21 Mei 2011 12:30 WIB
Mooryati Soedibyo Luncurkan Buku
Penulis : Yulia Permata Sari

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Mooryati_Soedibyo_Luncurkan_Buku

MI/Yulia Permata Sari

MANTAN Wakil Ketua MPR RI periode 2004-2009 Dr. BRA Mooryati Soedibyo meluncurkan sebuah buku berjudul Transforming Woman's Voices, Jumat (20/5), di Jakarta. Peluncuran tersebut dilakukan bertepatan dengan peringatan ke-103 Hari Kebangkitan Nasional.

Buku yang ditulis pendiri PT Mustika Ratu, Tbk. itu berisi catatan pengalamannya selama lima tahun duduk di kursi parlemen. Buku Transforming Woman's Voices juga merupakan refleksi diri anggota Panitia Ad Hoc III tersebut, yang selama lima tahun mengemban tugas memperjuangkan aspirasi masyarakat di bidang agama, pendidikan, kesehatan, perempuan, kesejahteraan sosial, budaya dan pemuda.

''Kita semua berharap, peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang kini sering disebut Kebangkitan Nasional Kedua, menjadi momen yang tepat untuk mewujudkan komitmen kita bersama sebagai warga bangsa dan warga negara Republik tercinta, untuk bangkit dan berjuang di segala bidang, mewujudkan cita-cita para Bapak dan Ibu bangsa di tengah perkembangan dunia yang penuh tantangan sekaligus peluang,'' ujar Mooryati.

Transforming Woman's Voices merupakan persembahannya bagi generasi muda dan kaum perempuan di Tanah Air, terutama bagi mereka yang sedang berjuang dan mendedikasikan diri bagi perbaikan hidup dan pemberdayaan kaum perempuan ke arah yang lebih baik.

Mooryati menegaskan, kedudukan perempuan Indonesia saat ini masih banyak ketinggalan. ''Tradisi yang ada masih berlaku di Indonesia ini adalah tradisi patriarkal. Tradisi di mana wanita tidak diizinkan untuk bekerja atau melakukan usaha, bisnis, karena bisa mengurangi wibawa suami. Banyak pembatasan-pembatasan bagi seorang wanita untuk berbisnis, mencari uang,'' katanya.

Kompetensi
Oleh karena itu, Mooryati mengimbau kaum perempuan untuk memperkuat, memberdayakan dirinya, meningkatkan pengetahuan dan terutama kompetensinya di bidang politik, agar memiliki potensi memperjuangkan kepentingan perempuan di dalam lembaga legislatif.

''Karena yang menyedihkan adalah wanita itu dianggap lemah, tidak punya kekuatan, tidak bisa menjadi pempimpin, tidak bisa menjadi anggota politik. Dia tempatnya adalah menjadi guru, ibu rumah tangga, itu saja. Tapi, tidak bisa menjadi pempimpin. Oleh karena itu, wanita harus sekolah. Dan kalau tidak menjadi anggota legislatif, saya menganjurkan kepada wanita untuk belajar, untuk meningkatkan kemampuannya.''

Mooryati mengimbuhkan, yang terpenting bukan jumlah perempuan di dalam lembaga legislatif, melainkan kemampuannya untuk bisa memajukan aspirasi masyarakat dan ikut serta dalam membuat keputusan-keputusan yang menguntungkan kaum perempuan.

Kaum perempuan, menurut Mooryati, memiliki landasan yang kuat untuk berjuang karena memiliki karakter dan nilai yang sejatinya melekat pada diri mereka. Dia juga yakin perempuan memiliki kekuatan besar yang merupakan paduan antara pribadi yang penuh kasih sayang, perhatian, lembut dan jujur dengan sikap tegar, gigih, dan pantang menyerah.

Dengan bekal kekuatan-kekuatan itu, Mooryati yakin perempuan Indonesia akan mampu mengatasi berbagai tantangan yang muncul sebagai dampak sosio-kultural yang tidak ramah terhadap perempuan. (Yul/OL-06)


MORE INFO
Jumat, 17 Februari 2012 10:34 WIB
23 Juli 2011 14:25 WIB
Senin, 11 Juli 2011 13:10 WIB
Jumat, 17 Juni 2011 23:40 WIB
Jumat, 17 Juni 2011 11:25 WIB
Rabu, 20 April 2011 18:00 WIB
Rabu, 06 April 2011 13:30 WIB
Senin, 28 Maret 2011 15:00 WIB
Senin, 21 Maret 2011 12:20 WIB
Kamis, 10 Maret 2011 15:35 WIB
Senin, 21 Februari 2011 09:00 WIB
Selasa, 15 Februari 2011 15:00 WIB
image image image image image