Biaya Pendidikan Murah Berkat Kaya Inovasi
MENEMUKAN SMK Wikrama Bogor bisa mencemaskan hati jika Anda tidak kuat niat. Meski tidak jauh dari pintu tol Ciawi Bogor, letak SMK itu bersembunyi di perkampungan. Hanya ada satu papan penunjuk di mulut jalan kecil. Setelah itu, Anda harus menelusuri jalan kecil berkelok yang diapit tanah kosong, rumah penduduk dan sungai. Jalan pun hanya pas untuk satu mobil.
''Selamat datang. Pasti tadi sempat enggak pede (percaya diri) kalau ada sekolah di sini,'' ujar Kepala SMK Wikrama Bogor Itasia Dina Sulvianti ramah, Kamis (8/4).
Menurutnya, hampir semua tamu SMK yang baru pertama kali berkunjung sering deg-degan, khawatir keliru jalan. Memang, sekolah yang berdiri di atas lahan sekitar 2.900 meter itu sering dikunjungi untuk studi banding. Sampai tahun ini, sudah mencapai sekitar 16 ribu kunjungan. Para tamu penasaran, bagaimana pendidikan diaplikasikan di sekolah itu sehingga bisa mencuatkan potensi siswa.
''Potensi siswa bisa terasah jika dibesarkan dalam lingkungan positif. Jadi guru-guru di sini anti mengatakan hal negatif kepada siswa. Kami juga menerapkan kedisiplinan tanpa kekerasan,'' kata Itasia yang akrab dipanggil Ita itu.
Bagi ibu empat anak tersebut, pada dasarnya disiplin dibangun melalui keteladanan. ''Jadi guru itu harus telaten, enggak boleh putus asa. Harus dicontohkan dan konsisten,'' katanya.
Karena itu, Anda tidak akan menemui petugas kebersihan di sana. Semua warga sekolah mengambil peran tersebut. Ada jadwal piket yang tertulis, bahkan di pintu WC siswa putra. Keberadaan petugas kebersihan, kata Ita, justru membuat siswa tidak peka dengan kebersihan dan kenyamanan lingkungan.
Selain kedisiplinan, jiwa kewirausahaan juga ditanam dalam-dalam. Ada kantin yang benar-benar beroperasi dari siswa untuk siswa. ''Jadi ada jadwal jaga kantin. Mereka juga yang menyediakan dagangan,'' ujarnya.
Mitra bisnis
Tahun ini, ada 915 siswa dari berbagai daerah bersekolah di tiga jurusan SMK Wikrama, yaitu Administrasi Perkantoran, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), dan Teknik Komputer dan Jaringan
(TKJ). Biaya pendidikan mereka tidak sampai Rp200 ribu per bulan untuk mendapatkan pengajaran, memanfaatkan fasilitas sejumlah lab praktik, perpustakaan yang buka hingga pukul
19.00 WIB, ujian berbasis web hingga fasilitas internet sepanjang hari. ''Di sini, satu kelas bisa menginap di sekolah jika kebetulan ada yang harus mereka selesaikan. Gurunya ikut menginap juga. Bisanya enggak pulang Jumat malam sampai hari Minggu,'' cerita Ita.
Relasi guru dengan siswa di SMK Wikrama sengaja tidak diciptakan dalam bentuk subjek dan objek pengajaran, melainkan kemitraan. ''Misalnya, kami berbisnis
data entry untuk siswa jurusan
administrasi kantor (sekretaris) karena banyak sekali perusahaan melakukan survei dan salah satunya membutuhkan
data entry. Nah, guru bertindak sebagai supervisor,'' jelas istri dokter hewan, Putratama Agus Lelana itu.
Begitu juga siswa-siswa jurusan TKJ yang biasa menerima perbaikan komputer plus pemasangan jaringan
hot spot untuk internet. Mereka yang mempelajari RPL juga menghasilkan program-program terkait manajemen pendidikan. ''Biar mereka biasa dengan dunia kerja sesungguhnya. Mereka akan berlatih disiplin, bekerja di bawah tekanan, dikejar target, teliti, hati-hati dan bertanggung jawab,'' terang Ita.
Dengan begitu, siswa, guru dan sekolah sama-sama mendapatkan pemasukan finansial. ''Kalau tidak begitu, biaya SPP bisa mahal hanya untuk operasional,'' kata Ita.
Tidak heran jika kemudian sekolah ini banyak diminati. Tahun lalu, sekitar 800 orang mendaftar. Padahal, kapasitas siswa baru terbatas 300 kursi. ''Kami menerima siapa saja, asal dia memang
mau mengubah hidupnya,'' ujar Ita.
Jadi, siswa dipilah bukan berdasarkan peringkat nilai ujian SMP, melainkan wawancara dengan siswa dan orang tua, tes IQ, psikotes, sampai rekam jejak rapor SMP. ''Kami juga memberi kuota 30% per tahun untuk anak-anak bermasalah, termasuk bermasalah ekonominya. Tidak ada anak-anak yang bodoh, mereka hanya
mismanagement,'' terang Ita yang kerap menjadi pembicara ke banyak daerah.
