Minggu, 09 Mei 2010 09:05 WIB
Oseng-Oseng Mercon Bu Narti
Penulis : Iis Zatnika

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Oseng Oseng Mercon Bu Narti

MI/Sem Purba

BUAT penyuka makanan pedas, warung Oseng-oseng Mercon Bu Narti ini bisa jadi tempat pelarian sejenak setelah jenuh dengan sajian serba manis ala Yogyakarta. Namun, Bu Narti, sang pemilik tempat makan yang berada di Jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta ini ternyata tetap berkompromi dengan lidah masyarakat lokal.

Rasa manis masih tersisa. Eksis diantara serbuan rasa panas menyengat dari cabe yang menyerbu mulut ketika kita melahap oseng-oseng berisi lemak dan daging sapi ini.
 
Pedasnya berani, rasa manisnya juga dominan. Oseng-oseng mercon boleh dibilang sebagai sajian yang telah melegenda di Yogyakarta sejak 1997 ini. Keberadaannya seakan menghapus kesan bahwa semua masakan Jawa Tengah berselera manis.

Merasa diri cukup mumpuni dengan makanan pedas, maka tantangan untuk bersantap di tempat ini kami penuhi saat bertandang ke kota pelajar belum lama ini.

Namun, ternyata yang terjadi sungguh di luar dugaan. Nyaris tak ada suapan yang tak meninggalkan rasa pedas meggigit di lidah. Huh, hah.

Bu Narti yang masih setia menunggui warungnya berujar rasa masakannya itu berpatokan pada rasio 10 banding dua. Artinya jika memakai 10 kg daging, maka ia mencampur dua kilogram cabe rawit ke dalamnya.

Kini, walaupun menu rekaannya telah banyak diduplikasi pedagang-pedagang lain yang juga memasang tenda di Jalan Ahmad Dahlan, Bu Narti bisa menghabiskan minimal 20 kg daging setiap harinya.

Bumbu lainnya, kata perempuan yang merintis usahanya sebagai pedagang di kantin sekolah ini, tak jauh beda dengan masakan ala Yogya lainnya, tentu saja melibatkan bawang, rempah-rempah dan gula.

Ada asyiknya makan di warung Bu Narti saat memerhatikan para pengunjung yang kalap menyantap air teh setiap kali selesai mengunyah oseng-oseng berwarna merah  berani ini. Kebanyakan KO di tengah jalan. Oseng-oseng mereka, dan juga kami, tersisa hampir setengahnya. Sementara nasinya, yang disajikan dalam porsi minimalis, tentu saja tandas habis!

Catatan lainnya, masuk ke warung ini Anda harus berani berhadapan dengan lemak daging sapi yang mendominasi piring. "Memang kita lebih banyak pakai koyor atau lemak sapi," kata Bu Narti.

Dominasi lemak sapi ini juga membawa konsekuensi. Jika tak cepat-cepat menghabisi oseng-oseng ini, piring Anda yang saat datang berisi daging berlumur lemak, akan berubah jadi daging berselimut lapisan putih lemak yang membeku.

Solusinya, agar sajian ini tak terbuang percuma, bisa berbagi dengan partner Anda. Cukup pesan satu piring buat berdua, dan minta goreng ayam atau puyuh bacem yang juga dijual di warung ini.

Tentu, karena namanya saja sudah bacem, dan Anda berada di Yogyakarta, rasa kedua sajian ini juga tak jauh-jauh dari rasa manis. Tips lainnya, sebaiknya temani sang oseng-oseng dengan air teh hangat. Tentu saja, karena air es memang terasa sejuk di mulut ketika Anda kepedasan.

Kendati bikin lidah panas, nyatanya warung ini punya banyak pelanggan penduduk lokal dan tentunya para turis nusantara yang ingin membuktikan legenda kepedasan makanan ini. Tak jarang, berbungkus-bungkus makanan ini mereka bawa ke kota asal, melintasi kota bahkan pulau.

Kendati menikmatinya berpuluh bahkan ratusan kilometer dari warung Bu Narti di pinggir jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta, namun tentu saja efek yang ditimbulkan saja, pedaaaas! (Zat/M-1)
 
Foto Gallery
MI/Sem Purba

MORE INFO
Minggu, 18 Juli 2010 09:22 WIB
Rabu, 14 Juli 2010 14:00 WIB
Minggu, 04 Juli 2010 10:46 WIB
Selasa, 29 Juni 2010 13:57 WIB
Minggu, 27 Juni 2010 09:14 WIB
Minggu, 20 Juni 2010 12:39 WIB
Kamis, 17 Juni 2010 10:15 WIB
Rabu, 16 Juni 2010 10:15 WIB
Kamis, 10 Juni 2010 15:15 WIB
Minggu, 06 Juni 2010 09:58 WIB
Minggu, 23 Mei 2010 09:25 WIB
Minggu, 23 Mei 2010 08:51 WIB
image image image image image