Polkam dan HAM

Geopolitik Seimbangkan Pertahanan Nasional

Sabtu, 20 May 2017 07:15 WIB Penulis: Christian Dior S dior@mediaindonesia.com

Gubernur Lemhannas Agus Widjojo. MI/ARYA MANGGALA

GEOPOLITIK Indonesia berada di sebuah titik penting untuk mengubah strategic culture yang cenderung inward looking atau melihat ke dalam menjadi outward looking atau lebih memandang ke luar. Gubernur Lemhannas Agus Widjojo mengatakan hal itu seusai memberikan sambutan pada Jakarta Geopolitical Forum di Jakarta, Jumat (19/5).
Menurutnya, jika strategi nasional terlalu berorientasi ke dalam, dinamika yang terjadi di dunia akan dilihat seolah-olah sebagai teori konspirasi ketika ada kekuatan luar yang memengaruhi Indonesia.

Demikian juga sebaliknya jika orientasi strategi budaya terlalu berorientasi ke luar atau outward looking, batas-batas negara akan berkurang. “Bukan berkurang secara fisik geografi, tetapi lalu lintas dan gagasan cara berpikir. Maka kita lupa dengan kondisi dalam negeri,” kata Agus. Itu sebabnya Agus menilai menyeimbangkan pandangan ke dalam dan ke luar akan lebih menguatkan pertahanan Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu. Agus pun menekankan bahwa Indonesia sebagai bangsa didirikan tanpa paksaan, melainkan­ dengan dasar sukarela dan keikhlasan.

“Pada 1908 dan 1928 ada banyak kesultanan, tapi semua lebur dengan sukarela.’’
Jakarta Geopolitical Forum akan diselenggarakan oleh Lemhannas di Jakarta pada 18-20 Oktober dengan tema Geopolitics in a changing world dan menghadirkan pembicara dari Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Belgia, Tiongkok, Inggris, Jepang, Kanada, Mesir, Norwegia, Prancis, Rusia, Singapura, dan Turki. Topik yang dibicarakan pada forum itu ialah perdamaian dan keamanan global, pembangunan dalam ekonomi global, ekstremisme, radikalisme dan terorisme, lingkungan dan perubahan iklim, serta migran, pengungsi dan korban bencana alam.

Jalur yang benar
Akademisi dari Universitas Hosei, Jepang, Satoru Mori, menambahkan Indonesia berada di jalur yang tepat dalam upaya menciptakan dan mempertahankan keamanan dan stabilitas politik di kawasan Indo-Pasifik. “Indonesia harus kuat dalam ekonomi dan politik dan kita sangat menyambut baik hal itu,” kata Satoru.
Satoru melihat tatanan dunia yang semakin terbuka memunculkan dinamika kompetisi keamanan di kawasan di mana Indonesia dapat berkontribusi dalam melahirkan inisiasi-inisiasi baru.

Menurut Satoru salah satu upaya Indonesia dalam jalur yang tepat itu ialah membangun kerja sama di bidang maritim, baik dalam segi keamanan maupun industri kelautan.
“Indonesia sedang membangun infrastruktur dan bisa lebih berkembang lagi dalam sektor yang lebih maju agar dapat bergabung dengan kekuatan ekonomi dunia lainnya,” ujarnya.

Mantan Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjoro Jakti mengemukakan dunia saat ini mengalami pergeseran geopolitik dan geoekonomi yang cepat, bahkan tidak dapat diprediksi. “Sumber dari peristiwa ini berkisar dari persaingan antara kekuatan utama, yakni meningkatnya persaingan di antara ekonomi utama dan megabisnis, yang meningkatkan persaingan antara ideologi dan friksi. Dorojatun melihat semua negara tentunya akan meningkatkan rivalitas, terkait keberadaan ideologi. (Ant/P-2)

Komentar