26 Februari 2011 19:37 WIB
Melibas Trek Sentul dengan CBR250R
Penulis : chadie

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Melibas_Trek_Sentul_dengan_CBR250R

MI/CHADIE

SEPERTINYA PT Asra Honda Motor (AHM) sedang bersemangat dengan mainan baru mereka, CBR250R. Sehari setelah resmi diluncurkan pada Jumat (25/2), hari ini (Sabtu 26/2), mereka kembali mengundang  sejumlah  jurnalis otomotif untuk mencoba motor di kelas sport premium top end ini langsung di Sirkuit Sentul, Bogor.

Di acara test ride tersebut, tiga pebalap tim Honda MotoGP, Casey Stoner, Dani Pedrosa dan Andrea Davisiozo menyempatkan hadir sejenak untuk menyemangati dan memeriahkan kegiatan ini.

Para jurnalis pun nampak tak sabar ingin merasakan kelebihan apa yang akan disajikan oleh Honda CBR250R. Pasalnya, mencoba kendaraan di sirkuit memungkinkan untuk mencoba performa puncak yang sulit dan riskan dilakukan di jalan raya. Terlebih AHM telah menyediakan safety gear alias askesori keselamatan lengkap, mulai dari sepatu kulit, balaclava, leg dan knee protector lengkap dengan helm serta sarung tangan.

Setiap jurnalis diberi kesempatan sebanyak empat lap alias empat putaran dalam grupnya. Putaran pertama ditujukan untuk pengenalan medan. Selebihnya, mereka bisa habis-habisan menjajal performa hingga batas nyali. Untuk menjaga keselamatan, peserta tidak diizinkan untuk saling mendahului, apalagi mendahului pemandu yang ada di depan.

Kesan pertama saat menunggangi CBR250R, ia sudah menunjukkan satu kelebihannya. Kendaraan ini mudah dan cepat diadaptasi oleh siapapun pengendaranya. Wajar saja jika di kelas sport murni, ia sangat cocok sebagi tunggangan bagi pemula yang ingin naik kelas ke motor besar dengan kapasitas yang lebih tinggi.

Sosoknya yang berdesain bak motor besar dan agresif memberikan kesan berat. Namun saat mencoba melakukan manuver, kesan itu segara sirna. Kendaraan ini begitu ringan dan sangat jinak dengan kemauan pengendaranya.

Alhasil, hanya dalam sekejap mediaindonesia.com (micom) sudah merasa CBR250R ini seperti tunggangan sehari-hari, bahkan lebih mudah dibanding mengenal karakter sirkuit meskipun itu bukan kali pertama micom mencicipi lintasan di Sentul ini.

Setelah dua putaran, sepertinya rekan jurnalis di depan mulai berani mengembangkan kecepatan, tikungan demi-tikungan dengan mulus dilibas hingga pelindung lutut nyaris bergesekan dengan aspal bagaikan pembalap profesional.

micom pun tak mau ketinggalan. Yang ada dalam pikiran kala itu hanya satu, mumpung di sirkuit, kapan lagi bisa memelintir grip gas hingga batas kecepatan akhir dengan risiko yang minim.

Agar tidak kehilangan momentum, harus terus memantau putaran mesin di jarum tachometer menggunakan ekor mata agar tidak melewati rev limiter yang dipatok pada 10.800 rpm. Karena jika melewati garis merah (red line), mesin secara otomatis akan melindungi diri dengan memutus pasokan bahan bakar sistem injeksinya.

Sayangnya micom hanya bisa meraih kecepatan 146 km/jam di trek lurus sejajar pit lane.
Sementara rekan lain ada yang beruntung bisa mengukir angka 160 km/jam di spidometer digitalnya.

Tapi yang terpenting pada kecepatan itu, kendaraan tetap stabil menyusuri trek lurus, meskipun saat itu angin kencang terasa sekali datang dari depan sedikit ke kiri. Kondisi itulah yang mengharuskan pengendara merapatkan tubuh erat ke tangki bahan bakarnya yang berkapasitas 13 liter.

Suspensi belakang monoshock yang awalnya terasa keras, dengan jumawa menunjukkan kelebihannya. Suspensi Pro-Link ini menjinakkan guncangan di ban bagian belakang jauh lebih baik dibanding model monoshock dengan shockabsorber dan pegas yang terhubung langsung ke lengan ayun.

Rupanya micom salah memilih sepeda motor. Hal itu diketahui saat mencoba memasuki tikungan S kecil dengan tehnik late braking ala pembalap MotoGP. Lantai sirkuit yang dihiasi tambalan semen plus roda roda yang tertahan rem membuat bagian buritan sempat bergeser sedikit.

Rupanya motor yang micom tunggangi merupakan CBR250R standar, bukan yang telah dipersenjatai fitur combined ABS (C-ABS), sehingga hasrat untuk mengembangkan kecepatan terpaksa harus diredam atas nama keselamatan.

Salah satu yang cukup mengesankan pada performa mesinnya adalah karakter penempatan torsinya yang ideal. Dorongan kuat masih tetap terjaga saat jarum tachometer mendekati garis merah. Dampaknya, saat berakselerasi panjang dari gigi pertama hingga gigi terakhir di posisi 6, tenaganya terjaga dengan solid. (OL-07)

 
MORE INFO
Senin, 14 November 2011 08:08 WIB
Minggu, 13 November 2011 18:54 WIB
Jumat, 28 Oktober 2011 10:06 WIB
Minggu, 02 Oktober 2011 21:45 WIB
Selasa, 09 Agustus 2011 13:36 WIB
Jumat, 08 Juli 2011 08:08 WIB
Rabu, 06 Juli 2011 20:47 WIB
Bridgestone Potenza Adrenalin RE002
Minggu, 26 Juni 2011 17:15 WIB
Kamis, 16 Juni 2011 17:52 WIB
Test Drive Off-Road
Minggu, 12 Juni 2011 21:23 WIB
Mercedes-Benz G-Experience
07 Mei 2011 10:06 WIB
Jumat, 29 April 2011 09:00 WIB
Test Drive Mitsubishi Pajero Sport Dakar
image image image image image