Selasa, 20 Desember 2011 09:00 WIB
Leymah Gbowee, Puasa untuk Kedamaian Liberia
Penulis : Annisa Indri Lestari

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Leymah_Gbowee_Puasa_untuk_Kedamaian_Liberia_

thedailybeast.com

PERAIH Nobel Perdamaian Leymah Gbowee, 39, memobilisasi seluruh etnis dan agama di Liberia agar mengakhiri perang brutal antar warga sipil yang telah berlangsung selama 14 tahun.

Ketika perang masih berlangsung,di tengah hantaman peluru, mereka berdoa dan protes selama berhari-hari, menuntut konflik antara mantan Presiden Charles Taylor dan pasukan pemberontak."Pada tahun 2003, sangat sulit kami tinggal dalam lingkungan konflik selama 14 tahun. Kemudian saya memutuskan untuk mengambil tindakan bagi perdamaian. Termasuk tindak pencegahan, berpuasa dan berdoa," kata Ms Gbowee kepada Focus BBC untuk program Afrika. Gbowee menyarankan para wanita agar melakukan mogok seks dalam upaya para pasangannya bertikai dengan nalurinya.

Lahir di sebuah desa di Liberia pada 1972, Gbowee, saat ini menjadi Kepala Women Peace and Security Network (WPSN) yang berbasis di Ghana.Ia dilatih sebagai konselor trauma, bekerja di antara anak perempuan dan perempuan yang diperkosa oleh milisi.

Gbowee melakukan konseling tidak hanya di Liberia tetapi juga negara-negara Afrika lainnya seperti Republik Demokratik Kongo.Ia mendorong diri ke aktivisme politik, mengumpulkan perempuan untuk kampanye untuk mengakhiri kekerasan di Liberia.

Prestasi puncaknya datang pada tahun 2003 ketika dia membawa ribuan perempuan bersama-sama untuk protes di ibukota, Monrovia. Tujuannya menjatuhkan kepemimpinan Taylor yang kini diadili di Den Haag atas tuduhan kejahatan perang.

Nobel Perdamaian dan buku
Komite Nobel memilih Gbowee karena mampu memobilisasi dan mengorganisir perempuan di garis pemisah etnis dan agama untuk mengakhiri perang panjang di Liberia. Ia pun telah bekerja untuk meningkatkan pengaruh perempuan di Afrika Barat selama dan setelah perang.

Sejak konflik berakhir, Gbowee telah menulis sebuah buku, Mighty Be Our Powers: How Sisterhood, Prayer, and Sex Changed a Nation at War. Berisi kronikal kekerasan di Liberia dan peran yang dimainkan perempuan untuk mengakhiri konflik. Ia baru saja mengakhiri tur AS untuk mempromosikan buku tersebut.

Saat ini dia juga membantu mengatur pertemuan puncak perdamaian di Pantai Gading. Dimana konflik berkepanjangan sudah berakhir sejak April lalu. Gbowee dianugerahi Nobel Perdamaian bersama dengan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf. (*/OL-06)

BERITA TERKAIT
image image image image image