' terang Endang.

Selain itu, minimnya tenaga ahli juga menjadi kendala terutama di daerah. Di seluruh Indonesia saat ini jumlah dokter spesialis anak konsultan baru ada 19 orang. Padahal, penatalaksanaan kasus kanker anak membutuhkan tenaga konsultan tersebut.

Kendala dana
 
Kendala lain adalah minimnya dana, terutama pada keluarga pasien golongan ekonomi lemah. Kendala dana itu semakin terasa berat untuk pasien berasal dari luar daerah. Pasalnya, selain membutuhkan biaya perawatan dan obat-obatan, juga dibutuhkan biaya untuk transportasi dan penginapan. Data di RSCM menunjukkan pada 2001-2008, pasien dari daerah jumlahnya sekitar 17% dan di RS Kanker Dharmais jumlahnya 29%.

Biaya transportasi dan menginap kerap kali tidak terhindarkan mengingat pengobatan kanker membutuhkan waktu yang lama dan harus bolak-balik kontrol. Pengobatan leukemia misalnya, dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahap pertama, pembasmian sel leukemia dengan kombinasi obat-obatan antikanker membutuhkan waktu rawat inap sekitar enam minggu. Bila perkembangannya bagus, pengobatan dilanjutkan dengan tahap pemeliharaan dengan berobat jalan. Seluruh rangkaian pengobatan itu berlangsung selama minimal dua tahun.

''Soal biaya obat-obatan dan perawatan, saat ini ada jamkesmas yang bisa dipakai untuk membebaskan pasien dari beban biaya tersebut. Namun, masih ada beberapa jenis obat yang belum masuk daftar jamkesmas,'' kata Endang.
Persoalan serius lain yang juga menjadi kendala adalah minimnya sarana perawatan. Menurut Endang, di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM saat ini, untuk perawatan kelas III hanya tersedia 16 tempat tidur dan di kelas II ada 6 tempat tidur. Jumlah itu jauh dari cukup. Mengingat, untuk kasus leukemia saja setiap pekan datang 10-15 pasien baru.

''Banyak yang terpaksa tidak bisa ditampung sehingga terlambat ditangani,'' imbuh Endang.

Belum lagi soal sarana perawatan yang tidak memadai. Pasien leukemia ditempatkan bersama pasien penyakit lain. Padahal idealnya, mereka dirawat dalam ruang khusus. Sebab dalam periode pengobatan ada fase saat daya tahan tubuh pasien sangat lemah sehingga rentan terhadap infeksi. ''Memang, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi,'' tutur Endang.


MORE INFO
Senin, 21 Mei 2012 12:30 WIB
Rabu, 16 Mei 2012 13:20 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 09:10 WIB
05 Mei 2012 15:35 WIB
05 Mei 2012 13:00 WIB
Rabu, 02 Mei 2012 14:00 WIB
Selasa, 01 Mei 2012 12:45 WIB
28 April 2012 13:10 WIB
Rabu, 25 April 2012 15:40 WIB
Selasa, 24 April 2012 15:00 WIB
Selasa, 24 April 2012 09:15 WIB
Selasa, 17 April 2012 14:00 WIB
image image image image image