Jumat, 27 Agustus 2010 14:21 WIB
| 0 Komentar
GURU, di mata Triyem, merupakan profesi penuh kehormatan. Baginya, untuk menjadi guru, tak bisa punya ilmu sekadarnya. ''Apalagi saya lulus sarjana itu sudah belasan tahun yang lalu. Artinya, banyak hal baru yang pasti sudah berkembang di dunia sains. Apalagi saya mengajar kimia. Kalau mengajar itu-itu saja, anak-anak juga pasti bosan,'' ungkapnya saat ditemui
Media Indonesia di sekolah tempatnya mengajar, SMA 112 Jakarta, Senin (23/8).
Tapi mau bagaimana lagi. Profesi yang ia geluti sejak belasan tahun yang lalu itu menawarkan gaji yang jauh dari cukup untuk biaya pascasarjana. Meski cukup untuk makan, perempuan yang akrab di sapa Tri itu pun hanya bisa menyimpan dengan rapi impiannya menimba ilmu.
''Makanya, saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui dinas pendidikan membagikan beasiswa S-2 gratis bagi guru yang terseleksi, saya berusaha sebaik-baiknya, siapa tahu terpilih,'' ucap perempuan yang selalu juara kelas semasa SD dan SMP ini.
Tri akhirnya mampu menyisihkan puluhan saingannya. Dari SMA tempat ia bekerja, hanya ia yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister Universitas Indonesia.
''Wah saya senang sekali. UI bagi saya semacam kampus impian. Meski harus jauh bolak-balik kuliah, saya merasa tidak berat menjalaninya. Tiga hari kuliah dari pagi sampai malam, tiga hari mengajar, satu hari urus anak,'' papar Tri yang bertempat tinggal di Tangerang.
Dengan kuliah lagi, Tri membayangkan berbagai hal yang diserapnya selama kuliah untuk dibagikan kepada anak muridnya.
''Keinginan saya sederhana saja. Kalau saya punya ilmu lebih, saya bisa bantu siswa membuka wawasan mereka. Masak mereka hanya saya ajarkan hitung-hitungan terus,'' ucapnya.
Antioksidan alami
Keseriusan perempuan berusia 42 tahun ini dalam mengembangkan dirinya di perlihatkannya saat melakukan penelitian untuk menyusun tesis. Tak tanggung-tanggung, Tri mencoba meneliti kekayaan hayati yang belum pernah diteliti orang lain, yakni
Garcinia ef bancana miq, alias manggis hutan.
''Ada sih manggis yang sudah diteliti peneliti luar, tapi bukan yang jenis ini. Penelitian saya ini menggunakan manggis yang hidup di Kalimantan Tengah. Saya dapatkan bentuk herbalnya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),'' tuturnya.
Ia sengaja mengambil topik penelitian itu karena prihatin atas keragaman hayati Indonesia yang belum termanfaatkan dengan baik. Justru banyak peneliti asing yang melakukan penelitian terhadap berbagai tumbuhan di hutan tropis Indonesia.
''Indonesia itu kan Negara tropis, berarti kaya tumbuhan tropis, salah satunya pohon manggis yang banyak tumbuh di hutan-hutan tropis. Ini harusnya menjadi anugerah, tapi justru belum optimal digunakan. Harusnya kita yang teliti sendiri,'' timpalnya.
Padahal secara umum, manggis terbukti memiliki banyak manfaat. Mulai dari antikanker, antibakteri, hingga pengobatan malaria.
''Yang bisa diteliti juga beragam, mulai dari batang, daun, sampai buah. Saya meneliti bagian batangnya,'' papar Tri.
Lantas, penelitian yang ia kerjakan di laboratorium LIPI, Serpong, tersebut berbuah menjadi penemuan senyawa antioksidan yang aktif dalam batang pohon manggis hutan. ''Berarti Indonesia punya bahan alami untuk membuat antioksidan, tak perlu menggunakan yang sintetis,'' tukasnya.
Penelitian lanjutan
Guru kimia ini mengakui penemuannya dalam riset sederhana tersebut masih butuh penelitian lanjutan. Agar bermanfaat, imbuhnya, perlu uji klinis dan pengembangan. Bahkan, Tri, membayangkan kalau temuannya dimanfaatkan, Indonesia tak perlu lagi mengimpor antioksidan.
''Antioksidan itu kan banyak manfaatnya. Bisa buat perawatan kulit, pencegahan pembusukan, pengawet minyak, dan masih banyak lagi. Sayang kalau tidak dikembangkan,'' papar ibu satu anak ini.
Namun, melakukan pengembangan sendiri, bagi Tri, merupakan mimpi mewah lainnya. Ia lebih berharap ada yang melanjutkan penelitiannya agar antioksidan yang ditemukannya dapat segera diaplikasikan.
''
Kepingin sih (mengembangkan penelitian) kalau ada kesempatan, tapi saya rasa cukup saya saja (menelitinya). Rasanya itu di luar jangkauan saya. Lagi pula saya kan guru. Saat ini saya lebih ingin membagi apa yang sudah saya dapat,'' sahutnya sambil menghela napas.
Tri pun berharap guru-guru di seluruh Indonesia tak puas dengan pendidikan yang sudah mereka enyam. Terutama guru-guru di daerah pelosok. ''Kalau semua guru, terutama guru-guru bidang IPA, mau mengembangkan wawasan, menempuh pendidikan pascasarjana, serta melakukan penelitian, tak sulit membuat anak tertarik dengan pelajaran ini. Apalagi kalau para guru bisa mengaitkan dengan kemajuan teknologi saat ini. Ini pasti menarik,'' pungkasnya. (M-4)