<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>move</title>
	<atom:link href="http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mediaindonesia.com/move</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 May 2012 06:20:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.2</generator>
		<item>
		<title>Sekolah Asrama Gratis, agar Mimpi Jadi Nyata</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2794</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2794#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 05:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Move Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2794</guid>
		<description><![CDATA[Meski kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan buat bercita-cita, ada SMP dan SMA gratis berasrama yang 100% siswanya diterima di perguruan tinggi negeri. Hervinny Wongso Sekitar empat tahun lalu, Ahmad Darmansyah pernah mengikuti lomba mata pelajaran sains tingkat kecamatan mewakili sekolahnya di Kebumen, Jawa Tengah. Sayang, Ahmad waktu itu belum berhasil membawa gelar juara. &#8220;Sedih banget [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Meski  kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan buat bercita-cita, ada SMP dan  SMA gratis berasrama yang 100% siswanya diterima di perguruan tinggi  negeri.</em></p>
<p><strong>Hervinny Wongso </strong></p>
<p>Sekitar empat tahun lalu, Ahmad  Darmansyah pernah mengikuti lomba mata pelajaran sains tingkat kecamatan  mewakili sekolahnya di Kebumen, Jawa Tengah. Sayang, Ahmad waktu itu  belum berhasil membawa gelar juara.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Sedih banget waktu itu <em>ngelihat</em> para juara <em>megang</em> piala,&#8221; cerita Ahmad sambil tertawa mengenang ceritanya waktu duduk di  kelas 6 SD dulu, ketika ditemui di sekolahnya, Smart Ekselensia  Indonesia.</p>
<p style="text-align: left;">
<a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/Satu-kelas-berisi-maksimal-20-siswa.-.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-2795" title="Satu kelas berisi maksimal 20 siswa." src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/Satu-kelas-berisi-maksimal-20-siswa.--1024x682.jpg" alt="" width="368" height="245" /></a></p>
<p>Sekolah itu berbasis asrama, berdiri di daerah  Parung, Bogor, Jawa Barat. Sekolah yang berdiri di lahan seluas 2,7  hektare itu diperuntukkan bagi kaum dhuafa atau mereka yang kurang  mampu.</p>
<p>Tujuannya, anak Indonesia yang berprestasi, tapi  kekurangan biaya bisa tetap belajar di sekolah. Seperti halnya Ahmad,  anak bungsu dari lima bersaudara yang nyaris meninggalkan mimpinya untuk  melanjutkan sekolah ke tingkat sekolah menengah karena keterbatasan  biaya.</p>
<p>Mereka yang lolos termasuk siswa pilihan lo.  Pasalnya, dari 1.000 calon murid yang mendaftar setiap tahun, sekolah  hanya menerima 30-35 murid lulusan SD dari seluruh Indonesia. Mereka  akan menempuh pendidikan SMP hingga SMA di sekolah ini.</p>
<p>Pembatasan jumlah murid dilakukan karena  keterbatasan lahan dan dana pembelajaran. Alasan itu juga yang membuat  sekolah yang berdiri pada 2004 ini hanya menerima murid laki-laki.</p>
<p>Jika sekolah umum menerapkan tiga tahun untuk  menempuh sekolah menengah atas, sistem akselerasi yang diterapkan  membuat siswa mampu menyelesaikan materi dalam dua tahun. Sisa waktu  digunakan untuk persiapan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri.  &#8220;Alhamdulillah sejak berdiri sampai sekarang, 100% murid kita masuk ke  PTN di Indonesia,&#8221; ucap Hakam.</p>
<p>Sistem itu ternyata cukup berhasil melahirkan siswa  berprestasi. Syukron Ramdhani, alumnus angkatan pertama Smart, berhasil  terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Belgia. Termasuk  pula Ahmad, ia lolos kejuaraan biologi tingkat provinsi, tahun kedua  Ahmad menyumbangkan medali emas untuk olimpiade sains tingkat nasional  di Medan.</p>
<p>Nah, pada Juni nanti, Ahmad dan sembilan temannya  dari Smart akan kembali bertanding di kejuaraan tingkat provinsi. Kita  doakan semoga mereka berhasil!</p>
<p><em>Disiplin</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-2796" title="Setiap siswa wajib bisa mencukur. Untuk satu kali cukur, pelanggan dikenakan 2.000 rupiah untuk siswa, dan 4.000 rupiah untuk pengurus sekolah." src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/Setiap-siswa-wajib-bisa-mencukur.-Untuk-satu-kali-cukur-pelanggan-dikenakan-2.000-rupiah-untuk-siswa-dan-4.000-rupiah-untuk-pengurus-sekolah.--1024x689.jpg" alt="" width="368" height="248" /></p>
<p>Sudah baca buku <em>Negeri 5 Menara</em>? Ingat sekolah Pondok Madani? Nah, sekilas Smart juga punya metode yang hampir mirip dengan Pondok Madani.</p>
<p>Setiap hari, siswa harus bangun pukul 3.30 untuk  membersihkan kamar dan bersiap menunaikan ibadah. Setelah itu,  dilanjutkan dengan apel pagi yang diikuti murid dan seluruh pengajar.  Kegiatan belajar-mengajar berlangsung pukul 07.00 hingga pukul 15.00.  Karena berbasis agama, ibadah pun menjadi hal wajib bagi para siswa.</p>
<p>Di luar jam sekolah, murid sering memanfaatkan  malam hari untuk mendalami bahasa Arab, matematika, atau mata pelajaran  lain. &#8220;Ada guru yang tinggal di sekolah sehingga ia tetap mengajar di  luar jam belajar,&#8221; tambah Hamka.</p>
