gettyimages.com
AKU merasa benar-benar stres akibat tekanan dalam kehidupan perselingkuhanku. Aku merasa, inilah kesalahan terbesar yang pernah kuperbuat selama hidupku.
Aku perempuan berusia 33 tahun yang merasakan terlalu banyak tekanan saat ini. Aku terjebak di dalam perselingkuhan. Ya Tuhan, dari mana harus kumulai kisah ini? Sudah puluhan juta uang yang aku habiskan untuk mencari kepuasan yang selama ini kudambakan. Setelah itu, aku selalu merasa menyesal dan ingin menghentikannya. Namun, tidak ada yang dapat kulakukan untuk mengubah kesalahan ini. Jika hari ini aku bertekad untuk menghentikannya, esok pagi aku pasti mengubah pendirian lagi.
Kisah ini berawal dari masalah pribadi yang sudah beberapa tahun ini kualami. Sejak menikah enam tahun lalu, aku dan suami belum juga dikarunia akan. Segala harapan yang pernah kusandarkan pada suamiku pun lambat laun mulai menguap tak berbekas.
Di masa kuliah dulu, aku pernah melakukan kekhilafan karena berhubungan badan dengan kekasih pada saat itu. Meskipun dia mau bertangung jawab atas perbuatan itu, aku memilih meninggalkannya karena dijodohkan orang tuaku, meskipun pada akhirnya aku menolak perjodohan itu. Apalagi, pada waktu itu lelaki yang dijodohkan denganku mengetahui semua kesalahanku dan menolak diriku. Aku pun sempat terbebani dengan keragu-raguan, masih adakah lelaki yang mau menerimaku setelah tahu kisah kelam itu?
Saat aku belajar bersikap jujur dan terbuka soal masa lalu dengan lelaki yang berniat menikahiku, semua itu ternyata justru menjadi bumerang karena arti kesucian ternyata begitu besar baginya. Kehormatan seorang istri merupakan kehormatan pula bagi suami. Hal ini membuatku semakin pesimistis mengenai kemungkinan berumah tangga suatu hari nanti.
Aku merasa seperti tidak memiliki arti lagi. Semua kesalahan dan kepedihan masa lalu membuatku semakin terpuruk dalam keputusasaan. Akan tetapi, menjelang akhir 2002 lalu aku bertemu dengan seorang lelaki yang usianya lebih tua 11 tahun daripada diriku. Setelah beberapa waktu kami akhirnya sepakat untuk menikah.
Pesta pernikahanku digelar pada awal 2003, tepatnya di bulan Februari. Sejak awal, aku dan suami saling terbuka mengenai segala kelemahan dan kekurangan masing-masing. Aku mengakui kesalahanku di masa lalu, dan dia pun dengan berani mengakui bahwa dirinya tidak mampu memberikanku keturunan. Pada saat itu aku menerimanya dengan lapang dada. Aku optimistis, setiap masalah pasti ada solusinya. Aku justru mengucap syukur karena masih ada lelaki yang mau menerima diriku apa adanya.
Akan tetapi, setelah enam tahun menjalani pernihakan ini, diriku seperti tidak memiliki ketenangan hati untuk terus melanjutkannya. Aku tiba-tiba berubah menjadi manusia yang tidak tahu cara bersyukur. Aku selalu ingin mencari kepuasan-kepuasan lain, yang akhirnya kutemukan pada salah satu rekan sekantorku.
Tanpa terasa, perselingkuhan kami telah berjalan selama satu tahun. Pada awalnya aku memang mendapatkan kepuasan fisik dari perbuatan ini, namun lambat laun aku mulai merasakan beban berat di pundakku. Apalagi, tidak sedikit materi yang terpaksa aku keluarkan untuk mengejar semua kepuasan sesaat itu, mulai dari tabungan hingga dana dari kas kantorku.
Saat ini, aku sudah merasa sangat tertekan. Tapi diriku tetap tidak mampu menemukan cara untuk mengakhirinya dan melepaskan diri dari lelaki selingkuhanku. Aku capek, tolong aku membebaskan diri.Lulu, 33, Karyawati
|
Rabu, 03 Agustus 2011 12:49 WIB
|
|
26 Maret 2011 15:45 WIB
|
|
08 Januari 2011 14:25 WIB
|
|
Senin, 15 November 2010 15:16 WIB
|
|
Jumat, 09 April 2010 17:00 WIB
|
|
28 November 2009 11:00 WIB
|
|
21 November 2009 16:00 WIB
|
|
07 November 2009 14:00 WIB
|
|
Selasa, 03 November 2009 10:00 WIB
|
|
17 Oktober 2009 13:00 WIB
|
|
26 September 2009 12:00 WIB
|
|
08 Agustus 2009 10:10 WIB
|