Minggu, 11 Juli 2010 09:29 WIB
Menjelajahi Ekstrimnya Kuliner Nusantara
Penulis : Viny Mariyane

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Menjelajahi Ekstrimnya Kuliner Nusantara

MI/Viny Mariyane

PENGHUJUNG pekan lalu, pelataran Plaza Selatan, Senayan Jakarta, seakan disulap menjadi pasar anekamakanan. Segala jenis menu yang berasal dari berbagi darah di Indonesia, ada di sana. Siap disantap oleh para pengunjung yang datang ke acara bernama, 'Festival Jajanan Bango' itu.

Suasana di sana, riuh dengan kedatangan masyarakat ibukota yang penasaran dengan makanan unik yang tidak setiap hari dapat mereka temui dengan mudah. Maklum, di festival terebut didatangkan langsung 7 masakan, langsung dari tempat kediamannya di pelosok Tanah Air. Yakni, Soto Ahrie Garut, Mie Sate Mamang Ayep Medan, Lontong Balap Pak Gendut Surabaya, Mie Koclok Mas Edi Cirebon, Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea Bandung, Timlo Sastro Solo, dan Pedesaan Entog Bang Combat Khas Indramayu. Serta puluhanan masakan dan jajanan populer berbahan dasar kecap.

Bersiaplah terkejut dengan ekstrimnya variasi rasa kuliner Indonesia yang tersedia di festival makanan tahunan itu. Setidaknya itulah yang dirasakan lidah kami saat mencoba pedesan entok, mi ayam sate, timlo, dan sate tulang Edolardo. Mari ikutan menikmati serunya perubahan rasa di lidah kami.

Pedesan Entok yang Nyess
Petualangan rasa kami mulai dengan pedesan entok. Makanan khas Indramayu ini benar-benar menantang Anda yang mengaku suka dengan masakan pedas. Bagaimana tidak? Suapan pertama lidah anda akan langsung merasakan kumpulan rempah yang menyengat di mulut.

"Hampir semua rempah yang saya kenali saya masukkan. Mulai dari Saang (semacam lada), kunyit, kemiri, jahe, pala, kayu manis, cengkeh, semua dimasukkan. Ditambah daun jeruk, dan tentunya cabe merah dan cabe rawit," ujar Desy pemilik warung makan pedesan Entok selama lebih dari 15 tahun di Indramayu.

Tapi, hati-hati pedesan ini bisa menjebak Anda. Pasalnya ia tak langsung mengejutkan Anda dengan rasa pedas di suapan pertama. Setidaknya, baru pada suapan ketiga lidah Anda akan mulai memberontak, meminta air lantaran si rempah baru mulai beraksi. Perut anda pun mulai panas dihantam si cabai merah dan rawit.

"Di situ nikmatnya, jadi pedasnya memang tidak langsung, tapi nyess dulu begitu di mulut dan perut," tutur Dessy menjelaskan sensasi di mulut kami.

Kenikmatan itu, ditambah lagi dengan rasa entok, yang lebih mirip ayam dibandingkan bebek. Si bebek "kampung" itu bagi Desy memang tak bisa digantikan dengan daging manapun. "Kalau diganti ayam, beda rasanya, apalagi ayam negeri, wah bisa hancur direbus lama, tapi kaldunya tidak keluar," tandasnya.

Tak hanya nikmat setengah berbisik Dessy memberitahukan kami khasiat entok yang bisa membugarkan dan meningkatkan gairah seks. "Yah obat kuat gitulah," ujarnya seraya tersenyum.

Udang Manis di Balik Mi Sate
Setelah berhasil menetralkan rasa pedas, saya langsung melirik warung di sebelahnya yang namanya sudah mengundang penasaran, mi sate. Memang bukan lontong atau nasi, melainkan mi kuning berkuah khas medan yang besar dan tebal yang menjadi peneman Sate.

Gigitan pertama daging sate, lidah saya langsung terkejut. Bukan rasa manis kecap ataupun pedas yang keluar dari daging, melainkan rasa manis yang lebih mirip gula merah.