<p>Khusus hari Sabtu, siswa diizinkan untuk  berjalan-jalan, sesuai izin pengurus asrama, hingga pukul 16.00. Nah, di  hari Minggu, siswa harus tinggal di asrama untuk mempersiapkan diri  menuju hari Senin. Sanksi bagi mereka yang melanggar peraturan juga  sudah disiapkan sekolah.</p>
<p>Waktu siswa untuk pulang ke kampung hanya setahun  sekali. Itu pun menjadi tanggungan sekolah. Jika ada yang rindu dengan  keluarga di rumah, sekolah menyediakan telepon genggam yang bisa  digunakan sesuai izin. &#8220;Biasa kalau mau lomba atau rindu rumah, telepon  orang tua dulu, untuk minta dukungan. <em>Hehe</em>,&#8221; cerita Ahmad.</p>
<p><em>Motivasi</em></p>
<p>&#8220;Banyak pengalaman seru karena bisa ketemu  teman-teman seluruh Indonesia. Walaupun sempat galau sih waktu pertama  kali pindah, <em>hehehe</em>,&#8221; cerita Rudy Setiawan, murid asal Sorong, Papua.</p>
<p>Memasuki tahun terakhirnya, Rudy berkeinginan untuk  melanjutkan kuliahnya di Universitas Paramadina, untuk mengejar  mimpinya menjadi seorang ilustrator. &#8220;Banyak yang sudah mempercayai  saya, mulai dari teman sampai keluarga. Jadi saya tidak ingin  mengecewakan mereka,&#8221; tutur Rudy.</p>
<p>Ahmad juga memiliki motivasinya sendiri. &#8220;Ibu sudah  lanjut usia. Kapan lagi saya bisa membanggakan mereka kalau tidak dari  sekarang,&#8221; cerita siswa yang ingin menjadi dokter itu.</p>
<p>Seusai menyelesaikan sekolahnya di Smart, Rudy dan  siswa yang lulus tidak akan tinggal di asrama lagi. Mereka harus  berjuang mendapatkan beasiswa di tingkat universitas, dengan jalur yang  telah difasilitasi pihak sekolah.</p>
<p>Meski begitu, ilmu dari sekolah akan terus melekat  di tiap siswa. &#8220;Sekolah menanamkan nilai jujur, disiplin, peduli,  santun, dan bersungguh-sungguh. Insya Allah nilai ini yang akan terus  saya pegang di luar nanti,&#8221; ucap Rudy.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2794</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejar Beasiswanya!</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2792</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2792#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 05:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[How To Do After Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2792</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Move, sejak berdiri pada 2004, SMART Ekselensia Indonesia telah berkomitmen untuk memberikan pelayanan kepada anak Indonesia berprestasi yang kekurangan biaya untuk melanjutkan sekolah. Pendidikan yang diberikan harus dimulai dari SMP hingga lulus SMA. Artinya, pendaftaran dibuka setelah anak lulus SD. Beberapa tahap yang harus ditempuh calon siswa ialah tes berkas, seleksi akademik, tes tulis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat  Move, sejak berdiri pada 2004, SMART Ekselensia Indonesia telah  berkomitmen untuk memberikan pelayanan kepada anak Indonesia berprestasi  yang kekurangan biaya untuk melanjutkan sekolah.</p>
<p>Pendidikan yang diberikan harus dimulai dari SMP  hingga lulus SMA. Artinya, pendaftaran dibuka setelah anak lulus SD.  Beberapa tahap yang harus ditempuh calon siswa ialah tes berkas, seleksi  akademik, tes tulis, psikotes, dan pantauan akhir. Jika bisa melewati  semua tes itu, siswa baru bisa tinggal dan bersekolah di asrama.</p>
<p>Hingga sekarang, mitra kerja mereka telah tersebar  di lebih dari 20 kota di Indonesia. Untuk itu, Move akan berikan  beberapa daftar mitra kerja mereka untuk program ini. Siapa tahu, kita  bisa jadi agen untuk menyebarkan kabar gembira ini bagi mereka yang  membutuhkan.</p>
<p><em>Kepulauan Riau dan sekitarnya</em><br />
DSNI Amanah   Kompleks Masjid Nurul Islam,  Muka Kuning, Batam 29433<br />
Bp Puma &#8211; 0821  7067 5578</p>
<p><em>Kalimantan Barat dan sekitarnya </em><br />
Dompet Ummat Kalimantan  Barat  Jl Karimata No 2 A, Pontianak<br />
Syahrul &#8211; 0813 4594 0334</p>
<p><em>Sulawesi Selatan dan sekitarnya </em><br />
Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan  Jl Dr  Sam Ratulangi No 49, Makassar<br />
Mulyan Palubuhu &#8211; 0811 462 279</p>
<p><em>Panitia  pusat </em><br />
Saiful &#8211; 0853 1223 6560</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2792</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hemat ala Pejabat</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2789</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2789#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 05:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kreatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2789</guid>
		<description><![CDATA[Sonia Fitri Jurusan Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati, Bandung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/rapat.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-2790" title="Hemat ala Pejabat" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/rapat-1024x882.jpg" alt="" width="1024" height="882" /></a></p>
<p><strong>Sonia Fitri<br />
Jurusan Jurnalistik<br />
