Kamis, 10 Maret 2011 15:35 WIB
Nikmatnya Bersantap di Food Library
Penulis : Yulia Permata Sari

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Nikmatnya Bersantap di Food Library

MI/Yulia Permata Sari

JIKA menyebut kata perpustakaan, yang terlintas di kepala Anda barangkali sebuah ruangan dengan deretan rak berisi buku-buku tersusun rapi. Tapi, lain halnya dengan Food Library. Di tempat ini, Anda bisa menjumpai puluhan tenant yang menjajakan makanan penggoda selera.

Gerai makanan (food court) yang terdapat di Mal Ciputra Jakarta itu, mengusung konsep unik dan berbeda dibandingkan gerai makanan lain. Desain interior di Food Library dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai perpustakaan yang nyaman.

''Food Library ini konsepnya keluar dari rule. Di mana-mana, di perpustakaan orang diam dan membaca. Nah, konsep Food Librabry ini tempatnya cozy dan nyaman, dengan live music sebagai hiburan,'' jelas Public Relation Mal Ciputra Jakarta Rida Kusrida, Kamis (10/3).

Sebelumnya, gerai makanan yang terdapat di mal tersebut dikenal dengan nama Pasar Senggol. Namun, sejak Juni 2010 konsepnya berubah dan berganti nama menjadi Food Library. Pergantian nama dari gerai makanan yang terdapat di lantai enam itu, juga diikuti dengan perubahan suasana dan interior di dalamnya untuk menarik pengunjung.

Total terdapat 35 tenant yang menjajakan berbagai menu tradisional mau pun internasional, mulai dari Bakmi Bangka, Batagor Cuplis, Nasi Gandul Khas Pati, Bakwan Malang Arema, Frozen Fruit Ice, Tahu Kok Bangka, Pempek Palembang, Dadap Kuring Khas Sunda, Afung Baso Sapi Asli, Sop Betawi Raja Sop Betawi, Soto Kudus Blok M, Ayam Penyet Lombok Merah, Sushi Resto, Teppanyaki Smart Chef, dan Cariss Ayam Presto. Harganya juga bervariasi, mulai dari Rp3.000,00-Rp20.000,00 untuk minuman dan Rp20.000,00-Rp30.000,00 untuk makanan.

''Di sini kita menyediakan masakan tradisional dan internasional. Indonesian food sekitar 70 persen, Japanese food 20 persen, dan Chinese food 10 persen,'' ujar Food Court Manager Inge Sidharta.

Menurut Inge, konsep perpustakaan sengaja dipilih untuk menciptakan atmosfer berbeda dan nyaman. Sayangnya, para pengunjung tidak dapat benar-benar membaca buku di sana. Sebab, semua buku di Food Library hanya pajangan dan bukan buku sungguhan.

''Kami tidak menyediakan bukunya, tapi influence suasana aja. Pas baru selesai, kita trial pakai real book. Tapi, maintenance-nya susah. Buku kena makanan, hilang, rusak. Kita belum siap hadapi itu,'' imbuhnya. (LI/OL-06)

MORE INFO
Jumat, 17 Februari 2012 10:34 WIB
23 Juli 2011 14:25 WIB
Senin, 11 Juli 2011 13:10 WIB
Jumat, 17 Juni 2011 23:40 WIB
Jumat, 17 Juni 2011 11:25 WIB
21 Mei 2011 12:30 WIB
Rabu, 20 April 2011 18:00 WIB
Rabu, 06 April 2011 13:30 WIB
Senin, 28 Maret 2011 15:00 WIB
Senin, 21 Maret 2011 12:20 WIB
Senin, 21 Februari 2011 09:00 WIB
Selasa, 15 Februari 2011 15:00 WIB
image image image image image