MI/Chadie
RITME denyut jantung meningkat tajam saat saya memutar kunci kontak Mercedes-Benz E63 AMG selaras dengan raungan pendek suara knalpot yang menegaskan performa mesin yang jauh di atas rata-rata.
Sepertinya saya harus berpacu dengan jarak dan waktu untuk bisa menghindar dari zona three-in-one yang dalam beberapa puluh menit lagi segera berlaku di ruas-ruas jalan utama Ibu Kota yang semakin padat.
Di tengah kemacetan, saya mencoba rilek menikmati alunan musik yang disajikan perangkat audio Harman/Kardon berfitur Logic 7 sambil menyapu sekeliling interiornya yang memadukan unsur sporty, elegan dan kemewahan. Saya langsung membayangkan kira-kira untuk pribadi seperti apa kendaraan ini diciptakan. Tanpa saya sadari, saya melamun.
Pagi sekali aku bangun dari tidur disambut sinar matahari yang menerobos jendela kamar lewat celah-celah dedaunan. Indah sekali pagi ini setelah lebih dari sepekan otakku dipenuhi urusan sejumlah proyek penting yang baru kemarin kutuntaskan.
Sayup-sayup terdengar suara Kopral, demikian aku memanggil supirku yang asli bernama Jono, tengah asyik ngobrol dengan Mang Engkon tukang kebunku di halaman depan. Kopral yang satu ini sangat rajin dan telaten. Dan sudah kuduga, ia baru saja mencuci S350 dan siap kugunakan.
Seusai mandi dan sarapan, aku bergegas ke halaman depan. "Siap Jenderal" ujar Kopral Jono menyambutku seperti biasa sambil memberi hormat. Aku memang suka berkelakar dengan Kopral. Beda dengan Mang Engkon yang berkarakter pendiam, sehingga aku juga selalu serius dengan pria berusia 52 tahun yang bernama asli Ahmad Furqon ini.
"Mobilnya dimasukkan ke garasi saja Kopral. Saya hari ini libur, mau ketemu teman-teman di Sentul," perintahku yang langsung disambar oleh Jono dengan kalimat, "Siap Jenderal!"
Aku kembali ke dalam menuju lemari pakaian di kamar. Hari ini aku ingi melupakan setelan jasku yang setia membungkus badanku saat bekerja. Lalu kuambil celana jeans dan poloshirt yang tergantung rapi di lemari satunya kemudian memilih sepatu yacht warna coklat kegemaranku.
Di garasi nampak S 350 sudah terbungkus rapi, sementara sang Kopral sibuk membersihkan Jeep Rubicon keluaran 2006 yang biasa kugunakan saat santai. "Ha..ha..ha..ketipu kau Kopral, aku mau pakai yang ini," candaku sambil membuka selubung Mercedes-Benz E63 AMG berwarna silver di sebelah Jeep.
Tak berapa lama aku sudah menikmati ruas Jagorawi yang tak terlalu ramai Sabtu itu. Beberapa menit saja aku sudah bergabung dengan rekan-rekan yang siap menikmati adrenalin mereka di Sirkuit Sentul. Kami beriringan menuju lintasan dan siap beraksi. Tapi belum sempat aku keluar dari pit lane, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara klakson yang bertubi-tubi menghancurkan lamunanku di lampu setopan.
"Hah! Ternyata tadi itu cuma lamunan. Ini pasti akibat kesan yang berbekas saat saya dan teman-teman jurnalis mendapat kesempatan mencoba rangkaian produk Mercedes-Benz di Sentul," batinku. Tapi memang itu yang seharusnya dilakukan oleh para pemilik E63 AMG.
Tapi kalau saya boleh berkomentar tentang Mercedes-Benz E63 AMG, ini adalah mobil yang lebih tepat dipakai untuk 'bermain'. Ketika tekanan hidup kian tinggi, kendaraan ini pas untuk menyalurkan hasrat adrenalin. Dengan tata krama tentunya.
Raungannya yang khas, tak akan bisa menyembunyikan potensi mesin berkapasitas 6.3 liter V8 4-Cam 32 Valve di balik kap mesinnya yang sanggup menghamburkan 525 hp dan membombardir tubuh dengan G-Force yang dihasilkan dari kekuatan puntir mesin yag mampu mencapai angka 630 Nm.
Tidak hanya sampai di situ, E63 AMG juga dipersenjatai dengan transmisi AMG Speedshift MCT (Multi-Clutch Technology) 7-speed yang bahkan lebih cepat dibanding transmisi serupa pada SL63 AMG Roadster. Transmisi E 63 AMG memiliki kecepatan perpindahan dalam hitungan 100 milidetik.