UIN Sunan Gunung Djati, Bandung </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2789</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Situ, Hunian Jadi Nyaman</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2784</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2784#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 05:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2784</guid>
		<description><![CDATA[Mari berkontribusi terhadap sekitar kita. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) membuktikannya dengan menyelamatkan Situ Leutik di sekitar kampus. Ariyani Diani Astika Mahasiswa Agronomi dan Holtikultura Institut Pertanian Bogor Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut Pertanian Bogor (Lawalata IPB) mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan dalam acara Save Our Situ 2012 (SOS 2012). SOS merupakan kegiatan tahunan Lawalata yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mari berkontribusi terhadap sekitar kita. Mahasiswa Institut Pertanian  Bogor (IPB) membuktikannya dengan menyelamatkan Situ Leutik di sekitar  kampus.</em></p>
<p><strong>Ariyani Diani Astika<br />
Mahasiswa Agronomi dan Holtikultura<br />
Institut Pertanian Bogor</strong></p>
<p>Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut  Pertanian Bogor (Lawalata IPB) mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan  dalam acara Save Our Situ 2012 (SOS 2012). SOS merupakan kegiatan  tahunan Lawalata yang menyorot keadaan danau yang berada di lingkungan  kampus, yaitu Danau LSI. SOS 2012 mengangkat tema Memanfaatkan  nilai-nilai lingkungan dari Situ Leutik IPB (Danau LSI) sebagai  ekosistem perairan menggenang untuk dijadikan sebagai media belajar bagi  generasi muda. Kepedulian akan isu lingkungan tergambarkan dengan  adanya aksi bersih Danau LSI. Danau LSI merupakan danau yang berada di  lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga. Danau LSI  terdiri atas dua danau bagian atas yang dikenal dengan nama Situ Leutik  dan bagian bawah yang biasa disebut Situ Perikanan.</p>
<p><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/DSC05689.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2785" title="DSC05689" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/DSC05689-300x205.jpg" alt="" width="300" height="205" /></a></p>
<p>Kedua danau itu dipisahkan oleh jembatan yang  menghubungkan Perpustakaan IPB dengan gedung rektorat. Danau buatan itu  merupakan ekosistem perairan yang memiliki fungsi sebagai habitat hewan  terestrial, seperti burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus) dan kowak  malam kelabu (Nycticorax nycticorax).</p>
<p>Danau LSI juga menjadi habitat bagi hewan perairan  seperti ikan gurame, ikan betutu, udang-udangan, serta reptil semacam  biawak.</p>
<p>Aksi bersih danau LSI dilakukan setiap dua minggu  sekali sejak akhir Februari 2012. Aksi bersih yang merupakan kegiatan  pra-Hari Bumi ini dilaksanakan dengan melibatkan anggota Lawalata IPB,  mahasiswa IPB dalam himpunan profesi dari setiap departemen, dan siswa  SMA Kornita IPB. Aksi dilaksanakan sebanyak empat kali sebelum  peringatan Hari Bumi pada April.</p>
<p>Pendangkalan sangat terlihat di Situ Perikanan.  Pendangkalan yang terjadi akibat tumbuhnya gulma-gulma jenis rumput yang  tumbuh secara cepat mengakibatkan luas danau makin sempit sehingga  tercipta daratan yang menyerupai pulau. Bila dibiarkan terjadi, akan  menyebabkan sumber mata air di IPB, terutama di Situ Leutik, makin  berkurang. Gulma jenis rumput menjadi sasaran aksi bersih SOS 2012 untuk  mengurangi dampak pendangkalan danau.</p>
<p>Namun, pembersihan gulma dengan cara memotong dan  menarik ke daratan secara manual menggunakan tenaga banyak orang pun  masih sangat sulit dilakukan.</p>
<p>Hal itu disebabkan akar-akar gulma yang telah menjalar dan berkaitan erat dengan gulma lainnya.</p>
<p><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/DSC05568.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2786" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/DSC05568-300x191.jpg" alt="" width="300" height="191" /></a></p>
<p>Kegiatan SOS 2012 lainnya ialah pendidikan  lingkungan hidup kepada anak usia sekolah dasar. Pendidikan lingkungan  hidup (PLH) dilaksanakan dengan mengajar anak-anak dari Paguyuban Karya  Salemba Empat (KSE) yang terhimpun dalam Rumah Sahabat (Rusa). Anak-anak  yang diberi pendidikan lingkungan hidup terdiri dari kelas dua hingga  kelas lima sekolah dasar, sebanyak 20 orang.</p>
<p>Kegiatan PLH SOS 2012, yang terdiri atas tiga kali  pertemuan, dilaksanakan di lingkungan kampus dalam suasana terbuka.  Materi yang disampaikan berupa pengenalan sampah organik dan anorganik,  pembuatan kompos, pembuatan hasta karya, penyaringan air sederhana, dan  pengenalan ekosistem perairan, yaitu Danau LSI.</p>
<p>Siswa Rusa dikenalkan dengan penyaring air  sederhana yang terbuat dari  lapisan ijuk, batu bata, sabut kelapa,  kerikil, dan pasir yang berguna sebagai penyaring air yang keruh  sehingga menjadi jernih. Pendidikan lingkungan hidup SOS 2012  mendekatkan siswa kepada ekosistem perairan beserta organisme di  sekitarnya, seperti burung kareo padi dan kowak malam kelabu, biawak,  dan jenis-jenis pepohonan.</p>
