Eksplorasi

Kapsul untuk Berlindung dari Tsunami

Sabtu, 20 May 2017 05:00 WIB Penulis: Hanif Gusman

dok dailymail

PEREMPUAN asal New Orleans, AS, Jeane Johnson punya cara baru untuk menghadapi badai. Jika tsunami datang dan tidak ada gedung tinggi di sekitar, Johnson akan segera mengandalkan sebuah teknologi yang diyakini dapat melindungi diri beserta keluarga. Teknologi terbaru tersebut bernama The Survival Capsule. Teknologi berbentuk kapsul berwarna oranye tersebut didesain untuk dapat bertahan dalam berbagai bencana seperti tsunami, tornado, badai, dan gempa. Kapsul tersebut diklaim mampu melindungi penghuninya agar tidak tenggelam atau hancur akibat hantaman gelombang tinggi dari arah pantai.

Teknologi tersebut terbuat dari aluminium sekelas material pada pesawat dan pintu kedap air laut. Terdapat juga jendela-jendela kecil yang dilengkapi kaca antipeluru. Selain itu, terdapat lapisan keramik termal, GPS, dan tabung udara. Penempatan kantong air di bagian bawah mencegah kapsul tersebut dapat terbalik. Selain itu, ia dapat ditambatkan agar kapsul dan penghuninya tidak terbawa arus. Lapisan aluminium membuat bagian dalam menjadi terisolasi sehingga penghuninya tetap merasa hangat.

Kapsul oranye tersebut merupakan gagasan dari insinyur kedirgantaraan Julian Sharpe. Ia juga merupakan presiden perusahaan Survival Capsule LLC yang memproduksi teknologi kapsul tersebut. Sharpe mendapat ide soal kapsul tersebut setelah bencana gempa dan tsunami yang melanda Samudra Hindia pada 2004. Bencana yang menewaskan lebih dari 200 ribu orang tersebut membuat Sharpe berpikir soal cara menyelamatkan diri dari kejadian yang tak terduga. "Anak-anak kami masih sangat kecil. Kami juga memiliki dua ekor anjing husky. Bagaimana kita bisa mengungsi tepat waktu?" ujar Sharpe.

Pengerjaan kapsul tersebut akhirnya dimulai setelah bencana gempa dan tsunami di Jepang pada 2011 yang menewaskan sekitar 16 ribu orang. Dalam pengerjaannya, timnya melakukan beberapa simulasi untuk menguji ketahanan kapsul tersebut dalam berbagai kondisi. "Teknologi ini memberikan orang-orang pilihan untuk memiliki sistem keamanan atas properti yang mereka miliki yang mudah diakses kapan saja dan benar-benar memberi rasa aman terhadap keluarga mereka," tutur Sharpe.

Meski dianggap cukup aman dalam melindungi penghuninya, Direktur Manajemen Darurat Grays Harbor County di pantai Washington Chuck Wallace mempertanyakan keamanan penghuni ketika kapsul terjebak di bawah puing atau rusak oleh benda lain sehingga menyebabkan kebocoran. "Anda tidak meyakinkan saya bahwa penghuni kapsul tersebut aman," ujar Wallace.

Berbagai varian
Survival Capsule LLC sebagai perusahaan yang memproduksi dan menjual kapsul tersebut telah melakukan peluncuran produk sejak awal tahun ini. Dalam peluncurannya, perusahaan yang berbasis di Seattle tersebut memperkenalkan lima varian kapsul tersebut. Kelima varian kapsul tersebut dibedakan atas kapasitas penghuni dan diameter kapsul.
Kapasitas penghuni bervariasi mulai 2, 4, 6, 8, hingga 10 penumpang. Kapsul dengan 10 penumpang berdiameter sekitar 2,44 meter. Dalam laman penjualannya, Survival Capsule tidak mencantumkan harga untuk setiap varian dari kapsul antitsunami tersebut.

Namun, surat kabar asal Inggris Daily Mail melaporkan kapsul dengan kapasitas dua penghuni dibanderol sekitar US$13.500 (sekitar Rp180 juta), sedangkan varian dengan kapasitas empat penumpang dijual dengan harga sekitar US$17.500 (sekitar Rp234 juta). Jeane Johnson menjadi pembeli pertama produk tersebut. Tepat pada 18 Januari lalu ia membeli kapsul berkapasitas dua penghuni. Ia mengaku membeli kapsul tersebut untuk investasi masa depan, tetapi takut untuk mengujinya. "Ini akan mengerikan, tapi itu lebih baik daripada alternatif lain," ujar Johnson. (Dailymail/Seattletimes/L-1)

Komentar