Perjalanan
Kamis, 17 September 2009 16:13 WIB
Menyusuri Kota Batik Dengan Captiva
Penulis : Chadie

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Menyusuri Kota Batik Dengan Captiva

MI/Chadie

PENERBANGAN Garuda bernomor registrasi GA220 dari Jakarta melakukan touch down dengan mulus di lantai aspal landas pacu Bandara Internasional Adi Sumarmo Solo disambut hangatnya mentari pagi yang belum genap menunjukkan waktu pukul 8.00 WIB, Jumat (11/9).

Media Indonesia bersama Direktur Marketing PT GM AutoWorld, Debora Amelia Santoso dan rekan jurnalis dari The Jakarta Post bergegas menuju pelataran parkir bandara. Tak berapa lama sosok Chevrolet Captiva hitam menjemput kami menuju Hotel Novotel.

Setelah menitipkan barang bawaan di Novotel, kami meningalkan hotel memanfaatkan waktu luang sebelum meliput acara peresmian diler Chevrolet di kota itu pada malam harinya. Kami pun memasuki interior Captiva 2.4 liter dengan pelapis kulit berwarna coklat tua.

Berbekal peta sederhana dan petunjuk dari resepsionis hotel, kami mulai menyusuri indahnya kota Solo dengan bangunan-bangunan tua berarsitektur gaya kolonial yang banyak bertebaran di kota batik itu. Kota yang tak terlalu besar dengan kondisi lalu lintas lancar membuat perjalanan dengan Captiva begitu mengasyikkan.

Bangunan-bangunan tua yang masih kukuh berdiri membawa angan mundur jauh ke belakang membayangkan seperti apa kondisi kota ini saat bangunan-bangunan itu baru berdiri. Kendaraan tradisional becak dengan desainnya yang khas semakin mempercantik dan memperkuat ciri kota dengan penduduknya yang sangat ramah bersahaja.

Tak terasa hari beranjak siang ditandai dengan sinar matahari yang mulai terasa menyengat di kulit. Beruntung Captiva yang kami tunggangi memiliki sistem pendingin udara yang sangat mujarab mengusir udara panas di dalam kabin. Posisi duduk dan interiornya yang nyaman membuat kami tak merasa lelah seharian berada di dalam kabinnya

Puas berkeliling kota Solo, kami pun memutuskan untuk mengunjungi sebuah pusat pengrajin batik di Kampung Wisata Batik daerah Kauman yang berlokasi di sebelah selatan kota Solo yang terpisah satu blok dari kompleks Keraton Surakarta.

Kampung pengrajin batik tradisional ini bersebelahan dengan Masjid Agung tak jauh dari Pasar Klewer tepatnya di kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Kelurahan ini berdiri di atas areal tanah seluas 20.10 hektar. Dan untuk menjangkaunya harus melewati jalan-jalan sempit yang diapit bangunan-bangunan jawa kuno bergaya Eropa.

Kampung Kauman berdiri setelah Pemerintahan Keraton Kartosuro pindah ke Desa Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Sesuai namanya Kauman merupakan tempat para kaum ulama tinggal. Karena adanya kaum yang menjadi penduduk mayoritas wilayah ini maka daerah ini disebut Kauman.

Captiva pun berhenti di pelataran parkir sebuah gerai Batik Gunawan Setiawan. Bau khas malam sebagai komponen penting pembuatan batik segera menyergap indera penciuman. Kami pun memasuki gerai yang dipenuhi beragam batik dalam bentuk kain, kemeja, celana, daster dan sebagainya.

Jenisnya ada tiga macam, batik cap, batik tulis dan gabungan keduanya, sementara bahannya menggunakan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis primisima dan prima serta rayon.

Dengan ramah seorang perempuan berparas ayu nan njawani mempersilakan kami memilih produk di gerai itu. Sebentar saja kami sudah larut dalam obrolan santai seputar batik. Media Indonesia pun tak menyia-nyiakan waktu saat ia menawarkan diri untuk mengantar kami melihat langsung proses pembuatan batik di bagian belakang gerai.  

Sejatinya, motif batik yang dihasilkan para pengrajin berasal dari motif khas keraton. Batik yang diproduksi masyarakat Kauman pada awalnya merupakan batik-batik pesanan para abdi dalem kasunanan. Seiring berjalannya waktu, motif batik pun berkembang. Batik yang dahulunya hanya didominasi warna cokelat, merah, kuning dan hitam, kini mulai hadir beraneka warna.

Pada zaman dahulu batik menggunakan bahan pewarna dari alam, seperti kulit kayu, buah dan daun.  Oleh karena itu warnanya pun terbatas. Kini jenis pewarna kimia digunakan untuk menghasilkan warna-warna cerah dan warna yang sulit didapat dari bahan alami.

Meski hasilnya nampak lebih cerah dan menyegarkan, tetap saja batik dengan pewarna alami lebih mahal dan prestise selain berkesan lebih otentik serta ramah lingkungan. Seperti tren ramah lingkungan yang tengah digalakkan di kalangan industri otomotif termasuk pada produk-produk Chevrolet.  (Cdx)





MORE INFO
Senin, 14 November 2011 08:08 WIB
Minggu, 13 November 2011 18:54 WIB
Jumat, 28 Oktober 2011 10:06 WIB
Minggu, 02 Oktober 2011 21:45 WIB
Selasa, 09 Agustus 2011 13:36 WIB
Jumat, 08 Juli 2011 08:08 WIB
Rabu, 06 Juli 2011 20:47 WIB
Bridgestone Potenza Adrenalin RE002
Minggu, 26 Juni 2011 17:15 WIB
Kamis, 16 Juni 2011 17:52 WIB
Test Drive Off-Road
Minggu, 12 Juni 2011 21:23 WIB
Mercedes-Benz G-Experience
07 Mei 2011 10:06 WIB
Jumat, 29 April 2011 09:00 WIB
Test Drive Mitsubishi Pajero Sport Dakar
image image image image image