<p>Kegiatan puncak SOS 2012 dilaksanakan selama dua  hari, bertepatan pada Hari Kartini, 21 April, dan Hari Bumi pada 22  April. SOS pada 21 April dilaksanakan dengan mengadakan kegiatan aksi  bersih Danau LSI, outbond, serta malam puncak yang terdiri dari  penayangan film Aleta Baun dan diskusi lingkungan. Puncak SOS 2012  diikuti 67 peserta, terdiri dari mahasiswa dan siswa SMA di Bogor.  Mahasiswa yang menjadi peserta berasal dari BEM Kemenetrian Lingkungan  hidup, himpunan profesi seperti TGC dan FMSC dari Fakultas Kehutanan  IPB, UKM IPB seperti UKF, Pramuka, dan KSR.</p>
<p>Malam puncak SOS 2012 dilaksanakan pada pukul  19.00, diawali dengan kegiatan restocking ikan di Danau LSI dan  dilanjutkan menyaksikan film Aleta Baun dari Gekko Studio. Film Aleta  Baun merupakan film tentang pejuang perempuan terhadap lingkungan.</p>
<p>Aleta Baun adalah pejuang wanita paruh baya yang  berasal dari Desa Mollo, Nusa Tenggara Timur, yang memperjuangkan  daerahnya dari perusahaan tambang batu marmer. SOS diharapkan dapat  mewujudkan rasa cinta terhadap lingkungan sehingga dapat menciptakan  kader-kader penggerak masyarakat supaya dapat menjadikan lingkungan  sekitar menjadi hunian yang nyaman bagi manusia dan makhluk hidup  lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2784</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Diponegoro, Pemuda Pahlawan</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2782</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2782#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 04:53:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2782</guid>
		<description><![CDATA[Agus Hidayat Mahasiswa Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Move Maker Generation One Siapa bilang sejarah tidak bisa menjadi tema diskusi yang menarik? Buktinya, diskusi buku sejarah berjudul Kuasa Ramalan karya Peter Carey sukses menyedot perhatian tidak kurang 400 mahasiswa dari berbagai kampus yang memenuhi Gedung Balai Santika, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, pertengahan pekan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agus Hidayat<br />
Mahasiswa Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi<br />
Universitas Padjadjaran<br />
Move Maker Generation One</strong></p>
<p>Siapa bilang sejarah tidak bisa menjadi tema diskusi yang menarik? Buktinya, diskusi buku sejarah berjudul <em>Kuasa Ramalan</em> karya Peter Carey sukses menyedot perhatian tidak kurang 400 mahasiswa  dari berbagai kampus yang memenuhi Gedung Balai Santika, Universitas  Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, pertengahan pekan lalu.</p>
<p>Acara dibuka penampilan <em>band</em> Orkest Stamboel Khajalan (OSK) dan Nada Fiksi. Mereka membawakan lagu-lagu populer Indonesia era awal abad 20-an, seperti lagu <em>Kopi Soesoe, Boenga Anggrek</em>, dan <em>Sudah Berlayar</em>.</p>
<p>Lagu yang terakhir dinyanyikan itu khusus  dipersembahkan untuk Peter Carey dalam mengenang perjalanan panjangnya  dalam penelitian sejarah Indonesia.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Peter Carey, penulis  berkebangsaan Inggris, membagikan pengalamannya seputar buku yang ia  tulis. Menurutnya, ia menghabiskan waktu hampir 40 tahun untuk meneliti  dan menulis buku tentang Pangeran Diponegoro itu.</p>
<p>Ia menggambarkan bahwa Pangeran Diponegoro ialah  seorang tokoh kharismatik yang taat beragama. Di dalam dirinya mengalir  darah keturunan Bima, Madura, dan Jawa. Diponegoro, menurut Carey, masuk  jajaran 10 pahlawan nasional pertama di republik ini.</p>
<p>Di acara yang diselenggarakan atas kerja sama  Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse) Unpad, Layar Kita, dan Perpustakaan  Batu Api (Jatinangor) itu hadir pula penulis sekaligus sastrawan sejarah  Remy Sylado. Remy menjelaskan, bahwa Diponegoro ialah sosok yang cukup  komplet sebagai seorang pahlawan.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Remy mengkritisi minimnya minat para anak muda terhadap sejarah. Apalagi, dalam menelitinya.</p>
<p>Kekeliruan dalam pembelajaran sejarah itu memang  berawal dari gaya penyampaian pelajaran sejarah yang dinilai terlalu  membosankan. Akibatnya, hal itu berpengaruh terhadap ketertarikan anak  muda pada sejarah itu sendiri.</p>
<p>&#8220;Pelajaran sejarah yang diajarkan di  sekolah-sekolah dan kampus memang pada umumnya disampaikan kurang  menarik sehingga sejarah pun menjadi tidak menarik,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Makanya, beliau menambahkan, perlu dilakukan metode baru dalam penyampaian pelajaran sejarah ini. Kamu setuju? (M-2)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2782</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sade Terus Mencari Ombak</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2777</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2777#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 04:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ikon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2777</guid>
		<description><![CDATA[LAUT selatan dengan mitos Ratu Pantai Selatan membuat takut sebagian masyarakat. Namun, itu tidak berlaku bagi Salini Rengganis Iedewa, yang akrab dipanggil Sade. Di tengah derasnya ombak di Pantai Depok, Yogyakarta, Sade yang tahun ini menginjak usia 14 tahun berselancar memecah ombak bersama sekelompok peselancar lain. Siang itu, Sade berselancar untuk menjajaki karakter ombak di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/RES-201204-004340.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2778" title="Salini Rengganis Merajut Asa Manjadi Peselancar Profesional" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/RES-201204-004340-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><em><br />
