City Test smart fortwo
26 Februari 2011 17:21 WIB
Adu Cepat di Jalan Padat dengan smart
Penulis : chadie
MI/CHADIE
JUMAT (25/2) sore, sejumlah jurnalis diundang ke markas PT Mercedes-Benz Indonesia (MBI) termasuk mediaindonesia.com. Undangan mendadak yang saya terima via telepon sehari sebelumnya cuma menyatakan bahwa tujuan undangan itu untuk mencoba smart fortwo.
Begitu tiba di gedung Deutsche Bank yang berlokasi di jalan Imam Bonjol Jakarta, rombongan jurnalis kemudian di-briefing mengenai tujuan sesungguhnya dari undangan MBI yang ternyata semacam tantangan adu cepat menuju La Codefin di kawasan Kemang di Jakarta Selatan.
Ups...Itu berarti kami harus adu cepat menuju lokasi tersebut di saat kondisi lalu lintas sedang dalam puncak kepadatannya. Saat itu sekitar pukul 5 sore di hari Jumat penghujung pekan...Hmmm perfecto.
Deputy Director Sales & Marketing smart Indonesia Dhani Yahya yang memberikan briefing singkat menegaskan bahwa tidak perlu tenaga besar dan kecepatan tinggi untuk bisa cepat menuju lokasi tersebut. Intinya dengan mobil imut ini, hal itu bisa tercapai.
Setelah mendapatkan sejumlah arahan, kami langsung menuju halaman parkir Deutsche Bank. Di sana sudah berderet 10 unit smart dengan berbagai warna. Namun sebagian besar berwarna hitam dan warna itulah yang saya ambil.
Tak lama 10 mobil imut tersebut bergegas keluar dari lahan parkir dan langsung membaur dengan antrean kemacetan menuju jalan Jenderal Sudirman yang kala itu dipadati kendaraan yang tengah berkompetisi memperebutkan posisi terbaik di atas permukaan aspal.
Aturan three-in-one tentunya tengah berlaku di saat itu. Dengan kapasitas penumpang yang hanya dapat membawa dua orang, kami setengah berspekulasi untuk melewati kawasan yang mengharamkan mobil kurang dari tiga penumpang sambil berharap petugas polisi juga smart menanggapi status kendaraan yang kami tunggangi.
Dengan tetap fokus pada kondisi kepadatan lalu lintas yang demikian brutal, kami berhasil melewati satu petugas yang ternyata secerdas yang saya harapkan. Bahkan pak polisi itu membantu memberikan jalan.
Akhirnya perjuangan pertama melewati kemacetan parah di kawasan Duku Atas bisa terlewati. Pedal gas pun saya benamkan ke lantai untuk memanfaatkan situasi jalan yang lowong hingga menjelang Jembatan Semanggi.
Karakter transmisi otomatis 5-speed yang dimiliki kendaraan ini sangat berbeda dengan transmisi otomatis pada umumnya. Jika pedal gas tidak diinjak pada kondisi diam, kendaraan tak kan melaju...hmmm persis seperti transmisi CVT milik skuter otomatik.
Ada sedikit jeda saat kita menginjak pedal gas dengan respons yang diberikan oleh sistem transmisinya, walaupun mesin 999 cc bertenaga 61 hp tersebut merespons dengan baik. Karakter itu mendorong pengendara cenderung menginjak lebih dalam. Namun jika itu dilakukan, kendaraan akan melompat dan mendongak akibat cukup besarnya dorongan dan torsi yang tersalur ke roda belakang.
Karekter perpindahan giginya pun cukup unik. Hal ini terasa saat saya menghajar pedal gas lepas dari kemacetan. Tiba-tiba saya merasakan putaran mesin turun, gigi berpindah dan rpm naik kembali secara otomatis. Persis seperti waktu prosedur yang diambil saat pengendara memindah gigi pada transmisi manual pada umumnya.
Rupanya transmisi otomatis smart memang dirancang untuk santai dan menitik beratkan pada efisiensi bahan bakar. Untuk menutupi kekurangan itu, transmisi smart menyajikan mode semi manual sequential shifting.
Karena asyiknya meresapi karakter transmisinya, jalur SCBD pun terlewati. Padahal rute itulah yang paling ampuh dalam memperpendek rentang jarak dan waktu menuju kawasan Kemang.
Sesuai dengan merek mobil buatan Daimler AG ini, kita dituntut smart dalam menentukan rute. Akhirnnya atas usulan Officer External Affairs MBI, Dwi Parileksono yang mendampingi disebelah ia menuntun saya untuk berbelok kiri sebelum bundaran Patung Pemuda Senayan, menuju jalan Pattimura kemudian menghindari kemacetan di beberapa titik.
Mobil kemudian kami arahkan ke Jalan Pulo Raya melewati jalan-jalan tikus dan timbul sesudah perempatan lampu merah Brawijaya-Prapanca yang juga dikenal sebagai salah satu simpul terpadat di wilayah Jakarta Selatan.
Padatnya rute Prapanca-Kemang bukan masalah bagi kendaraan dengan bodi imut dengan kemampuan manuver yang luar biasa ini. Banyak celah yang sulit bagi kendaraan lain, bisa kami kami akses. Mungkin hanya Bajaj roda tiga saja yang mampu menyaingi hal tersebut.
Alhasil kami sukses menaklukan jarak dan waktu. Meskipun kami hanya finis di tempat kedua akibat rute yang meleset di SCBD, namun kami cukup puas bisa menaklukkan brutalnya kemacetan lalu lintas tanpa merasa stres dan lelah.
Rupanya hal itu yang ingin dibuktikan oleh MBI melalui tantangan tersebut. Rute itu kami bisa lalui hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Padahal kalau menggunakan mobil sedan biasa, mungkin saat itu kami tenggelam dalam lautan kemacetan Kota Jakarta yang kian hari kian tidak bersahabat. (OL-07)