Pesona

Simbol Kebahagiaan yang tidak Putus

Ahad, 28 May 2017 00:01 WIB Penulis: SITI RETNO WULANDARI wulan@mediaindonesia.com

MI/PANCA SYURKANI

PERHIASAN etnik dengan bentuk oval dan memiliki bulatan di tengah sudah kembali populer beberapa tahun ini. Perhiasan yang umumnya berbahan tembaga, besi, perak, dan emas itu kerap disematkan di bagian tengah kebaya atau digunakan sebagai kalung. Tidak sedikit pula para pecinta fesyen yang mengenakannya untuk memberikan sentuhan adati pada busana kasual dan modern. Rangkaian tiga tingkat serta berbagai isen-isen yang ada pada perhiasan itu memang bisa menjadi gaya yang unik.

Meski kembali banyak dikenakan, mungkin tidak banyak orang tahu nama dan makna perhiasan tersebut. Kedua hal inilah yang menjadi bagian yang dipersembahkan Samuel Wattimena di Plataran Menteng, Jakarta, Selasa (16/5). Pending, demikian nama perhiasan itu, dahulu menjadi perhiasan dalam pernikahan dan sudah ditemukan sejak abad ketujuh. Benda budaya ini dibawa pedagang Tiongkok yang kemudian dijual kepada rajaraja daerah, dikembangkan melalui perajin lokalnya. Karena adanya pembauran itu, perhiasan ini disebut peranakan.

“Dengan siluet tanpa sudut, pending menjadi makna akan kebahagiaan dan kelancaran rezeki yang tak pernah putus bagi calon pengantin. Perhiasan ini biasanya ditemukan sebagai kepala ikat pinggang dan dipakai pengantin pria. Perhiasan ini menarik bagi saya,” tutur Samuel yang bekerja sama dengan The Palace Jeweler dalam mengeluarkan koleksi perhiasan pending bertajuk Seri Nusa. Untuk menciptakan seri perhiasan itu, Samuel atau yang akrab disapa Sammy juga berdiskusi dengan Antropolog Forum Kajian Antropolgi Indonesia, Notty J Mahdi.

“Filosofi nya amat baik. Mata di bagian tengah perhiasan juga dekat dengan fi losofi Buddha yang berarti keabadian,” ujar Notty. Notty menjelaskan bentuknya yang tanpa sudut membuat perhiasan pending tetap banyak dibuat perajin hingga kini. Beberapa koleksi pending di Palembang. Salah satunya berbahan emas dengan material di bagian tengah berasal dari kulit intan sehingga lebih keras, tapi harganya lebih terjangkau. Sementara itu, di Aceh, perajin lokal banyak memasukkan motif bunga-bunga.

Kekinian
Samuel menjelaskan koleksi yang ia buat bersentuhan kekinian. “Pendekatannya lebih kepada siluet dan isen-isen yang beraneka ragam. Kalau untuk persoalan ketebalan dan bahan kami berkreasi. Ini juga upaya kami menyosialisasikan budaya di era global,” tuturnya. Sentuhan kekinian itu di antaranya berwujud pending coker dengan liontin oval mendatar dan diberi kilauan berlian pada bagian mata. Tak hanya kalung, ada juga anting, gelang, dan bros yang jumlah keseluruhannya mencapai 20 koleksi.

Isen-isen yang berupa bunga dan sulur mempercantik tampilan perhiasan. Ada nuansa tradisional tapi dalam gaya yang lebih kekinian. Pada beberapa perhiasan, di bagian sisinya diberi aksen mengerucut, tapi kembali dimunculkan bulatan kecil sebagai penanda bentuk yang terus berputar. Samuel mengakui untuk koleksi kali ini, fokusnya ialah pada pending di wilayah Sumatra. Padahal pending juga bisa kita temukan pada daerah Jawa dan Kalimantan.

Fokus, ujar Samuel, agar memudahkan dirinya dalam berkreasi pada isen-isen maupun struktur dari perhiasan itu. Terkait dengan keterlibatan perajin lokal, Samuel tidak menyertakannya karena kebanyakan dari mereka masih menggunakan teknik buatan tangan. Jelita Setifa, General Manager the Palace Jeweler, mengakui inovasi kali ini sebagai upaya untuk bisa menjadikan The Palace Jeweler sebagai representasi perhiasan asal Indonesia. Ia juga menjelaskan penggunaan material untuk Seri Nusa menggunakan emas yang tidak tua agar dapat mengikat berlian, dan juga penggunaan sirkon, maupun emas putih. Perhiasan, kata Jelita, juga harus ringan dan gampang dicerna dari bentuknya. (M-3)

Komentar