</em></h1>
<p><em>LAUT  selatan dengan mitos Ratu Pantai Selatan membuat takut sebagian  masyarakat. Namun, itu tidak berlaku bagi Salini Rengganis Iedewa, yang  akrab dipanggil Sade.</em></p>
<p>Di tengah derasnya ombak di Pantai Depok,  Yogyakarta, Sade yang tahun ini menginjak usia 14 tahun berselancar  memecah ombak bersama sekelompok peselancar lain.</p>
<p>Siang itu, Sade berselancar untuk menjajaki  karakter ombak di pantai tersebut. Pasalnya, bulan depan, tepatnya 12  dan 13 Mei, Pantai Depok akan menjadi lokasi kejuaraan surfing yang akan  ia ikuti.</p>
<p>Sade memang telah eksis di berbagai kompetisi. Ia  termasuk deretan peselancar belia yang diproyeksikan akan berprestasi  gemilang.</p>
<p><em>Sejak kapan surfing?</em></p>
<p>Awalnya hanya bermain-main, berlari-lari di pantai.  Kebetulan rumah saya di Pacitan memang berada dekat pantai, sekitar 2  kilometer. Setelah melihat orang-orang surfing di sana, saya tertarik.</p>
<p>Saya surfing sejak usia 5 tahun di Pacitan. Saya  terus bilang sama papa dan diizinkan. Papa lalu mencarikan papan  selancar bekas dari temannya.</p>
<p><em>Apa tidak takut?</em></p>
<p>Awal belajar, memang ada rasa takut. Tapi, karena  saya yakin dan percaya tidak akan terjadi apa-apa, jadinya tidak takut  dan bisa berselancar.</p>
<p><em>Dari siapa belajar selancar?</em></p>
<p>Pertama-tama belajar sama papa yang sehari-hari  bekerja membuat papan selancar. Sekarang saya belajar sendiri dari  buku-buku dan video-video. Kalau sedang jalan-jalan berselancar ke Bali  atau Pelabuhan Ratu, misalnya, saya juga suka tanya-tanya ke kakak-kakak  peselancar yang sudah jago.</p>
<p><em>Katanya kamu tidak bisa berenang waktu belajar selancar?</em></p>
<p>Memang saat itu belum bisa berenang. Dari selancar  pula, saya sedikit-sedikit mulai belajar berenang dan bisa. Tidak  apa-apa. Kan kakinya diikat dengan papan selancar, jadi aman.</p>
<p><em>Kapan pertama kali ikut lomba?</em></p>
<p>Tahun 2006, di Pacitan, dan dapat juara tiga. Sejak  saat itu, sering ikut lomba surfing. Pokoknya, kalau ada lomba dan saya  bisa ikut, saya pasti ikut.</p>
<p>Selama ini pernah berselancar di daerah mana saja?</p>
<p>Di Yogyakarta, Pacitan, Bali, Pelabuhan Ratu, dan Cilacap.</p>
<p><em>Ombak di pantai mana yang paling disukai?</em></p>
<p>Di Bali. Ombaknya fun, asyik, dan mellow. Ombak di  Yogyakarta menantang karena karakternya keras. Setiap ombak tidak bisa  disamakan karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kalau  karakter ombak yang saya sukai, yang pasti ombaknya besar dan pecahnya  satu-satu.</p>
<p><em>Adakah trik yang sering digunakan saat lomba?</em></p>
<p>Aku suka memakai trik cutback saat perlombaan,  yaitu dengan berselancar ke arah ombak, kemudian berputar ke belakang,  terus kejar lagi ombaknya kembali ke tempat semula.</p>
<p><em>Apa kesulitannya?</em></p>
<p>Kesulitan gaya ini, kita harus bisa mengimbangi  ombak agar tidak terjatuh dari papan selancar. Kalau bisa menyesuaikan,  ya sudah, semuanya bisa lancar.</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Selain suka selancar, kamu juga penyayang binatang liar ya?</span></em></p>
<p>Iya. Saya menyukai alam dan binatang. Saya dulu  suka memelihara ular. Ular itu saya dapat saat berjalan ke pantai.  Kemudian saya pelihara. Dulu di rumah ada empat ular, tetapi sekarang  semua sudah dilepaskan.</p>
<p><em>Selain surfing, kegiatanmu sekarang apa?</em></p>
<p>Sekolah di kelas dua SMP.</p>
<p><em>Cerita apa yang menarik selama berselancar?</em></p>
<p>Saya sering juga ditegur untuk tidak berselancar  karena dianggap berbahaya ketika hendak berselancar di suatu pantai.  Bahkan, karena khawatir, sewaktu berselancar pun saya sempat ditunggui  hingga 50 orang hingga selesai. Ya sudah, saya pun cuek aja dan tetap  surfing.</p>
<p><em>Siapa peselancar yang menjadi anutanmu?</em></p>
<p>Aku suka sama Bethany Hamilton. Walau salah satu tangannya dimakan hiu, ia tetap berselancar. Saya salut sama dia.</p>
<p><em>Apa kamu ke depannya juga mau menjadi peselancar profesional?</em></p>
<p>Itulah cita-cita saya sejak pertama belajar surfing. Saya ingin menjadi surfer profesional agar bisa membanggakan papa.</p>
<p><em>Ada yang bilang, kamu cantik dan fotogenik. Apa kamu tidak tertarik  menjadi model?</em></p>
<p>Ya kalau menjadi model, bagus juga. Kalau ada yang nawarin jadi model, oke.</p>
<p><em>Bagaimana membagi waktu antara surfing dengan sekolah?</em></p>
<p>Seperti biasa, seusai sekolah, pukul 13.00  istirahat sebentar. Pukul 15.00 sampai 18.00 berlatih selancar. Setelah  itu, pukul 19.00 saya baru mulai belajar. Kebetulan sekarang sedang  libur karena dipakai untuk ujian nasional SMP. Saya berselancar ke  Yogyakarta.</p>
<p><em>Apa tidak capek dengan aktivitas surfing ini?</em></p>
<p>Ya capek, tetapi demi prestasi, ya harus bisa.</p>
<p><em>Berapa jumlah papan surfing yang dimiliki?</em></p>