Perpaduan semua itu membuat mesin E63 AMG mampu berakselerasi 0-100 km/jam dalam tempo hanya 4,5 detik. Sementara kecepatan puncaknya dibatasi perangkat elektronik pada angka 250 km/jam.
Dengan 4 mode (C: comfort, S: sport, S+" Sport+ dan M" manual) pengendaraan individual yang dimilikinya, transmisi ini dapat membuat hubungan langsung pada mesin yang memungkinkan pengendara secara emosional mampu merasakan pengalaman berkendara yang sangat dinamis.
Seperti lazimnya kendaraan ber-DNA kompetisi, untuk meningkatkan efektivitas tenaga saat take off mendadak, E63 AMG dibekali dengan fitur RS (Race Start) yang dapat dipilih lewat tombol selektor transmisi. Fitur ini mampu mengeliminir gejala spin yang kerap ditemui pada mesin-mesin gahar saat start.
Salah satu yang paling sulit dipercaya pada mobil berbobot sekitar 2 ton ini adalah kemampuannya saat melibas tikungan dengan cepat. Begitu pula respons pijakan pedal akselerator-nya. Gearbox MCT-nya seperti mampu membaca pikiran. Saat posisi top gear (gigi-7), ia akan menurunkan posisinya sampai drop di gigi 4 untuk membuat ledakan tenaganya kian dahsyat.
Ketika itu terjadi, hentakan yang tercipta seolah mampu membuat jiwa terlepas dan tertinggal dari raga oleh betotan G-Force yang mendera tubuh diiringi suara raungan menggelegar meletup-letup namun merdu terdengar yang keluar dari empat lubang knalpotnya.
Apakah ini berbahaya? Tergantung di mana anda menjalankan kendaraan dan seberapa kuat Anda menahan emosi. Pasalnya lebih mudah mengendalikan E63 AMG ini pada kecepatan tinggi dibanding mengendalikan debaran jantung yang terdorong oleh performa mesin yang berkarakter tempramental ini.
Kendaraan yang memiliki casing E-Class ini dilengkapi Fitur 3-stage ESP yang juga dimiliki oleh SL63 AMG dan C 63 AMG memungkinkan dilakukannya pengaturan secara individual. Tombol yang terdapat pada AMG Drive Unit memungkinkan pengguna memilih mode 'ESP ON', 'ESP Sport', dan 'ESP Off'.
Meskipun suspensi bagian belakangnya sudah menggunakan suspensi udara, jangan harap Anda akan mendapatkan kenyamanan absolut. Meskipun ia berlogo three pointed star namun Anda harus ingat bahwa ia dilahirkan dengan DNA sport murni.
Suspensinya yang keras tak akan sanggup melawan hukum alam, tetapi rasakan saat Anda memacunya pada kecepatan tinggi. Semakin tinggi kecepatan yang Anda capai, semakin membuat kendaraan ini merapat dengan aspal, dan inilah yang membuat kendaraan ini tetap mantap saat ditantang untuk memangkas jarak dan waktu.
Untuk mengimbangi segala kemampuannya, mobil seharga Rp1,939 miliar (of the road) ini juga dibekali rem cakram komposit berukuran besar yang tetap berfungsi optimal pada suhu tinggi. Sementara kontak ke permukaan jalan diserahkan pada velek AMG yang dibalut dengan ban berdimensi 255/35 R19 di bagian depan dan 285/30 R19 di bagian belakang.
Perpaduan performa mesin dan kemampuan remnya yang prima, membuat kita bisa mengendarai kendaraan ini layaknya sebuah hatchback ringan dan lincah. (Cdx/OL-04)
|
Senin, 14 November 2011 08:08 WIB
|
|
Minggu, 13 November 2011 18:54 WIB
|
|
Jumat, 28 Oktober 2011 10:06 WIB
|
|
Minggu, 02 Oktober 2011 21:45 WIB
|
|
Selasa, 09 Agustus 2011 13:36 WIB
|
|
Jumat, 08 Juli 2011 08:08 WIB
|
|
Rabu, 06 Juli 2011 20:47 WIB
Bridgestone Potenza Adrenalin RE002
|
|
Minggu, 26 Juni 2011 17:15 WIB
|
|
Kamis, 16 Juni 2011 17:52 WIB
Test Drive Off-Road
|
|
Minggu, 12 Juni 2011 21:23 WIB
Mercedes-Benz G-Experience
|
|
07 Mei 2011 10:06 WIB
|
|
Jumat, 29 April 2011 09:00 WIB
Test Drive Mitsubishi Pajero Sport Dakar
|