SEKARANG aku merasa hidup dalam ketakutan dan tekanan yang sangat menyiksa. Aku sering ketakutan, cemas, gelisah, merasa tidak tenang, dan paranoid. Bahkan aku mulai merasa mentalku rusak.
">
SEKARANG aku merasa hidup dalam ketakutan dan tekanan yang sangat menyiksa. Aku sering ketakutan, cemas, gelisah, merasa tidak tenang, dan paranoid. Bahkan aku mulai merasa mentalku rusak.
, perempuan, sex, cantik, beauty, fashion ,media, indonesia, berita, aktual, editorial, politik, kriminal, olahraga, polkam, ekonomi, hukum, nusantara, jabotabek, sains, teknologi, keamanan, hiburan, entertain, artist, sby, lapindo, internasional, tsunami, gempa, gempa bumi, longsor, pariwisata, sepakbola, humaniora, asian games, sea games, olimpiade, pemilu, pilkada, gubernur, kepala daerah, bupati, wali kota, walikota, dpr, mpr, menteri, negara, presiden, wapres, kala, metrotv, paloh, surya paloh">
momlogic.com
SEKARANG aku merasa hidup dalam
ketakutan dan tekanan yang sangat menyiksa. Aku sering ketakutan,
cemas, gelisah, merasa tidak tenang, dan paranoid. Bahkan aku mulai
merasa mentalku rusak.
Apa ada di antara Anda yang pernah diintimidasi oleh bos, oleh pacar aslinya pacar (karena Anda ternyata selingkuhannya), oleh debt collector atau siapapun yang secara emosional dekat dengan Anda? Well, kalaupun iya hal itu barangkali masih wajar. Tapi pernahkah Anda diintimidasi oleh pacar sendiri yang katanya sayang sama Anda dan sudah berkorban banyak? Pernahkah Anda diintimidasi sampai taraf hampir membahayakan nyawa, masa depan, dan harga diri oleh pacar Anda sendiri? Aku pernah.
Tadi malam aku pulang terlambat karena mengejar deadline penerbitan newsletter pertama, sehingga akhirnya tidak bisa bertemu pacar di taman tempat kami biasa berjumpa. Memang aku juga salah karena berbohong mengatakan jalanan macet dan tidak mendapatkan bis. Padahal aku sebenarnya lagi lembur di kantor.
Ketika pulang, pacar ternyata sudah menunggu di depan rumah. Aku sontak menjadi panik karena sebelumnya kami sempat bertengkar hebat. Rencana bertemu di taman itu pun sebetulnya untuk menegaskan bahwa hubungan kami cukup sampai di sini.
Begitu melihatku, pacar langsung menyuruhku naik ke atas sepeda motornya dan langsung mengebut mengejar angkutan umum yang sebelumnya kutumpangi untuk pulang ke rumah. Dia rupanya tidak percaya aku benar-benar menumpang angkutan itu.
Selama di jalan, pacar juga berteriak membentak-bentakku dengan kata-kata kasar. Dia juga mengancam akan menghancurkan hidupku sehingga aku setengah mati ketakutan. Beberapa kali motor yang kami naiki hampir terjatuh karena pacar tidak memperlambat laju motornya saat melintasi jalanan yang rusak.
Dia membawaku ke arah Bekasi, dan selama itu aku menangis ketakutan. Kepalaku tiba-tiba pusing dan dada terasa benar-benar sesak. Tapi dia sama sekali tidak peduli dan terus memaki-maki, memuntahkan berbagai ancaman, dan mengatakan adiriu pantas diperlakukan demikian.
Sesampainya di salah satu komplek perumahan di daerah Bekasi, dia akhirnya menghentikan motor, memeriksa ponselku dan menyuruhku berhenti menangis dengan gertakan dan ancaman. Demi Tuhan, aku benar-benar ketakutan dibuatnya. Setelah itu, barulah dia memutar arah dan mengantarkanku pulang sambil tetap memaki, membentak, mengancam, dan tidak memedulikanku.
Tapi jangan berpikir intimidasinya berhenti sampai di situ. Setibanya di rumah pun dia terus menyerang dengan melontarkan berbagai ancaman ''gila''. Aku tidak tahu lagi mesti melakukan apa. Aku hanya bisa memohon agar Allah SWT menolongku dan memberikan petunjuk menuju jalan terbaik.
Jasmine, Karyawati
|
Rabu, 03 Agustus 2011 12:49 WIB
|
|
26 Maret 2011 15:45 WIB
|
|
08 Januari 2011 14:25 WIB
|
|
Senin, 15 November 2010 15:16 WIB
|
|
Jumat, 09 April 2010 17:00 WIB
|
|
26 Desember 2009 14:00 WIB
|
|
28 November 2009 11:00 WIB
|
|
21 November 2009 16:00 WIB
|
|
07 November 2009 14:00 WIB
|
|
17 Oktober 2009 13:00 WIB
|
|
26 September 2009 12:00 WIB
|
|
08 Agustus 2009 10:10 WIB
|