Selasa, 03 Agustus 2010 14:01 WIB   |  0 Komentar
Arundhati Roy
Gelandangan Bertalenta Penulis dan Aktivis Kemanusiaan
Penulis : Yulia Permata Sari

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Gelandangan Bertalenta Penulis dan Aktivis Kemanusiaan

amovingtrain.com

ARUNDHATI ROY adalah seorang penulis sekaligus aktivis kemanusiaan berdarah India. Dia memenangkan penghargaan bergengsi Booker Prize pada 1997, berkat novel pertamanya berjudul 'The God of Small Things.'

Di sisi lain, sepak terjangnya sebagai aktivis kemanusiaan membuat perempuan berusia 48 tahun ini diganjar penghargaan Cultural Freedom Prize, yang diberikan Lannan Foundation pada 2002.

Menggelandang
Dilahirkan pada 24 November 1961 di Shillong, Meghalaya, dalam keluarga petani teh multikepercayaan (ayah Hindu, ibu Kristen), Roy menghabiskan masa kecilnya di Aymanam, Kerala, dan bersekolah di Corpus Christi. Dia pindah dari Kerala ke Delhi pada usia 16 tahun, dan memulai gaya hidup tunawisma.

Roy tinggal dalam sebuah gubuk kecil beratapkan seng di kawasan Feroz Shah Kotla, Delhi, dan mencari nafkah dengan menjual botol-botol bekas. Meski demikian, dia berhasil melanjutkan studi arsitektur di Delhi School of Architecture. Di sanalah aktivis yang memperjuangkan isu keadilan sosial dan ketimpangan ekonomi ini bertemu dengan suami pertamanya, arsitek Gerard Da Cunha.

Roy bertemu suami keduanya, pembuat film Pradip Krishen pada 1984. Dia sempat bermain sebagai seorang gadis desa di film suaminya itu, 'Massey Sahib,' yang lantas memenangkan penghargaan.

Sebelum mencapai kestabilan finansial berkat penjualan novelnya, Roy sempat menekuni sejumlah pekerjaan, termasuk menjalankan kelas aerobik di hotel-hotel bintang lima di New Delhi. 'The God of Small Things,' novel pertama yang ditulisnya, menuai kesuksesan secara kritik mau pun komersial. Buku tersebut merupakan semiotobiografi, yang sebagian besar kisahnya berasal dari pengalaman masa kecilnya di Aymanam.

Terbitnya novel tersebut melambungkan nama Roy dan secara instan membuatnya terkenal di dunia internasional. Buku tersebut meraih penghargaan Booker Prize for Fiction pada 1997, dan berhasil masuk dalam daftar New York Times Notable Books of the Year pada tahun yang sama.

Kritisi kebijakan nuklir
Sejak memenangkan Booker Prize, tulisan-tulisan Roy lantas lebih terkonsentrasi pada isu-isu politis. Sejumlah isu yang menarik perhatiannya termasuk proyek Narmada Dam, senjata nuklir India, sampai aktivitas perusahaan listrik korup Enron di India. Roy menjadi tokoh utama gerakan antiglobalisasi atau alterglobalisasi dan menyuarakan kritik keras terhadap neoimperialisme.

Sebagai respon terhadap pengujian senjata nuklir India di Pokhran, Rajasthan, Roy menulis 'The End of Imagination,' sebuah kritik terhadap kebijakan nuklir pemerintah India. Tulisan tersebut dipublikasikan bersama koleksi lainnya dalam 'The Cost of Living.' Dalam kumpulan esai tersebut, dia juga berperang melawan proyek-proyek bendungan air hidroelektrik raksasa India, di Maharashtra, Madhya Pradesh, dan Gujarat. Setelah itu, dia mengabdikan diri semata-mata untuk menulis karya nonfiksi dan politik, serta menerbitkan dua koleksi esai tambahan dan bekerja mengatasi masalah-masalah sosial.

Roy dianugerahi Sydney Peace Prize pada Mei 2004, atas kerja kerasnya dalam kampanye sosial dan advokasi antikekerasan. Lantas, pada Juni 2005, dia ambil bagian dalam Pengadilan Dunia terhadap Irak.

Pada Januari 2006, Roy dianugerahi penghargaan Sahitya Akademi atas koleksi esainya, 'The Algebra of Infinite Justice.' Namun, dia menolak menerimanya. (LI/OL-06)

BERITA TERKAIT
KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
MORE INFO
Rabu, 01 Februari 2012 12:15 WIB
Senin, 30 Januari 2012 10:10 WIB
Rabu, 25 Januari 2012 10:00 WIB
Jumat, 20 Januari 2012 13:00 WIB
Selasa, 17 Januari 2012 14:38 WIB
Jumat, 13 Januari 2012 15:15 WIB
Selasa, 10 Januari 2012 09:30 WIB
07 Januari 2012 12:30 WIB
Selasa, 03 Januari 2012 13:00 WIB
Selasa, 27 Desember 2011 15:00 WIB
Selasa, 20 Desember 2011 09:00 WIB
Jumat, 16 Desember 2011 09:00 WIB
image image image image image