Naskah Arifin C Noer, Putu Wijaya, hingga Iwan Simatupang dibawakan anak-anak SMA. Mereka berkompetisi di panggung teater.

Hervinny Wongso


“Miskin, kaya, sengsara, bahagia.” Gumaman itu terus berulang dari para aktor. Tak lama berselang, satu per satu pemain masuk ke panggung, meniru kalimat yang sama.

Adegan pembuka itulah yang disuguhkan Teater Senapati. Kelompok teater asal SMA 3 Pasundan ini merupakan peserta pertama yang tampil dalam Festival Teater Remaja (FTR), di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung, Jawa Barat, sore itu (12/2).

Dengan durasi 90 menit, lakon berjudul Bulan dan Kerupuk menceritakan kemiskinan yang melanda suami istri muda, Jalu dan Ipah.

Keduanya yang berasal dari dua kelas ekonomi berbeda didera kemiskinan. Meski berganti latar cerita berulang kali dan penggunaan properti yang minim, naskah karya Yusef Muldiyana ini dipentaskan dengan baik. Lebih istimewa lagi, jemuran dan ayam jago diwakili pemain yang mengenakan kostum serbahitam dengan topeng putih.

Minat bertambah Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, jumlah peserta FTR meningkat, dari semula 20 menjadi 26 sekolah. Seluruh peserta merupakan siswa setingkat SMA dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Garut, Sumedang, Karawang, dan Bandung sendiri.

“Penambahan ini menunjukkan bahwa remaja juga mulai tertarik untuk berteater,” ujar Machmudin, ketua pelaksana tahun ini.

Pendapat itu diamini Rizka Trian Palupy, siswi SMA 1 Karawang. “Buatku, teater enggak sekadar mengembangkan bakat, tapi juga media belajar untuk mengenal daerah sekitar dan beradaptasi dengan dunia luar,” ujar siswi kelas XI itu.

Sebelum mengikuti FTR, Rizka dan kawan-kawan pun berpartisipasi dalam Festival Teater Sunda Kiwari tahun lalu. Tak ingin ketinggalan momen, sekolahnya pun kembali berpartisipasi pada FTR tahun ini. “Persiapannya hampir sebulan. Yang penting kita menampilkan yang terbaik, minimal menang untuk diri sendiri.”

Asah diri

FTR III, dok. Taufik Darwis

“Berbeda dengan musikal atau kabaret, teater banyak berbicara tentang kejujuran. Kemampuan akting harus kuat karena pemain tampil tanpa lip sync atau iringan musik seperti pementasan lain,” jelas Taufik Darwis, penulis naskah sekaligus sutradara teater lulusan STSI.

Selain itu, salah satu penggagas FTR tersebut menjabarkan bagaimana teater mampu menjawab dan menawarkan banyak hal berbeda yang tidak ditemui pada media seni yang lain.

“Dengan berbagai peran dan tindakan yang harus dilakukan, teater mengasah kemampuan menceritakan naskah, percaya diri di panggung, hingga pembinaan karakter seseorang,” tambahnya.

Karena itulah pria yang gemar membaca ini mengungkapkan harapannya agar teater bisa terus dikembangkan segenap masyarakat termasuk pemerintah, layaknya kecintaan kita dalam menjaga budaya angklung, batik, atau gamelan. Jadi, mari berteater!

Did you like this? Share it:

FTR III, dok. Taufik Darwis

Bagi sahabat Move yang sudah tergabung dalam kelompok teater, ayo tantang diri kalian dalam berbagai festival teater yang rutin digelar setiap tahun. Ini dia ajangnya!

Festival Teater Jakarta (FTJ)

Ajang ini merupakan program tahunan Dewan Kesenian Jakarta. FTJ yang digelar pertama kalinya pada 1976 terbuka bagi pegiat teater dari kalangan umum.

Sesuai dengan konsep festival, ajang yang biasanya diselenggarakan pada akhir tahun ini juga kerap mengadakan hiburan lain seperti diskusi tematik, pemutaran video teater, hingga peluncuran buku.

Dkj.or.id

Festival Teater Sastra Indonesia (Fiesta)

Awalnya, Fiesta merupakan ujian akhir mata kuliah apresiasi drama bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta.

Supaya lebih menarik, nama pun berganti menjadi Fiesta Award sejak 2008. Festival ini terbuka untuk umum. Ajang ini biasa digelar di penghujung tahun, sekitar November hingga Januari.

Facebook: Fiesta (Festival Teater Sastra Indonesia)

Festival Teater SLTA (FTS)

Lewat inisiatif dari beberapa kelompok teater SMA daerah Jabodetabek, ajang ini terlaksana sejak 1989. Jumlah peserta yang terus meningkat membuat panitia menerapkan sistem kurasi untuk mengambil 22 kelompok terpilih menuju malam final FTS.

Khusus FTS Jabodetabek ke-22 tahun ini, tema yang diambil adalah Pesta rakyat. Saat ini sedang berlangsung periode pendaftaran.

Festivalteaterslta22.co.cc

Did you like this? Share it:

Banyak anak muda berusaha tampil gaul dengan berorientasi ke Barat. Padahal begitu banyak penyimpangan, nilai-nilai negatif, dan disintegrasi moral yang tidak cocok diadaptasi oleh masyarakat Timur. Pergaulan yang buruk dan teman-teman yang tidak membawa perubahan positif membuat begitu banyak anak muda terjerumus. Mereka takut dianggap cupu, culun, dan banci. Akibatnya, tren gaul ini membudaya hingga [...]

Ini dia yang mesti dihindari anak gaul yang asyik seperti kamu! 1. Merokok. Tar, nikotin, dan 4.000 jenis bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalam rokok berpotensi menimbulkan kanker, penyakit jantung, hingga impotensi. Tak hanya itu, merokok juga merugikan dan mengganggu orang lain. Kita sudah melanggar hak orang lain untuk mendapatkan udara segar. Uang saku [...]

Karya : Fajar Adhi Putera Mahasiswa jurusan Teknik Informatika UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Did you like this? Share it:Tweet

Asep Supiandi memilih bergelut dengan tanah becek dan pupuk. Cita-citanya membuktikan bahwa petani adalah profesi bergengsi. Hervinny Wongso Mendekati pintu keluar, langkah Asep terhenti. Ia menunduk ke salah satu kantong tanaman ‘petunia’ dan mencabut sebongkah rumput kecil yang tertanam di tanah.”Ini gulma. Harus dicabut. Kalau tidak, akan merusak tumbuhan asli,” jelas pelajar kelahiran 1991 ini [...]