Nusantara

Bali Perlu Gerakan Bersama Stop HIV Aids

Sabtu, 20 May 2017 10:33 WIB Penulis: Arnoldus Dhae

ANTARA/Nyoman Budhiana

GUBERNUR Bali Made Mangku Pastika mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berusaha dan bekerja lebih keras dalam upaya menyetop penyebaran HIV-AIDS.

Ia meminta agar warga Bali bergerak bersama cegah HIV Aids. Upaya ini diawali dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya.

"Berbagai seremoni dan gerakan yang ada untuk menyetop HIV Aids belum cukup. Saatnya gerakan bersama dan serentak di seluruh Bali. Kita putus mata rantai penyebaran HIV Aids," ujarnya di Denpasar, Sabtu (20/5).

Ia menyampaikan jika malam sebelumnya sudah dilakukan Malam Renungan Aids Nusantara (MRAN) dan untuk Provinsi Bali dilakukan di Monumen Bajrasandi Renon Denpasar.

Sesungguhnya, pasca malam renungan itu harus ada aksi nyata. Dan aksi nyata itu tidak ada cara lain kecuali dengan gerakan bersama dan serentak. Perlu ada resolusi bersama di seluruh Bali dan masing-masing warga mengetahui resolusi tersebut dan bergerak bersama mencegahnya.

"Semua pihak silahkan pikirkan bersama, aksi bersama, serentak, tetap, dan kontinu," ujarnya.

Pastika mengungkap, meski berbagai upaya telah dilakukan, namun hingga saat ini penyebaran HIV-AIDS masih cukup mengkhawatirkan. Karena diprediksi masih banyak kasus HIV-AIDS belum terungkap.

"Dari estimasi jumlah penderita sebanyak 26 ribu di seluruh Bali, hingga saat ini yang terdata dan terjangkau pelayanan baru sebanyak 15.200 orang," bebernya.

Untuk itu, Pastika mendorong kerja keras seluruh komponen untuk menggali kasus HIV-AIDS yang masih terpendam.

Selanjutnya, dia juga minta masyarakat menunjukkan empati dan simpati yang tulus terhadap Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA). Menurut dia, sikap ini diyakini dapat mencegah niat negatif ODHA untuk menularkan penyakitnya dengan sengaja kepada orang lain.

Pada bagian lain, Pastika mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan lembaga dan kelompok masyarakat yang aktif dalam upaya pencegahan HIV-AIDS. Dia menilai berbagai upaya tersebut telah membuahkan hasil dan mampu mengendalikan laju epidemi HIV-AIDS.

"Melalui berbagai upaya, angka infeksi baru berhasil diturunkan 10 persen. Itu merupakan hasil yang sangat menggembirakan," ujarnya.

Ia juga kembali mengingatkan agar masyarakat menghindari faktor risiko penularan HIV-AIDS seperti hubungan seks bergonta ganti pasangan dan pemakaian jarum suntik pada pecandu narkoba.

Sementara itu, Koordinator Pokja Promosi, Pencegahan dan Hubungan Masyarakat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali Prof. N Mangku Karmaya mengungkap, fakta tentang penyebaran HIV-AIDS yang makin mencemaskan.

Sejak ditemukan pertama kalinya pada 1987, hingga Desember 2016 tercatat 15.200 kasus HIV-AIDS di Pulau Dewata. Meski demikian, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, jumlah kasus kematian akibat penyakit ini makin menurun setiap tahunnya.

“Penerimaan masyarakat terhadap ODHA juga makin baik,” imbuhnya. (OL-6)

Komentar