Minggu, 14 Maret 2010 08:35 WIB
Sarana Eskapis Dunia Perkotaan
Penulis : Eri Anugerah
Justito Adiprasetio
DI tengah-tengah sengatan sinar matahari, namun dengan cuaca sedikit lembab, Kebun Raya Bogor dengan hembusan angin lembut khas taman kota dan rindangnya pohon-pohon besar berusia ratusan tahun, masih menarik perhatian sebagian orang yang berusaha keluar dari kejenuhan kota.
Pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang utama Kebun Raya Bogor, kita akan langsung disambut dengan megahnya pintu raksasa yang dijaga oleh dua gajah Ganesha, simbol kebijaksanaan agama Hindu. Bentuk pintu raksasa ini, mengingatkan kita pada bentuk bagian depan istana megah bergaya Eropa khas pemerintahan kolonial.
Melewati pintu utama kita disambut pohon-pohon kenari (canarium commune) yang tidak terlalu besar, tapi tertancap kokoh di kanan kiri jalan. Konon, pohon-pohon tersebut ditanam oleh Johannes Elias Teysmann, seorang penata taman dari Belanda pada tahun 1832.
Tidak jauh dari situ kita akan menemukan Tugu Lady Raffles, istri dari Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal yang sangat tersohor dan memerintah Jawa pada 1811-1816. Monumen bersejarah ini dilindungi kubah yang memiliki gaya arsitektur Eropa. Seperti Taj Mahal di India yang khusus dipersembahkan Shah Jahan untuk mendiang istrinya Mumtaz Mahal, Tugu Lady Raffles didirikan Raffles sebagai simbol cinta abadi kepada istrinya Lady Olivia Marianne yang meninggal pada tahun 1814.
Melangkah lebih jauh, pengunjung dapat melihat Istana Bogor yang dikelilingi Kolam Gunting yang dipenuhi bunga teratai, bunga ini akan terlihat sangat indah saat mekar. Sementara itu, di seberang kolam terdapat pohon leci, pohon tertua di Kebun Raya Bogor. Konon, pohon yang khusus didatangkan dari China itu sudah ada sejak tahun 1823.
Berjalan-jalan mengelilingi Kebun Raya, memang mengasyikkan. Namun, Anda harus berhati-hati terhadap kotoran burung. Tercatat lebih dari 50 jenis burung ada di sini. Apabila kita beruntung, dengan hanya sedikit mendongakkan kepala kita dapat melihat burung-burung bersliweran, seperti jenis kepodang, walik kembang, kutilang, kowak, kuntul dan cinenen kelabu. Bahkan saat waktu mulai menginjak sore, biasanya puluhan hingga ratusan kuntul bersliweran sembari mengeluarkan suara khas.
Museum Botani
Masih dalam area Kebun Raya Bogor, kita bisa berkunjung ke Museum Zoologi yang dapat diakses melalui pintu yang ada di dekat gerbang utama. Di dalam museum, kita akan menemukan koleksi jutaan spesimen yang terdiri dari puluhan ribu jenis fauna di berbagai kelas mamalia, aves, reptile dan ikan, moluska, serangga dan invertebrata lainnya.
Di bagian depan museum ini kita akan menjumpai kerangka ikan paus dengan ukuran yang luar biasa besar. Selain kerangka, di dalam Museum Zoologi ini kita juga dapat menjumpai berbagai satwa yang diawetkan. Karena berasal dari satwa yang diawetkan maka ukuran yang ada adalah ukuran yang sebenarnya. Uniknya masing-masing satwa semisal banteng, badak dan orang utan dibuat dengan latar belakang habitat asli mereka.
Tidak jauh dari Museum Zoologi, terdapat Museum Etnobotani. Museum yang terletak bersebelahan dengan Gedung Herbarium Bogoriense ini memiliki koleksi yang jumlahnya mencapai ribuan, terdiri dari bahan pangan, sandang, papan, obat-obatan tradisional, alat rumah tangga, alat transportasi, alat pertanian, alat perikanan, alat musik, sarana upacara adat, mainan anak hingga kosmetik tradisional yang secara keseluruhan berbahan dasar tumbuh-tumbuhan.
Tata cahaya ruangan menjadi salah satu hal yang menarik dari museum ini. Hampir seluruh ruangan museum ini gelap gulita, hanya ditemani beberapa sorot cahaya lampu di beberapa lorong yang bertujuan untuk menerangi koleksi museum. Kondisi minim cahaya ini kerap menimbulkan rasa gelisah pengunjungnya. Konon, penataan cahaya ini sengaja dilakukan agar pengunjung fokus pada objek koleksi.
Museum Perjuangan Kemerdekaan
Selain berbagai museum botani, Kota Bogor juga menawarkan wisata lainnya seperti Museum Perjuangan dan Museum PETA. Museum perjuangan yang terletak Jalan Merdeka No. 56 Bogor didirikan pada tahun 1958 sebagai tempat penyimpanan berbagai jenis senapan yang digunakan para perjuang saat memperebutkan kemerdekaan. Selain senapan, museum ini juga memiliki koleksi pakaian pejuang yang sebagian di antaranya memiliki noda darah asli.
Masih banyak lagi lokasi yang kaya sejarah yang dapat dikunjungi, seperti Gedung Bakorwil dan Gedung Balaikota yang telah alih fungsi sebagai gedung pemerintahan. Juga, stasiun Kereta Kota Bogor yang terus berfungsi sejak pemerintahan kolonial Belanda.
Terdapat juga tiga tempat peribadatan yang memiliki latar sejarah yang layak untuk dikunjungi. Kelenteng Hok Tek Bhio yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang utama Kebun Raya Bogor dan telah berdiri sejak tahun 1672, Gereja Kathedral yang didirikan pada tahun 1750 dan Masjid Empang pada tahun 1815. Prasasti Batu Tulis pun tidak boleh ketinggalan, salah satu peninggalan kerajaan Padjadjaran dari abad ke 16 ini termasuk salah satu tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi. (*/M-5)