Garasi
Sebelum mendirikan dan mengepalai SMK Wikrama, Ita tidak bersentuhan dengan dunia pendidikan SMK. Dia sarjana matematika lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1986. Semasa kuliah, ia aktif di teater bersama Sujiwo Tejo. ''Makanya orang-orang bingung. Kok saya bisa jadi kepala sekolah. Karena dulu pake anting aja cuma satu,'' kenangnya geli.
Kelar sarjana, Ita melanjutkan pendidikan manajemen data dan analisis statistik berbasis komputer di Amerika Serikat selama 16 bulan. Pulang dari Amerika, ia mengandung anak kedua.
Ita lantas melanjutkan pendidikan pascasarjana di IPB.
Sembari kuliah, Ita bergabung dengan lembaga kursus komputer yang didirikan temannya. Ita melamar kerja di bagian administrasi. Tugasnya antara lain mengurus pendaftaran siswa. ''Banyak yang mencemooh, ngapain
sih punya sertifikat Amerika kok kerja begitu,'' kisahnya.
Namun, Ita bergeming. Dia tekun bekerja sembari mengamati bagaimana lembaga kursus itu beroperasi. Jabatannya naik menjadi kepala litbang sampai wakil direktur. Tahun 1993, perusahaan kolaps. Demi menyelamatkan karyawan, Ita lantas mengambil alih kepemilikan dengan menyuntikkan modal yang menurutnya tidak seberapa. Jadilah Ita sebagai pemilik dan direktur lembaga kursus tersebut.
Terbukti, langkah taktisnya berhasil. Selanjutnya, banyak peserta kursus yang 'memprovokasi' agar Ita sekalian saja membuat pendidikan itu menjadi formal. Ita terpancing membuat sebuah
sekolah.
Saat itu, SMK masih kalah pamor dibandingkan SMA serta dianggap sekolah 'buangan'. ''Itu tahun 1996. Saya sering sekali melihat anak SMK nongkrong di jam sekolah. Saya pikir, seharusnya bisa dibuat SMK yang profesional,'' kata Ita.
Karena itu, Ita membulatkan tekad. Dia menyusun kurikulum sendiri yang kini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pendidikan dimulai di garasi. Saat itu siswanya
hanya 34 orang.
Tahun 1999, angkatan pertama SMK di garasi itu lulus dengan nilai bagus. ''Angkatan kedua lebih heboh. Ada yang bisa dapat nilai 9 untuk ujian matematika,'' katanya.
Tahun 1998, Ita berniat pindah lokasi dari garasi ke sebuah tempat yang lebih layak. Kontrak kerja sama telah ditandatangani, tetapi kemudian pecah kerusuhan Mei 1998. Akibat kalut, si
empunya lokasi yang peranakan Tionghoa membatalkan kerja sama secara sepihak. Ita kalang kabut. ''Brosur sudah disebar. Semua anak sudah tahu kita akan pindah sekolah awal tahun
ajaran baru,'' ceritanya.
Namun, Ita tak surut. Di depan lokasi, ia melihat sebuah vila. Karena kepepet, ia sewa vila tersebut untuk sekolah sementara. ''Kontraknya 27 juta. Mahal saat itu. Lalu kamar-kamar seukuran 6x8 meter saya jadikan kelas. Ada juga yang belajar di garasi,'' tambahnya.
Tak ayal, siswa dan orang tua sempat protes keras. Mereka merasa ditipu. ''Saya jelaskan apa adanya. Seberat apa pun masalahnya, yang penting kita jujur. Ya sudah, masalah itu reda,'' ujarnya. Sebuah rumah tua dekat vila itu pun ia kontrak juga untuk kelas. Ita menggunakan seng untuk atap. Untuk mengakali udara panas, Ita memasang paralon yang berlubang di atas atap seng. ''Kalau jam 10, saya nyalakan air jadi seperti hujan buatan. Kelas bisa lebih nyaman,'' ujarnya lantas tertawa.
Tahun 2000, Ita baru mulai membangun SMK Wikrama di lokasi sekarang. Kata Ita, ia mencicil untuk membeli tanah yang dijual Rp150 ribu per meter kala itu. ''Enggak ada dana untuk membangun. Tapi saya yakin saja bisa. Kuncinya di sini,'' kata Ita sembari menunjuk kepala.
Suaminya yang juga pelukis lantas melukis bangunan sekolah. ''Setiap saya masuk sekolah darurat, saya melihat lukisan itu. Saya yakin bisa,'' katanya.
Visualisasi yang kuat atas sebuah sekolah baru membuat Ita fokus pada upaya pengumpulan dana untuk membangun. Dia bekerja sama dengan sejumlah orang. Setahun kemudian, sekolah baru itu beroperasi. ''Sampai sekarang sudah empat lantai, malah enggak berhenti-henti,'' katanya lalu menderai tawa.
Dia berencana membuat kebun di atap. 'Calon penghuninya' ialah tanaman- tanaman hias yang kelak akan disewakan. ''Punya SMK harus inovatif. Karena sebetulnya biaya pendidikan per anak itu memang mahal, jadi harus diakali,'' katanya pasti. (M-2)