Khazanah

Artefak Bukti Kebinekaan

Ahad, 21 May 2017 08:48 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Grafis/Ebet

MANUSIA purba Homo erectus hidup di Jawa pada 2 juta tahun (SM). Namun, spesies itu punah. Pada 158 ribu tahun (SM) Homo sapiens mulai mengembara dari Afrika Timur. Pada 83 ribu tahun (SM), Homo sapiens menyusuri pesisir India, menyeberangi jembatan darat ke Nusantara. Berdasarkan hal itu, siapa manusia asli Indonesia? Mengapa ada asli pribumi dan nonpribumi? Siapa pula sebutan pribumi jika kata itu kerap diartikan sebagai manusia asli Indonesia yang tinggal di Indonesia.

Sebelum menjawab pertanyaan besar tersebut, alangkah baiknya Adan berkunjung ke Museum Nasional Indonesia. Waktu yang tepat ketika ada helatan AkhirPekan@MuseumNasional 2017 Minggu (14/5) dengan pementasan Teater Koma dalam lakon Bersenyawa Alam, Bertempa Peristiwa, Berakalkan Manusia.

Museum yang akrab disebut Museum Gajah itu punya lebih dari 150 ribu koleksi. Artefak-artefak itu berasal dari masa prasejarah dan sejarah Nusantara. Itu bisa menjadi bukti nyata tentang kemajemukan asal-usul bangsa Indonesia. Beberapa di antara artefak itu menunjukkan 85 ribu tahun lalu, spesies Homo sapiens yang merupakan nenek-moyang manusia Indonesia mulai mengembara dari jantung Afrika, tiba di Nusantara yang daratannya saat itu masih terhubungkan dengan benua Asia, dan sejak itu terus membaur dengan aneka suku bangsa sehingga melahirkan manusia Indonesia sekarang.

Keragaman sekaligus pembauran itulah yang menjadi tema besar program AkhirPekan@MuseumNasional season 5 yang diluncurkan Minggu, 14 Mei 2017. Tema itu menjadi semakin relevan di tengah-tengah kritik bahkan penolakan yang belakangan ini dilontarkan kalangan tertentu terhadap kebinekaan Indonesia. AkhirPekan@MuseumNasional bakal berlangsung sampai Oktober 2017. Bulan depan pertunjukan bakal digelar pada 11 Juni 2017.

Tema itu mungkin cukup berat jika dijelaskan begitu saja dengan seminar akademis ataupun buku tebal yang harus dibaca. Apalagi bagi anak-anak. Namun, itulah yang menjadi menarik ketika penanaman pemahaman atas keberagaman dan kebinekaan itu disampaikan dengan cara dongeng dan pertunjukan teater.

Itulah yang dilakukan dalam program AkhirPekan@MuseumNasional yang digagas Direktur Museum Nasional Intan Mardiana bersama pendiri Dapoerdongeng Yudhi Soerjoatmodjo sejak September 2013.

Story telling
Sejarah artefak dari zaman lampau disampaikan melalui story telling pentas dongeng serta panduan jelajah museum yang mengajak anak-anak mengeksplorasi dan mendiskusikan koleksi museum dengan cara treasure hunt.

Bukan dengan berkeliling museum dan melihat semua artefak yang ada sehingga membuat pengunjung kelelahan dan kebingungan sendiri, melainkan dengan fokus hanya pada 5 sampai 8 artefak saja yang terhubungkan dalam satu tema atau kisah yang seru.

Pada program AkhirPekan@MuseumNasional Season 5 tahun ini, anak-anak diajak untuk mengamati bagaimana pilihan-pilihan manusia itu juga berbenturan dengan kondisi alam yang bisa menimbulkan bencana sekaligus berkah, juga berbagai peristiwa-peristiwa di bagian dunia lain yang tak terduga, tapi tetap berpengaruh pada sejarah Nusantara. Hanya 7 artefak yang dipakai untuk menjelaskan itu.

Kemarin, AkhirPekan@MuseumNasional menggunakan beberapa alat peraga untuk bercerita pada anak-anak. Pertama, peta migrasi manusia-fauna Indonesia Atau peta asal usul manusia Indonesia. Kedua, fosil manusia purba. Ketiga, diorama keluarga manusia purba. Keempat, genta candi yang terbuat dari perunggu berasal dari Jawa Timur pada Abad ke-13-14. Genta Candi digunakan di lingkungan percandian atau kuil sebagai alat komunikasi untuk memanggil umat beribadah.

Kelima, haut relief, yakni relief tentang Gunung Penanggungan Jawa Timur pada Abad ke-13-14. Relief itu menggambarkan beberapa pendeta di suatu pertapaan (memegang tasbih) dan sedang memberikan wejangan kepada murid-muridnya. Tampak di sini atap rumah pertapaan berbentuk segi enam dan memiliki tiang-tiang bangunan.

Keenam, basrelief pemandangan sawah dari abad ke-14-15. Relief ini menggambarkan daerah pertanian pada masa Majapahit: sawah di tepi sungai, lembah, dan bukit. Ketujuh ialah aneka miniatur rumah adat.

Fokus pada beberapa artefak itu membuat anak-anak tak diburu-buru untuk melihat seluruh koleksi museum sehingga pemandu museum kini memiliki lebih banyak waktu untuk mengajak anak-anak berdiskusi dan mendalami berbagai persoalan yang menjadi latar dari perang tersebut.

Melalui gabungan story telling, jelajah museum, dan diskusi itu, anak-anak dan orangtuanya kami ajak merenungkan pilihan-pilihan salah dan benar yang dibuat manusia sepanjang zaman sehingga membentuk perjalanan bangsanya hingga ratusan tahun kemudian.

“Ini upaya kami untuk mengajak anak-anak dan keluarganya untuk belajar lebih kritis dalam melihat suatu persoalan, mempelajari dan mempertimbangkan dulu berbagai sudut pandang, agar tidak sekadar latah dengan apa yang mereka lihat dan dengar di masyarakat,” tutur Yudhi Soerjoatmodjo.

“Menyelami sejarah menjadi alat yang baik untuk melatih hal itu karena kita bisa mempelajari aneka catatan dan artefak yang tersimpan,” sambungnya.

Saatnya kini museum-museum di Indonesia memosisikan diri bukan lagi sebagai gudang barang-barang tua atau lokasi wisata yang bertumpu pada kunjungan turis asing dan rombongan siswa sekolah, melainkan sebagai ruang eksplorasi. Masyarakat bisa merenungkan persoalan-persoalan masa kini dan masa depan secara positif melalui penjelajahan dan pembelajaran dari masa lalu, termasuk menyikapi kebinekaan dan keberagaman yang saat ini sedang mendapati ujian. “Yang menolak kebinekaan dan keberagaman, mending mereka datang ke museum deh,” pungkas Yudhi. (M-2)

Komentar