<p>Ada 10 papan selancar yang ada di rumah. Itu pun cuma dikasih.</p>
<p><em>Pernah mengalami cedera?</em></p>
<p>Iya, kemarin waktu kontes surfing di Cilacap.  Niatnya menghindari orang yang mau menabrak saya, akhirnya aku kegulung  ombak dan terkena karang, pinggulku robek. Tapi, ya saya biarin aja  sampai selesai kontes. Saat itu, saya dapat juara dua.</p>
<p><em>Apa yang diperlukan seseorang yang ingin belajar surfing?</em></p>
<p>Yang terpenting, kita harus punya niat belajar  surfing. Kita juga harus yakin bisa belajar surfing. Pasti nantinya bisa  juga. Buat perempuan, kenapa harus takut dengan surfing? Hitam kan  indah! (M-2)</p>
<p>Biodata :<br />
Nama: Salini Rengganis Iedewa<br />
Nama Orangtua: Wied Ie Dewa<br />
Tanggal Lahir: 13 Agustus 1998<br />
Sekolah:<br />
Kelas VII SMPN 3 Pacitan,  Jawa Timur<br />
Prestasi:<br />
- Juara II Indonesian Pro Amateur Surfing  Championship (IPASC) di Red Island, Banyuwangi, 2012<br />
- Juara II Open Wave  Mangati High Reef, Cilacap, 2011<br />
- Juara II Halfway Bali, 2011<br />
- 2012  Masuk Pro Junior Rider Surfer Girl</p>
<p><img src="http://dok.mi/images/bening.gif" border="0" alt="" width="1" height="2" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2777</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambil Menyelam, Kami Meneliti</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2773</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2773#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 04:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2773</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran, Bandung, punya cara yang seru untuk menerapkan ilmu yang mereka telah pelajari di kampus. Di antaranya, mereka yang tergabung dalam Oseanik, atau Organisasi Selam dan Perikanan Ilmu Kelautan. Kegiatan utama Oseanik ialah menyelam (diving). Namun, yang mereka lakukan di sini bukan diving untuk rekreasi (fun diving). Lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/Transplant-karang-P.-Semak-Daun-P.-Seribu.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2774" title="Transplant karang  P. Semak Daun, P. Seribu" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/Transplant-karang-P.-Semak-Daun-P.-Seribu-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></h1>
<p>Mahasiswa  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran, Bandung,  punya cara yang seru untuk menerapkan ilmu yang mereka telah pelajari di  kampus. Di antaranya, mereka yang tergabung dalam Oseanik,</p>
<p>atau Organisasi Selam dan Perikanan Ilmu Kelautan.</p>
<p>Kegiatan utama Oseanik ialah menyelam (<em>diving</em>). Namun, yang mereka lakukan di sini bukan <em>diving</em> untuk rekreasi (<em>fun diving</em>). Lebih besar daripada itu, mereka melakukan <em>scientific diving,</em> atau penyelaman untuk misi penelitian. Seru ya!  &#8220;Beberapa materi kita  adalah mendata keberadaan dan kesehatan terumbu karang, dan ekosistem  laut lain seperti ikan, teripang, bintang laut, atau udang,&#8221; jelas Ketua  Oseanik, Fajri Ramadhani.</p>
<p>Karena bermisi penelitian, anggota baru Oseanik  harus menempuh proses pendidikan dan pelatihan (diklat) selama 6 bulan  pertama. &#8220;Pembelajaran pertama adalah renang, <em>diving</em> di kolam,  dan teori,&#8221; tuturnya. Nah, setelah lulus dari diklat, barulah anggota  mendapat kesempatan untuk mendapat materi pengenalan <em>diving</em>, ekosistem terumbu karang, simulasi darat, hingga <em>diving</em> di laut lepas.</p>
<p>Menurut Coral Triangle Initiative, atau segitiga  terumbu karang dunia, Indonesia telah menjadi wilayah dengan daerah  terumbu karang terluas. &#8220;Karena itulah, warga Indonesia harus bangga  akan hal ini,&#8221; ucap Fajri dengan semangat.</p>
<p>Bulan Juni mendatang, Oseanik berencana untuk  melakukan kunjungan ke Pulau Biawak, daerah utara Kota Indramayu. Selain  menyelam, pada kunjungan mereka nanti, Fajri dan kawan-kawan juga akan  melakukan pembersihan daerah bawah laut.</p>
<p><img src="http://dok.mi/images/bening.gif" border="0" alt="" width="1" height="2" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2773</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudah Hemat Energi kah Kamu?</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2770</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2770#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 04:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2770</guid>
		<description><![CDATA[ISU pemanasan global bukan lagi hal baru. Dengan kondisi perkotaan yang semakin dipenuhi polusi, lingkungan sekitar kita pun semakin tercemar. Dampaknya, manusia pun dirugikan. Untuk mengatasinya, gaya hidup hijau atau green living juga sedang digalakkan. Tak hanya untuk kehidupan sehari-hari, pedoman hijau ini juga berlaku dalam mendirikan bangunan, apalagi di kota besar. Hal itulah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/DISKUSI-PANEL.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2771" title="DISKUSI PANEL" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/DISKUSI-PANEL-300x156.jpg" alt="" width="300" height="156" /></a></h1>
<p>ISU  pemanasan global bukan lagi hal baru. Dengan kondisi perkotaan yang  semakin dipenuhi polusi, lingkungan sekitar kita pun semakin tercemar.  Dampaknya, manusia pun dirugikan.</p>
