MI Muda

Ratu Sepatu Unik nan Murah

Ahad, 11 June 2017 00:01 WIB Penulis: M-1

Dok. Pribadi

Bogor punya kisah panjang sebagai produsen sepatu. Nah, salah satu anak muda kota ini memanfaatkan keterampilan para perajin dengan cerdik.

BUKALAH @thisandthatstore, aneka sepatu datar alias flatshoes dengan desain kekinian menggoda mata. Enggak bisa langsung dikirim setelah mengeklik. Di toko Instragram ini, ditulis, preorder wajib sabar, nah! Yuk kenalan dengan Khaira Fitriani, sang pemilik usaha. Cari tahu kenapa ia bisa jual sepatu-sepatu lucu itu seharga Rp50 ribu-Rp60 ribu, kiat berinteraksi dengan perajin serta tentunya belajar dari kesalahan. Simak wawancara Muda dengan Khaira, ya!

Ceritakan soal bisnis kamu, dong!
Aku berbisnis flatshoes perempuan, aku yang desain sendiri. Jualnya di media sosial Instagram.

Awal mula kamu menjalani bisnis ini?
Awalnya aku jadi re-seller sepatu orang lain, jadi aku jualin barang milik orang lain. Akan tetapi, lama-kelamaan aku mikir, kenapa enggak bikin sendiri saja ya.
Terus dari situ, aku mulai cari-cari bengkel untuk bisa bikin sepatu sendiri. Aku tanya dari satu tempat ke tempat lain untuk cari tahu di mana yang bisa bikin sepatu.
Aku mulai bisnis ini dari 2015 hingga saat ini. Sebenarnya, awalnya aku bikin usaha ini cuma untuk nambahin uang jajan saja, tapi alhamdulillah respons dari pasar lumayan banget.

Bisa dibilang kamu pebisnis baru, gimana caranya agar bisa eksis?
Sebenarnya aku mengerti bisnis ini karena dijalanin, bukan dari belajar atau kursus. Jadi misalnya sudah ketemu sama tukang sepatunya, aku tanya-tanya ke dia, untuk membuat sepatu itu bahan apa aja yang dibutuhin? Nanti tukangnya jelasin semuanya. Nah, dari situ aku banyak belajar dan banyak tahu.

Kenapa kamu memilih jenis usaha ini?
Karena di daerah tempat aku, di Bogor, bisa dibilang pusatnya pembuatan sepatu, toko-toko sepatu di sini juga banyak. Jadi lebih mempermudah.

Bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat sepatu?
Material yang dibutuhin itu seperti kulit sintetis, beludru, sol, lem, busa, finteks, lateks, dan bahan yang lainnya.

Bagaimana proses pembuatan sepatu itu sendiri?
Jadi, pertama, aku beli bahan-bahan mentah untuk membuat sepatunya. Setelah itu, bahan untuk bagian atas sepatu, seperti kulit sintetis dan beludru. Bahan-bahan itu aku kasih ke tukang untuk bikin pola. Bahan dipola terlebih dahulu, lalu aku kasih lagi ke tukang yang lain, di bagian jahit.
Di tukang jahit ini, bahan-bahan yang sudah dijahit itu ditempelin ke busa. Kita pakai busa biar tidak lecet. Setelah itu, kita sol sepatunya biar kuat. Nah setelah itu kita bersihin sepatunya terus ditambah hiasan seperti aksesori atau pita untuk mempercantik tampilannya.

Dari mana kamu mendapat inspirasi desain untuk sepatu kamu?
Kadang aku lihat orang pakai sepatu yang bagus dan lucu, terus tebersit di otak aku, kayaknya bagus nih untuk dimodif. Terus, ya, sudah aku bikin. Aku juga suka cari referensi dari internet, lihat brand-brand yang sudah terkenal, dan dari situ aku dapat inspirasi untuk membuat desain-desain sepatuku.

Kesulitan apa yang kamu hadapi dalam menjalani bisnis ini?
Dulu pas pertama kali mulai bisnis ini, aku kesulitan untuk menjualnya. Aku menyetok 1 kodi, tapi lama banget lakunya. Itu karena aku belum begitu paham dan belum mengenal marketnya seperti apa, di media sosial juga belum paham branding-nya seperti apa, jadi ya aku kesulitan di situ.
Akan tetapi, belajar dari itu, sekarang aku mengubah sistem jualannya menjadi made by order, jadi aku baru buat sepatunya kalau ada pesanan yang masuk. Dengan kayak gitu juga bisa meminimalkan kerugian.
Terus, sempat juga sulit untuk menemukan tukang yang pas. Aku sudah beberapa kali ganti tukang karena berbagai macam hal. Mereka suka kerja seenaknya, pengin dapat uang cepat tapi kerjanya enggak benar.
Pernah aku kasih model dia A, terus sama tukangnya tiba-tiba dimodif sendiri, jadi yang nyampe di kita beda lagi bentuknya.

Branding kamu seperti apa?
Dari awal aku sudah memasarkannya lewat Instagram. Terus kita juga suka ikut event di car free day, acara-acara kampus, dan dari situ lumayan menambah banyak konsumen.

Omzet per bulan?
Alhamdulillah per bulan itu bisa sampai Rp20 juta-Rp30 juta.

Selain keuntungan materi, hal apa yang kamu dapat selama menjalani bisnis ini?
Banyak banget, aku jadi punya banyak relasi. Aku ini anaknya kupu-kupu, atau kuliah pulang-kuliah pulang. Namun, sejak jalanin bisnis ini, aku banyak interaksi dengan orang, banyak kenal orang-orang hebat yang bergerak di bidang serupa juga.
Selain itu, aku senang bisa membantu orang lain, kayak tukang sepatu yang sekarang, tadinya dia enggak kerja, terus alhamdulillah aku bisa bantu dia dengan memberikan lapangan pekerjaan. Pokoknya banyak hal yang aku dapat di sini.

Apakah berbisnis tidak mengganggu jadwal kuliah kamu?
Pas pertama-tama sih sempet bentrok ya karena aku belum bisa mengatur waktu, tapi lama-kelamaan aku jadi bisa memanage waktuku dengan baik dan alhamdulillah sekarang sudah enggak ketinggalan kuliah lagi.

Bagaimana dukungan dari orangtua?
Orangtua aku itu pendukung nomor satu aku. Mereka dari awal selalu support aku.

Bagaimana rencana kamu ke depan?
Pastinya pengin ngembangin bisnis aku, rencana terdekat aku mau buka toko offline gitu he he.

Saran kamu untuk memulai usaha?
Kalau kalian ingin melakukan sesuatu ya harus benar-benar diseriusi. Harus 100% jalaninnya. Kalau jatuh jangan cepat menyerah, harus cepat-cepat bangkit lagi pokoknya. (M-1)

Khaira Fitriani
Tempat, tanggal lahir:
Jakarta, 16 Oktober 1996
Pendidikan:
Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Jakarta
Prestasi:
owner @thisandthatstore

Komentar