Polkam dan HAM

Pangkostrad Nilai Giant Bow sudah Usang

Sabtu, 20 May 2017 06:16 WIB Penulis: (Cah/P-4)

Tank Leopard TNI-AD melakukan penyerbuan darat saat ambil bagian dalam puncak latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Natuna, Kepulauan Riau. MI/CAHYA MULYANA

POLISI Militer Angkatan Darat (POM AD) akan segera menuntaskan investigasi insiden Meriam 23mm/Giant Bow yang mene-lan korban 12 anggota TNI-AD dari satuan Yonarhanud-1/K, 4 di antaranya meninggal dunia. TNI akan mengganti seluruh senjata pertahanan serangan udara itu ketika ditemukan penyebabnya kerusakan alat.
Hal itu dipaparkan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Edy Rachmayadi. Menurutnya, TNI-AD menyerahkan seluruh proses investigasi kecelakaan yang terjadi di tengah latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) kepada tim investigasi.

“(Proses investigasi) tidak terlalu lama, dan sangat sederhana satu dua hari ini saya yakin itu selesai,” terang Edi di sela puncak acara PPRC, di Bukit Tinjau, Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (19/5). Menurut Edy, proses investigasi dipusatkan pada dua kemungkin­an penyebab tidak terkontrolnya Meriam 23mm tersebut. Pertama kesalahan prajurit atau human error dan kesalahan alat. Salah satu dari dua kemungkinan penyebab tersebut akan segera putuskan dua hari ke depan.

Ia menjelaskan TNI-AD akan patuh pada hasil investigasi yang sudah berlangsung satu hari setelah insiden terjadi, 18/5. Ketika diputuskan kecelakaan akibat kesalahan alat maka 18 Meriam 23mm/Giant Bow yang saat ini tersebar seperti terdapat di Bandara Soekarno-Hatta itu akan dipetikan. “Kondisi alat kita memang sedang dikaji. Investigasi belum selesai sehingga nanti kita ketahui apa penyebabnya. Termasuk (lima prajurit yang menggunakan senjatanya) juga belum bisa dihukum sebab kalau itu kesalahan senjata, tidak bisa manusianya dihukum,” paparnya.

Dia menyatakan tidak akan menuntut perusahan pembuatnya sebab Meriam 23mm/Gaint Bow yang diproduksi di Tiongkok tahun 2002 itu secara usia peralatan perang sudah tergolong usang. “Senjata tahun 2002 sehingga panjang waktunya, ya mungkin karakteris­tik yang tidak sesuai dengan prajurit Indonesia dan persoalannya bukan dari mana, tapi kualitasnya,” katanya.

Edy menjelaskan, Kostrad memiliki 18 Meriam 23mm/ Giant Bow dan 9 di antaranya digunakan dalam latihan PPRC akan diganti jika hasil investigasi menyatakan bahwa penyebab insiden yang menewaskan 4 anggota TNI-AD itu akibat alat bukan prajurit. “Tergantung kajian, kalau tidak bisa dipakai lagi, ya diganti. Saya mau yang canggih, tetapi saya kan pemakai, dibelikan ini, ya saya pakai dan kalau dikasih bambu runcing, ya saya pakai,” pungkasnya. (Cah/P-4)

Komentar