17 Oktober 2009 13:00 WIB
Menanti Cinta, Menatap Konsekuensi
Penulis :

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Menanti Cinta Menatap Konsekuensi

mindinbalance.com

TIDAK pernah ada seorang perempuan yang berharap untuk tidak dicintai oleh seorang laki-laki. Tapi, latar belakang keluarga sepertinya punya pengaruh besar terhadap kehidupan percintaan seseorang. Di satu sisi, aku bisa merasa kuat tanpa kehadiran cinta. Namun di sisi lain, aku merasa sangat membutuhkannya.

Aku lahir di tengah-tengah keluarga dengan tingkat perekonomian yang bisa dikatakan sederhana. Ayah dan ibuku berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Sebagai anak pertama, aku dididik orang tua dengan keras dan disiplin. Mereka seolah-olah ingin menyiapkanku agar mampu membawa nama baik keluarga dan menjadi anak yang berprestasi.

Cara orang tua mendidikku terbukti tepat dan berhasil. Aku mampu menunjukkan prestasi baik di bidang akademik dengan kemampuan otakku, sehingga akhirnya meraih gelar sarjana dan mendapatkan pekerjaan dengan jenjang karier yang cukup menjanjikan. Akan tetapi, entah mengapa sebagai manusia aku merasa kurang lengkap. Meskipun aku menyadari, tidak ada kebahagiaan yang sempurna.

Ketika remaja, orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Aku dan adik-adik tinggal bersama ibu yang sangat telaten merawat dan membesarkan kami. Sementara itu, hubunganku dengan ayah cuma berlangsung alakadarnya, bahkan terkesan sekadar basa-basi. Secara fisik aku memang masih menjalin kontak dengannya, namun ikatan batin ayah dan anak di antara kami sudah sejak lama terputus.

Hal itulah yang akhirnya menimbulkan trauma mendalam di hatiku. Sebagai produk keluarga broken home, aku merasa takut untuk menjalin kisah cinta dengan seorang laki-laki. Aku tidak bisa membayangkan lelaki seperti apa yang pantas mendampingi hidupku kelak. Bayangan ayah sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab tidak mampu kuhapuskan dari dalam kepala. Aku takut jika lelaki pilihanku nantinya akan meninggalkanku, sama seperti ayah yang tega meninggalkan dan mengabaikan keluarganya. Selama ini, ibu telah menjadi single parent yang tegar dan tabah. Aku hanya tidak ingin lelaki pilihanku nanti mengecewakan dirinya.

Sampai sekarang aku masih berusaha mengenyahkan kekhawatiran dari dalam diri. Namun aku sadar, apalah artinya hidup tanpa kehadiran cinta. Kini, aku merasa sudah lebih siap untuk menanti cinta dan menatap konsekuensi. Aku yakin suatu hari nanti akan menemukan sosok lelaki bertanggung jawab untuk kuperkenalkan sebagai calon pendamping hidup di hadapan ibu kelak.


Yulia Agustin, 23, Karyawati

KIRIM KISAH ANDA DISINI !

MORE INFO
Rabu, 03 Agustus 2011 12:49 WIB
26 Maret 2011 15:45 WIB
08 Januari 2011 14:25 WIB
Senin, 15 November 2010 15:16 WIB
Jumat, 09 April 2010 17:00 WIB
26 Desember 2009 14:00 WIB
28 November 2009 11:00 WIB
21 November 2009 16:00 WIB
07 November 2009 14:00 WIB
Selasa, 03 November 2009 10:00 WIB
26 September 2009 12:00 WIB
08 Agustus 2009 10:10 WIB
image image image image image