"Kuahnya kami racik sendiri dengan bumbu rahasia turun temurun. Saya sudah berjualan sejak tahun 1945. Ini sudah generasi ke-4." cerita sang kakek Mamang Ayep yang masih terlihat bugar.

Meski yang kami makan daging ayam, aroma udang terasa kuat. Pantas saja sate dan mie ditaburkan udang kering yang dihancurkan. Kuahnya juga ditambahkan tumbukan udang. Kalau bosan dengan daging ayam, Sang Kakek Mamang Ayep bersedia mengantinya dengan daging lainnya.

Timlo Gurih Yang Buat Ketagihan
Terkaget-kaget dengan dua rasa yang ekstrim, kami melirik semangkuk timlo yang siap disantap seorang ibu dan putrinya. Kuah beningnya membuat kami bertanya, kira-kira rasa ekstrim apa yang disembunyikan oleh si timlo ini. Tidak tahan kami pun mencicip timlo khas kota Solo tersebut sembari meminta penjelasan masakan timlo yang kurang familiar di telinga penduduk Jakarta.

Anggukan saya terhadap cerita Paka Sastro terhenti seusai menyeruput kuah bening hasil rebusan ayam kampung. Rasanya seperti menyeruput sup ayam yang super gurih."Kuahnya itu ya air rebusan ayam kampung, tidak saya tambah apa-apa, hanya saya kasih garam," tutur pak Sastro yang semakin membuat saya terpenrangah.

Keaslian rasa ayam itu, berpadu dengan potongan daging ayam, ampela, ati, telur rebus yang dipakaikan kecap kental dan dikeringkan serta sosis ayam yang digoreng kering dan tipis menyerupai kerupuk, dijamin anda pasti ketagihan. Paduan itulah yang ternyata disebut timlo.

"Yang membuat tambah sedap ya ini, sambal kecap. Sambal terasi ulek yang dikasih kecap, tambahkan perasan jeruk nipis di timlo, mantap ini," ujar Pak Sastro yang murah senyum itu.

Kriuk-kriuk Tulang yang Ditusuk
Penjelajahan kami mengelilingi bagian Selatan Senayan hari itu kami akhiri dengan perjuangan menggerogoti tulang yang ditusuk bak sate. Meski tak langsung didatangi dari Menado, sate tulang Edolardo dibuat dari resep asli Menado yang sudah turun-temurun.

"Ini sebenarnya resep asli dari nenek saya yang asli Menado. Tulang yang dipilih adalah tulang punggung ayam, karena ini yang paling pas buat ditusuk, karena banyak rongganya. Citra rasa tulang punggung juga berbeda dengan bagian laim tubuh ayam," jelas Eldorado pemilik kios sate tulang di bilangan Jakarta Utara.

Rasa manis dan pedas si tulang memang pas. Tapi jangan kaget, saat asik-asiknya menikmati sate, mulut anda harus sedikit berolahraga menyisihkan tulang dari dagingnya. Cabe pelengkapnya cukup sederhana bahannya hanya cabe giling dan tomat, serta kecap yang dipisahkan di sebelahnya. (M-5)
Foto Gallery
Mie Sate Mamang Ayep Medan ---MI/Viny

Timlo Sastro---MI/Viny

Pedesan Entok Bang Combat ---MI/Viny

Sate Tulang Eldorado--MI/Viny

MORE INFO
Minggu, 25 Juli 2010 11:53 WIB
Minggu, 18 Juli 2010 15:23 WIB
Minggu, 18 Juli 2010 11:15 WIB
Minggu, 04 Juli 2010 11:12 WIB
Minggu, 27 Juni 2010 13:08 WIB
Minggu, 27 Juni 2010 10:17 WIB
Jumat, 25 Juni 2010 13:05 WIB
Kamis, 24 Juni 2010 10:05 WIB
Selasa, 22 Juni 2010 12:20 WIB
Minggu, 20 Juni 2010 10:56 WIB
Minggu, 13 Juni 2010 12:52 WIB
Minggu, 13 Juni 2010 10:10 WIB
image image image image image