<p>Untuk mengatasinya, gaya hidup hijau atau green  living juga sedang digalakkan. Tak hanya untuk kehidupan sehari-hari,  pedoman hijau ini juga berlaku dalam mendirikan bangunan, apalagi di  kota besar. Hal itulah yang melatarbelakangi Ikatan Mahasiswa Planologi  Tarumanagara (Implanta) untuk menyelenggarakan seminar bertajuk Green  Development ow, from Vision to Action.</p>
<p>&#8220;Green development tidak hanya tentang tanaman  hijau, tapi juga penghematan energi, efisiensi desain, listrik, maupun  pemilihan material bangunan yang ramah lingkungan,&#8221; jelas Tasya Gracia  Filia Lantang, ketua panitia diskusi panel Green Development, yang  berlangsung di auditorium Kampus 1 Universitas Tarumanagara, Jakarta  (26/4).</p>
<p>Atas dasar itulah, diskusi digelar dengan tujuan  meningkatkan pemahaman  masyarakat, khususnya mahasiswa, tentang konsep  green development. Tercatat lebih dari 100 mahasiswa dari jurusan  arsitek, sipil, dan planologi hadir pada seminar itu.</p>
<p>Pembicara pada diskusi itu ialah General Manager  Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali, Program Manager Green Building  Council Indonesia Bintang A Nugroho, dan Direktur Urban Planning dan  Design Aecom Indonesia Sibarani Sofian.</p>
<p>&#8220;Sesuai dengan pesan Pak Bintang, semoga anak muda  juga bisa menerapkan green living untuk kehidupan sehari-hari, misalnya  dengan mengurangi print kertas atau mematikan listrik yang tidak  terpakai,&#8221; ucap Tasya. Jadi, masih ada nyala lampu yang tak terpakai?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2770</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unjuk Gigi Seniman Muda</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2762</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2762#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 09:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Move Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2762</guid>
		<description><![CDATA[Di Bandung, panggung dan acara diskusi digelar buat seniman muda lokal yang berkolaborasi dengan teman-temannya dari negara Asia. Sayang, acara itu sepi karena kurang promosi. Hervinny Wongso SEBUAH rumah bambu berbentuk setengah lingkaran berdiri tegak di halaman Mal Cihampelas Walk (Ciwalk), Bandung, akhir pekan lalu. Mengelilingi &#8216;bangunan&#8217;, 12 kanvas berukuran masing-masing 1 x 2 meter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Di  Bandung, panggung dan acara diskusi digelar buat seniman muda lokal  yang berkolaborasi dengan teman-temannya dari negara Asia. Sayang, acara  itu sepi karena kurang promosi.</em></p>
<p><strong>Hervinny Wongso </strong></p>
<p><strong><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/TRB-201204-000847.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2763" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/TRB-201204-000847-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong>SEBUAH rumah bambu berbentuk  setengah lingkaran berdiri tegak di halaman Mal Cihampelas Walk  (Ciwalk), Bandung, akhir pekan lalu. Mengelilingi &#8216;bangunan&#8217;, 12 kanvas  berukuran masing-masing 1 x 2 meter digelar memutarinya. Puluhan  mahasiswa yang membaur dengan pengunjung tampak serius menyapukan kanvas  mereka di arena bernama Graffity Arts.</p>
<p>Kesibukan di arena tersebut merupakan salah satu  rangkaian acara 4th Marketplace of Creative Arts yang digelar 14-15  April lalu di Bandung, Jawa Barat. Itu sebuah kegiatan tahunan yang  ditujukan untuk mewadahi talenta dan kreativitas pekerja seni dari  negara-negara di kawasan Asia Tenggara.</p>
<p>Pada kesempatan itu, penanggung jawab arena  showcase Aldi Hendrawan memilih media lukis untuk menarik minat  pengunjung. Dengan mengambil tema Bandung, lebih dari 30 mahasiswa  desain Universitas Maranatha dan Institut Teknologi Nasional (Itenas)  Bandung pun ia ajak untuk terlibat.</p>
<p>Anak kecil juga mendapat kesempatan menggambar. Tak  jauh dari instalasi itu, beberapa partisi berukuran sama juga dipenuhi  karya anak-anak.</p>
<p>Bersama rekannya dari Bandung Creative City Forum  (BCCF), alumnus seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini  menggandeng Komunitas Taman Kota untuk menghibur para pengunjung kecil.</p>
<p>Aldi menggunakan media lukis yang tidak biasa.  Hasilnya, banyak pengunjung Ciwalk yang tertarik. &#8220;Tadinya kita pikir  pengisi acara aja yang akan melukis. Ternyata banyak yang ingin ikut  berpartisipasi,&#8221; terang Aldi, menyatakan kepuasannya.</p>
<p>Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka  Pangestu menyampaikan rasa bangga atas terpilihnya Bandung sebagai tuan  rumah tahun keempat Marketplace of Creative Arts, setelah Singapura  (2010), Kuala Lumpur (2011), dan Kazakhstan (2011).</p>
<p>&#8220;Bahkan mal di Bandung juga punya ruang publik.  Karena itu, Bandung sebagai home of the creative mind sangat tepat untuk  menjadi tuan rumah marketplace tahun ini,&#8221; kata Mari.</p>
<p><em>Seniman muda</em></p>
<p><em><a href="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/TRB-201204-0008422.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2764" title="TRB-201204-000842(2)" src="http://www.mediaindonesia.com/move/wp-content/uploads/2012/04/TRB-201204-0008422-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</em></p>
