Eksplorasi

Periode Menyusui pada Orang Utan Lebih Ekstrem daripada Manusia

Sabtu, 20 May 2017 06:00 WIB Penulis: (Science Advances/dailymail.co.uk/Grt/L-1)

Thinkstock

MENYUSUI selama bertahun-tahun merupakan sesuatu yang alami dalam dunia orang utan. Hewan endemis Malaysia dan Indonesia ini menyusui setidaknya selama delapan tahun dan merupakan yang terlama di dunia mamalia. Dalam jurnal Science Advances, para peneliti menulis, dengan menyusu selama delapan tahun, orang utan muda bisa memenuhi semua kebutuhan nutrisi walaupun makanan lain sulit ditemukan. "Sejarah kehidupan mereka memang lambat," kata Cheryl Knott, rekan dosen antropologi di Boston University, seperti dikutip dari The Verge, 17 Mei 2017.

Dengan metabolisme yang lebih lambat daripada primata lain, orang utan bereproduksi di usia yang lebih tua dan menyusui lebih lama. Sebenarnya, para peneliti telah lama menduga orang utan menyusui bayinya selama bertahun-tahun. Namun, bukti yang pasti sulit ditemukan karena perilaku tersebut dilakukan di area yang tersembunyi, seperti di atas pohon atau di malam hari. Karena itu, para peneliti pun memutuskan mencari buktinya pada gigi.

"Gigi ialah penyimpan data biologis yang melaporkan apa yang terjadi pada tubuh Anda setiap hari," kata penulis studi Christine Austin yang juga rekan postdoctoral di Icahn School of Medicine. Bersama koleganya, Christine mengumpulkan empat gigi orang utan liar yang ditembak kolektor dan disimpan di Humboldt Museum in Berlin, State Anthropological Collection di Munich, dan Harvard University Museum of Comparative Zoology.

Mereka memotong dan menguapkan gigi tersebut dengan menggunakan laser untuk mendapatkan material yang dapat dianalisis. Salah satu senyawa kimia yang dikalkulasi dari material tersebut ialah barium yang didapatkan dari air susu. Dengan menghitung banyaknya barium yang tersimpan dalam gigi, para peneliti mampu memprediksi perilaku menyusui dari keempat spesimen tersebut. Menurut para peneliti, orang utan hanya minum susu pada tahun pertama mereka.

Lalu, pada tahun kedua dan seterusnya, jumlah barium menurun dan menunjukkan mereka mulai makan daun dan buah di samping susu. Akan tetapi, terkadang anak orang utan kembali menyusu lebih banyak walaupun telah berusia lebih dari setahun. Hal itu amat mungkin disebabkan kelangkaan makanan yang memaksa anak orang utan lebih banyak minum susu. Selain memastikan dugaan yang ada sebelumnya, Knott berkata informasi ini dapat digunakan para ilmuwan dalam upaya pencegahan kepunahan orang utan.

Menurut dia, salah satu faktor yang mengancam eksistensi orang utan ialah waktu reproduksi yang lambat. Seekor orang utan betina bisa menunggu hingga 10 atau 15 tahun untuk bereproduksi dan hanya melahirkan sekali dalam 5 atau 10 tahun. Dengan lebih mengerti mengenai pola menyusui pada orang utan dan pengaruh lingkungan terhadap perilaku tersebut, para ilmuwan akan semakin mampu melindungi orang utan dari kepunahan.

Komentar