Meski kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan buat bercita-cita, ada SMP dan SMA gratis berasrama yang 100% siswanya diterima di perguruan tinggi negeri.
Hervinny Wongso
Sekitar empat tahun lalu, Ahmad Darmansyah pernah mengikuti lomba mata pelajaran sains tingkat kecamatan mewakili sekolahnya di Kebumen, Jawa Tengah. Sayang, Ahmad waktu itu belum berhasil membawa gelar juara.
“Sedih banget waktu itu ngelihat para juara megang piala,” cerita Ahmad sambil tertawa mengenang ceritanya waktu duduk di kelas 6 SD dulu, ketika ditemui di sekolahnya, Smart Ekselensia Indonesia.
Sekolah itu berbasis asrama, berdiri di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. Sekolah yang berdiri di lahan seluas 2,7 hektare itu diperuntukkan bagi kaum dhuafa atau mereka yang kurang mampu.
Tujuannya, anak Indonesia yang berprestasi, tapi kekurangan biaya bisa tetap belajar di sekolah. Seperti halnya Ahmad, anak bungsu dari lima bersaudara yang nyaris meninggalkan mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke tingkat sekolah menengah karena keterbatasan biaya.
Mereka yang lolos termasuk siswa pilihan lo. Pasalnya, dari 1.000 calon murid yang mendaftar setiap tahun, sekolah hanya menerima 30-35 murid lulusan SD dari seluruh Indonesia. Mereka akan menempuh pendidikan SMP hingga SMA di sekolah ini.
Pembatasan jumlah murid dilakukan karena keterbatasan lahan dan dana pembelajaran. Alasan itu juga yang membuat sekolah yang berdiri pada 2004 ini hanya menerima murid laki-laki.
Jika sekolah umum menerapkan tiga tahun untuk menempuh sekolah menengah atas, sistem akselerasi yang diterapkan membuat siswa mampu menyelesaikan materi dalam dua tahun. Sisa waktu digunakan untuk persiapan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. “Alhamdulillah sejak berdiri sampai sekarang, 100% murid kita masuk ke PTN di Indonesia,” ucap Hakam.
Sistem itu ternyata cukup berhasil melahirkan siswa berprestasi. Syukron Ramdhani, alumnus angkatan pertama Smart, berhasil terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Belgia. Termasuk pula Ahmad, ia lolos kejuaraan biologi tingkat provinsi, tahun kedua Ahmad menyumbangkan medali emas untuk olimpiade sains tingkat nasional di Medan.
Nah, pada Juni nanti, Ahmad dan sembilan temannya dari Smart akan kembali bertanding di kejuaraan tingkat provinsi. Kita doakan semoga mereka berhasil!
Disiplin

Sudah baca buku Negeri 5 Menara? Ingat sekolah Pondok Madani? Nah, sekilas Smart juga punya metode yang hampir mirip dengan Pondok Madani.
Setiap hari, siswa harus bangun pukul 3.30 untuk membersihkan kamar dan bersiap menunaikan ibadah. Setelah itu, dilanjutkan dengan apel pagi yang diikuti murid dan seluruh pengajar. Kegiatan belajar-mengajar berlangsung pukul 07.00 hingga pukul 15.00. Karena berbasis agama, ibadah pun menjadi hal wajib bagi para siswa.
Di luar jam sekolah, murid sering memanfaatkan malam hari untuk mendalami bahasa Arab, matematika, atau mata pelajaran lain. “Ada guru yang tinggal di sekolah sehingga ia tetap mengajar di luar jam belajar,” tambah Hamka.
Khusus hari Sabtu, siswa diizinkan untuk berjalan-jalan, sesuai izin pengurus asrama, hingga pukul 16.00. Nah, di hari Minggu, siswa harus tinggal di asrama untuk mempersiapkan diri menuju hari Senin. Sanksi bagi mereka yang melanggar peraturan juga sudah disiapkan sekolah.
Waktu siswa untuk pulang ke kampung hanya setahun sekali. Itu pun menjadi tanggungan sekolah. Jika ada yang rindu dengan keluarga di rumah, sekolah menyediakan telepon genggam yang bisa digunakan sesuai izin. “Biasa kalau mau lomba atau rindu rumah, telepon orang tua dulu, untuk minta dukungan. Hehe,” cerita Ahmad.
Motivasi
“Banyak pengalaman seru karena bisa ketemu teman-teman seluruh Indonesia. Walaupun sempat galau sih waktu pertama kali pindah, hehehe,” cerita Rudy Setiawan, murid asal Sorong, Papua.
Memasuki tahun terakhirnya, Rudy berkeinginan untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Paramadina, untuk mengejar mimpinya menjadi seorang ilustrator. “Banyak yang sudah mempercayai saya, mulai dari teman sampai keluarga. Jadi saya tidak ingin mengecewakan mereka,” tutur Rudy.
Ahmad juga memiliki motivasinya sendiri. “Ibu sudah lanjut usia. Kapan lagi saya bisa membanggakan mereka kalau tidak dari sekarang,” cerita siswa yang ingin menjadi dokter itu.
Seusai menyelesaikan sekolahnya di Smart, Rudy dan siswa yang lulus tidak akan tinggal di asrama lagi. Mereka harus berjuang mendapatkan beasiswa di tingkat universitas, dengan jalur yang telah difasilitasi pihak sekolah.
Meski begitu, ilmu dari sekolah akan terus melekat di tiap siswa. “Sekolah menanamkan nilai jujur, disiplin, peduli, santun, dan bersungguh-sungguh. Insya Allah nilai ini yang akan terus saya pegang di luar nanti,” ucap Rudy.