<p>Acara 4th Marketplace of Creative Arts ini memang  melibatkan BCCF. Sebanyak 40 artis dari 13 negara seperti Malaysia,  Brunei, Jepang, Laos, Thailand, dan Australia terlibat dalam acara  tersebut.</p>
<p>Sesuai dengan nama acaranya, tema seni kreatif  memang menjadi payung besar dari agenda dua hari ini. Tidak hanya pentas  seni. Panitia juga menggelar &#8216;ngomong-ngomong session&#8217; atau kelas  sharing isu bisnis kreatif bersama para seniman yang hadir. Siang itu,  Move sempat mampir dalam sesi diskusi yang membahas the role of  education.</p>
<p>Dalam sesi yang diikuti sekitar 15 orang tersebut,  filmmaker asal Vietnam, Phan Xine, berbagi cerita tentang keadaan  seniman di negaranya. &#8220;Meskipun susah untuk mengubah mindset masyarakat  untuk melihat profesi seniman di Vietnam, penyanyi tetap harus bisa  menjadi contoh untuk mengajak masyarakat berbuat baik,&#8221; ujarnya.</p>
<p><em>Tak sengaja</em></p>
<p>Seru-seruan di panggung utama diwarnai musik  boyband, tari, balet, dan biola. Sarasvati, band asal Bandung, sangat  dinantikan para pengunjung. Di antaranya Dea Denisa dan 20 kawannya yang  tergabung dalam fans club Saras Family. &#8220;Kita selalu datang kalau  Sarasvati perform,&#8221; ucap Dea.</p>
<p>Sayangnya, sebagian besar penonton yang Move temui  ternyata tidak secara sengaja meluangkan waktu mereka untuk menyaksikan  pergelaran tersebut.</p>
<p>&#8220;Tadinya kita mau makan, tapi ngelihat ini, jadi mampir aja,&#8221; kata salah satu pengunjung.</p>
<p>Lokasi interaksi pengunjung dan seniman juga kurang  &#8216;bersahabat&#8217; untuk dijangkau. Selain graffiti arts di luar Ciwalk,  tidak ada lagi arena lain yang bisa dimanfaatkan untuk berbincang dengan  artis. Atau &#8216;ngomong-ngomong session&#8217; yang berlangsung di ruangan Sensa    Hotel, yang berada di sebelah Ciwalk.</p>
<p>Mungkin atas alasan itu juga salah satu sesi  sharing yang Move ikuti hanya dihadiri 15 peserta. Itu pun tak terlihat  sosok anak muda Bandung yang hadir. Mirisnya, sesi malah dihadiri  peserta asal luar negeri   yang berinteraksi dalam bahasa Inggris, tanpa  penerjemah.</p>
<p>Terlepas dari kekurangan tersebut, mudah-mudahan  performa artis lokal bisa mengenalkan potensi seniman Indonesia ke  kancah internasional, sesuai dengan tujuan pergelaran itu, ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2762</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejahtera Juga Bahagia</title>
		<link>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2759</link>
		<comments>http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2759#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 09:33:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>movers</dc:creator>
				<category><![CDATA[How To Do After Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2759</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ekonomi kreatif bukan masalah pekerjaan, melainkan kebahagiaan. Seniman pasti bahagia dengan apa yang dikerjakan. Dengan bahagia, dia bisa sejahtera.&#8221; Demikian kutipan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dalam sambutannya di 4th Marketplace of Creative Arts yang berlangsung 14 April di Ciwalk, Bandung. Mari menambahkan, hampir 7,5% pemasukan negara disumbangkan dari sektor ekonomi kreatif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ekonomi  kreatif bukan masalah pekerjaan, melainkan kebahagiaan. Seniman pasti   bahagia dengan apa yang dikerjakan. Dengan bahagia, dia bisa sejahtera.&#8221;</p>
<p>Demikian kutipan Menteri Pariwisata dan Ekonomi  Kreatif Mari Elka Pangestu  dalam sambutannya di 4th Marketplace of  Creative Arts yang berlangsung 14 April di Ciwalk, Bandung. Mari  menambahkan, hampir 7,5% pemasukan negara disumbangkan dari sektor  ekonomi kreatif.</p>
<p>Kegiatan tersebut memang diarahkan untuk mewadahi  kreativitas para seniman. Saat seniman Tanah Air dipertemukan dengan  seniman dari 13 negara dalam satu panggung, diharapkan ada interaksi dan  potensi yang tergali maksimal.</p>
<p>Nah, Move juga mencatat beberapa hal dari para  pembicara, untuk Sahabat Move yang sedang berkesenian. Mudah-mudahan  kalian tambah semangat ya!</p>
<p><strong>Atasi masalah sosial </strong><br />
&#8220;Masalah yang sering muncul  di industri kreatif ialah masalah sosial, karena ia melibatkan banyak  masyarakat. Jadi, teruslah tingkatkan kualitas produk kreatif. Dengan  begitu, kita bisa ikut mengatasi masalah sosial.&#8221;</p>
<p><em>Netty Prasetyani, istri Gubernur Jawa Barat</em></p>
<p><strong>No market, no value </strong><br />
&#8220;Produk kreatif akan jadi  bernilai kalau masuk ke pasar. Karena itu, jangan ragu untuk mulai  mempromosikan kreativitas dan inovasi lewat pasar.&#8221;</p>
<p><em>Tanri Abeng, penasihat panitia 4th Marketplace of Creative Arts</em></p>
<p><strong>Lakukan </strong><br />
&#8220;If it&#8217;s you, just do it. Do it because you love it!&#8221;</p>
<p><em>Phan Xine &#8211; </em><em>film maker asal Vietnam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediaindonesia.com/move/?feed=rss2&amp;p=2759</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

