Jumat, 20 Agustus 2010 16:05 WIB   |  0 Komentar
Pekan-Pekan Penting Farah Angsana
Penulis : Sem Purba

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Pekan Pekan Penting Farah Angsana

MI/Panca Syurkani

SAMPAI sekarang, Farah Angsana tercatat sebagai orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang pernah memamerkan koleksi busana di pekan adibusana (haute couture fashion week). Namun sayangnya, setelah beberapa koleksi pakaian laki-laki, label Farah Angsana malahan meredup. Bahkan selama sekian tahun sang desainer sempat tidak menggelar busananya di pekan fesyen (fashion week) di kota mana pun.

Padahal, pekan fesyen memudahkan perancang dan rumah fesyen untuk memamerkan koleksinya kepada para pembeli dan media. Pekan-pekan fesyen yang paling dirujuk antara lain diselenggarakan di ibu kota fesyen dunia, yaitu Paris, New York City, London, dan Milan. Biasanya ajang itu berlangsung setiap enam bulan sekali. Februari untuk koleksi musim gugur dan musim dingin, sementara pada September ditampilkan koleksi musim semi dan musim panas. Begitulah siklus yang berputar di dunia fesyen untuk pakaian siap pakai perempuan. Untuk koleksi adibusana, gaun pengantin, dan koleksi resor memiliki pekan modenya sendiri-sendiri.

Lantaran itu, tak eksis di pekan fesyen membuat Farah yang kini bermukim di Zurich, Swiss, itu sedih. ''Saya merenung dan berpikir, apa yang mau saya jalani. Saya akhirnya menghentikan koleksi pakaian laki-laki karena segala sesuatu berjalan tidak sesuai rencana,'' kenang perancang 39 tahun itu saat ditemui di Presidential Suite, Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (16/8).

Hanya perempuan
Seperti burung api dalam legenda Tionghoa kuno yang terbakar namun bangkit kembali dari abu, Farah menyusun strategi untuk kembali ke panggung fesyen dunia. ''Saya sebenarnya tidak berhenti merancang sama sekali, saya hanya membuat koleksi untuk pembeli setia saya di Arab Saudi, namun tidak melalui pergelaran busana yang formal,'' kata Farah yang lahir di Medan, Sumatra Utara itu.

Ia mengaku, kunci semangat kembalinya ke dunia fesyen terletak pada mengikuti nurani. ''Saya memutuskan untuk kembali pada gairah pertama saya, yaitu mendesain pakaian perempuan,'' kata Farah yang kerap mendesain baju untuk ibu dan kakak-kakak perempuannya di masa kecil.

Maka di Pekan Fesyen Paris pada 2007, Farah menggelar koleksi baju siap pakai (ready to wear) musim panas dan musim dingin 2007/2008. Pujian dan pesanan pun mulai berdatangan. ''Adibusana memiliki pasar yang sangat tersegmen, seperti klien-klien pribadi. Dengan meluncurkan pakaian siap pakai, saya dapat menjangkau pasar yang lebih luas,'' terang Farah yang sebelum mendirikan usahanya berprofesi sebagai pengarah gaya.

''Namun saya tidak meninggalkan teknik jahit adibusana, saya mengaplikasikannya pada rancangan-rancangan siap pakai.''

Tak berhenti di koleksi siap pakai, dengan cepat Farah bermanuver dan memperluas pasarnya dengan meluncurkan koleksi gaun pengantin pada 2008. Sampai kini, ia rutin berpartisipasi dalam pekan-pekan fesyen. Baik untuk pakaian siap pakai maupun gaun pengantin. Baru-baru ini, ia melebarkan kerajaan bisnisnya dengan meluncurkan koleksi resor. Semuanya untuk perempuan. Dia tegas menjawab, ''No!'' ketika ditanya apakah ada rencana untuk kembali merancang koleksi pakaian laki-laki.

Farah lantas mendeskripsikan 'perempuan Farah Angsana', perempuan yang memakai atau menyukai koleksinya. Ia menjawab, ''Perempuan yang berkarakter kuat, mencintai hidup, peduli sekitar, dan cantik. Tidak saja cantik, tetapi juga seksi.''

Elemen Indonesia
Jika dilihat portofolionya, maka dengan mudah dapat dilihat bahwa Farah menggunakan elemen-elemen Indonesia dalam rancangan-rancangannya, seperti batik dan ikat. Desainer yang dibesarkan di Singapura dan Los Angeles ini mengaku, untuk mempersiapkan koleksi-koleksinya, ia selalu menggali inspirasi dari Indonesia.

''Kedatangan saya kali ini dalam rangka mencari inspirasi untuk koleksi saya yang akan saya ikutkan pada Pekan Fesyen New York bulan September 2010,'' kata Farah sembari dengan halus menolak memberi sedikit bocoran tentang tema koleksi.

''Saya ingin menunjukkan kepada dunia betapa cantiknya Indonesia. Indonesia sangat kaya akan budaya dan sumber daya alamnya sehingga setiap kali saya kembali ke sini, saya mendapatkan banyak inspirasi,'' jelasnya berapi-api.

Sebanyak mungkin, Farah memasukkan elemen Indonesia ke dalam rancangannya. Dia lebih banyak mengeksplorasi motif, bukan material Indonesia. ''Dahulu saya pernah memakai material yang didatangkan dari Indonesia, tapi tidak berhasil,'' katanya.

Ketika mengikuti pekan fesyen, Farah mengaku terlibat 100% dalam persiapan, mulai dari mendesain sampai memilih musik untuk mengiringi show-nya.

Di Indonesia, nama Farah selalu diingat sebagai desainer Indonesia yang pernah ikut pekan adibusana. Meski begitu, Farah tak lantas aji mumpung untuk menjual produknya di Indonesia. ''Saya belum berencana membuka butik atau menjual koleksinya di Indonesia,'' ujarnya.

Farah lebih memilih eksis di panggung dunia dengan membawa keindonesiaannya, bukan jadi jago kandang. (M-4)

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
MORE INFO
Rabu, 01 Februari 2012 12:15 WIB
Senin, 30 Januari 2012 10:10 WIB
Rabu, 25 Januari 2012 10:00 WIB
Jumat, 20 Januari 2012 13:00 WIB
Selasa, 17 Januari 2012 14:38 WIB
Jumat, 13 Januari 2012 15:15 WIB
Selasa, 10 Januari 2012 09:30 WIB
07 Januari 2012 12:30 WIB
Selasa, 03 Januari 2012 13:00 WIB
Selasa, 27 Desember 2011 15:00 WIB
Selasa, 20 Desember 2011 09:00 WIB
Jumat, 16 Desember 2011 09:00 WIB
image image image image image