Humaniora

Mengarusutamakan Kebinekaan melalui Guru sebagai Rujukan

Sabtu, 20 May 2017 08:20 WIB Penulis: RO-Micom

DOK MI/ATET DWI PRAMADIA

YAYASAN Cahaya Guru (YCG) mengajak dunia pendidikan untuk mengarus utamakan kebinekaan dengan guru sebagai rujukan. Melalui kegiatan Sekolah Guru Kebinekaan (SGK), YCG bermaksud untuk mendampingi para guru untuk mengembangkan wawasan keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Melalui keterangan yang diterima Sabtu (20/5), fenomena intoleransi dan diskriminasi berlatar agama beberapa tahun belakangan menunjukkan persoalan sangat serius. Bahkan, masalah intoleransi dan diskriminasi berlatar agama telah merasuk ke lembaga pendidikan, baik melalui materi ajar, praktek pembiasaan, ekstra kurikuler, maupun kebijakan sekolah. Penguatan identitas kelompok dan sikapintoleran pun ditemukan di berbagai riset yang dilakukanoleh beberapa lembaga.

Pengalaman Yayasan Cahaya Guru bertemu dengan sekitar 4.500 guru pada tahun 2007 - 2010 menunjukkan terjadinya berbagai praktik pengutamaan di berbagai sekolah negeri. Keluhan para guru mengenai pengutamaan dilakukan secara tertutup.

Artinya meski mengetahui ada masalah para guru tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya secara terbuka. Padahal kita semua tahu bahwa praktik pengutamaan merupakan langkah awal dari sikap intoleransi, bahkan diskriminasi.

Temuan-temuan itu menjadi dasar pertimbangan YCG untuk fokus pada isu kebinekaan sejak 2010. Sejak itu pula, YCG menyelenggarakan berbagai kegiatan dimulai dari memberi kesempatan para guru untuk terpapar pada seni pertunjukan yang membantu pengembangan wawasan kebinekaan sampai diskusi rutin yang diselenggarakan secara berkala.

YCG juga menerbitkan buku Beragam Bukan Seragam berisi tiga puluh kegiatan sederhana untuk pengembangan wawasan keragaman. Intinya YCG mengupayakan terjadinya perjumpaan pada komunitas yang beragam.

"Pengalaman YCG selama enam tahun fokus pada isu kebinekaan, dirangkum menjadi Sekolah Guru Kebinekaan yang dibuka tahun 2016," kata Ketua YCG, Henny Supolo Sitepu.

Hasil dari SGK 2016 adalah buku refleksi guru "Meretas Sekat Prasangka Merajut Harmoni Perjumpaan".

"SGK merupakan ruang perjumpaan yang diharapkan dapat menginspirasi para guru," tambah Henny.

Di 2017 ini, lanjut dia, YCG kembali menyelenggarakan SGK yang akan diikuti oleh 35 guru yang terpilih dari 100 pendaftar.

SGK merupakan salah satu alternatif pengembangan kapasitas guru yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI.

"Isu kebinekaan merupakan tanggung jawab kita bersama. Apa yang dilakukan Yayasan Cahaya Guru semoga bisa menjadi inspirasi untuk komunitas lain dan kita semua," jelas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Totok Suprayitno pada pembukaan SGK 2017 di Perpustakaan Kemdikbud, Sabtu (20/5).

Pentingnya peran guru sebagai rujukan praktik baik dalam menyemai kebinekaan disampaikan pula oleh perintisKomnas Perempuan Prof. Saparinah Sadli.

"Perilaku guru, penampilan, maupun pemikiran dan pilihan kata dalam menyampaikan informasi tentang kebinekaan sebagai kekayaan bangsa sangat urgent, di tengah simpang siurnya informasi yang kini mengelilingi anak didik berbagai usia," ujarnya.

Sementara Dr Yudi Latif, nara sumber materi perdana bertema Guru, Pancasila dan Kelangsungan Bangsa, mengatakan, "Memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa membutuhkan kesadaran. Guru bisa diharapkan menjadi penguat kesadaran tersebut. "

Melalui 15 kali pertemuan dalam kurun 6 bulan, para guru mendapatkan penguatan falsafah pendidikan, pengembanganpengetahuan, dan keterampilan dalam metodologipembelajaran.

"Guru-guru diminta untuk mempraktikkan langsung di lingkunganmasing masing sehingga perlu kepekaan dan menghargaipersoalan kebinekaan," tutup Kepala SGK Mukhlisin. (OL-6)

Komentar