Jumat, 16 Juli 2010 15:15 WIB
| 0 Komentar
Jadi Pengusaha Gara Gara Bermain Sampah
BONEKA-boneka cantik mirip Barbie memenuhi meja pajang di sebuah stan pada pameran di depan pintu gerbang utama Stadion Manahan, Solo, akhir pekan lalu. Selain boneka berbusana warna warni, terdapat manekin dengan baju dan topi hasil rajutan, beberapa kotak tempat tisu, serta puluhan sandal berbagai model.
Hendrati Sri Kristyaningsih bersama sejumlah karyawannya berjaga di stan sekitar enam meter persegi itu. Di Boyolali Jawa Tengah, Hendrati dikenal dengan 'predikat' pengusaha serba sampah. Maklum, seluruh produk kerajinan yang diusung pemilik Klarias Craft & Design itu memang berbahan baku sampah.
Misalnya, busana warna-warni boneka yang dibuat dengan teknik rajutan itu sebetulnya terbuat dari tas dan kantong plastik bekas. Begitu pula dengan topi merah, sabuk merah, dan rompi hitam yang dikenakan tiga buah manekin.
Dengan sentuhan kreativitas dan keterampilan merangkai, benda-benda yang selama ini dianggap tidak berguna lagi itu menjelma menjadi berbagai pernak-pernik indah. Dan tentu saja memiliki harga jual yang lumayan tinggi. "Kami hanya berupaya sedikit membantu membersihkan lingkungan dari sampah," kata Hendrati lalu tersenyum.
Merintis usaha
Hendrati merintis usaha mengolah sampah menjadi produk bernilai jual sejak 10 tahun lalu. Persisnya setelah dia mengikuti sang suami yang berpindah tugas dari Semarang ke Boyolali.
Kehidupan di daerah pedesaan dengan suasana yang nyaman dan sepi rupanya mendorong Hendrati untuk kembali mengulang hobi masa kecil. Selagi kecil, Hendrati memang gemar mengutak-atik berbagai bahan terbuang menjadi benda-benda baru yang bisa dimanfaatkan kembali.
"Kebetulan sekali di daerah tempat saya tinggal itu tersedia banyak sekali bahan yang bisa digunakan," kata perempuan 44 tahun itu.
Hendrati mengaku, awalnya kegiatan tersebut lebih sebagai aktivitas iseng belaka. Tetapi lama kelamaan berubah menjadi sebuah pekerjaan. Itu lantaran banyak para tetangga dan kenalan yang tertarik dan kemudian membelinya.
Peluang usaha yang datang secara kebetulan itu tidak disia-siakan.
Kegiatan yang semula hanya sekedar pembunuh sepi itu pun mulai dijadikan ladang penambah penghasilan. Untuk mengejar permintaan yang dari waktu ke waktu terus meningkat, Hendrati pun mengajak beberapa orang tetangganya yang tidak bekerja untuk ikut membantu.
Keseriusannya menggarap ladang baru ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Saat ini, Hendrati telah memiliki sembilan orang karyawan tetap. Pemasaran produknya pun kini tidak lagi terbatas pada para tetangga dan kenalan di Boyolali. Tetapi sudah meluas hingga ke kota-kota lain seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. "Baru-baru ini dapat pesanan dari Kalimantan," ujar ibu enam anak itu.
Suka berbagi
Prinsip berbisnis bagi Hendrati ialah berbagi. Dia tidak pelit membagi ilmu mengolah sampah. Bahkan, ia rela tidak dibayar saat mengajar. Hendarti juga tidak keberatan berbagi pasar. Beberapa peserta yang ikut memamerkan kreasinya pada pameran lingkungan hidup di Stadion Manahan itu ialah mantan anak didik Hendrati yang sekarang sudah mandiri. Hal itulah yang dirasakannya sebagai kebahagiaan sejati. "Tadi pas ketemu ada yang bilang, 'eh, ketemu Ibu guru lagi'. Senang sekali rasanya melihat mereka yang dulu pernah belajar bersama-sama bisa mandiri seperti itu," katanya.
Selain berbagi ilmu pengolahan sampah, Hendarti juga getol mengampanyekan tindakan ramah lingkungan kepada para tetangga dan kenalannya. Salah satu kampanyenya ialah mengurangi penggunaan kantong dan tas plastik saat berbelaja di pasar. Hal itu, kata Hendrati, memang terlihat sepele. Tetapi kalau betul-betul dipraktekkan hasilnya akan sangat besar. "Kita sekarang ini sering latah, beli cabe sedikit saja minta tas plastik. Padahal, plastik itu merupakan sampah yang susah diproses alam. Saya bersyukur, kini sudah banyak tetangga dan kenalan yang mulai sadar. Mereka sekarang kalau berbelanja sudah membawa sendiri tas plastik besar dari rumah," katanya.
Dengan semua apa yang telah dilakukan Hendarti itu, tidak berlebihan jika kemudian Hendrati mendapatkan ganjaran sejumlah penghargaan. Meskipun kata Hendrati, ia sama sekali tidak pernah berharap.