MI Muda

Adu Keren Desain Pop Up Market

Ahad, 11 June 2017 06:16 WIB Penulis: Suryani Wandari/M-1

SEMEN lapisan luar dinding terkelupas, memperlihatkan merahnya batu bata.

Bahkan beberapa sudut ruangan lainnya pun terlihat sudah rapuh. Gedung Kertaniaga, di kawasan Kota Tua Jakarta, ini memang tampak terbengkalai. Namun, kekusamannya itu ternyata bisa disulap menjadi lebih reaktif dan interaktif.

Ya, bagi para arsitek dan desainer interior, bangunan terbengkalai ini justru memiliki keistimewaan. Mereka ditantang mengubahnya menjadi bernilai seni tinggi. “Biasanya turis datang ke Kota Tua hanya 30 menit lalu pulang, sekarang kita ingin mereka tidak hanya menikmati sejarah, tapi menikmati bangunan, beli suvenir dan sebagainya,” kata Nikolaus Lim, Retail and Business Development Director Konsorsium Kota Tua Jakarta, dalam acara Urban Intervention and Creativepreneur.

Acara pada Sabtu (20/5) itu merupakan kerja bareng Konsorsium Kota Tua Jakarta dan PT Silverline Studio Indonesia dengan tajuk Urban Intervention and Creativepreneur.

Semangatnya meningkatkan gairah terhadap ruang publik dengan semangat young and creativepreneur.

Instalasi bongkar pasang Ruang-ruang publik, terutama yang dikategorikan sebagai abandoned use di kawasan Kota Tua Jakarta, kini ngebut direvitalisasi.

Ada 12 gedung di Taman Fatahillah dan sekitarnya yang dipercantik, baik luarnya maupun bagian dalamnya. Gedung-gedung tersebut menurut rencana dijadikan tempat berkumpulnya anak muda yang ingin berkreasi.

Sebagai salah satu langkahnya, Konsorium dan PT Silverline mengadakan sayembara desain kompetisi dengan tema Pop up market.

Pesertanya kalangan mahasiswa jurusan desain arsitektur dan interior. Mereka berlomba merancang interior pop up market dalam bangunan tua tentunya dengan penampilan yang keren.

Istilah pop up market merujuk pada pasar yang dilakukan tidak tetap. Para desainer muda ini dituntut bisa merancang pasar dengan desain yang mudah dibongkar pasang. “Kami memilih material yang umum, pemasangannya mudah dan portabel. Jadi sewaktu-waktu harus berpindah tempat kami bisa membongkarnya dengan cepat,” kata Anthony dari Universitas Tarumanagara yang menamai konsepnya Lekock Lajar.

Ya, nantinya desain ini akan mengikuti bentuk bangunan yang ada sehingga konsep mereka bisa digunakan di mana saja. Hanya, dalam kompetisi ini mereka harus mengambil satu bangunan sebagai market place-nya.

Semangat museum bahari Anthony bersama Tommy, teman satu timnya yang memenangi kompetisi ini, memilih Museum Bahari, Jakarta, untuk mengembangkan instalasinya. Bangunan yang juga merupakan bagian dari sejarah Jakarta ini, ia kreasikan agar tak kehilangan pamor. Ada instalasi yang disebar dengan bentuk layar yang kemudian tersegmentasi menjadi tiga bidang. Instalasi itu menjaga stabilitas kontruksi dan menunjang persiapan stan dalam berbagai masalah iklim, seperti hujan atau sinar matahari.

Sementara itu, tim yang menjadi juara ketiga, Leo Tanardy dan Celvin Leowardi dari Universitas Bina Nusantara, memadukan interior Dutch style dan industri kontemporer untuk menciptakan suasana pasar Indonesia saat zaman Belanda. Mereka mengaplikasikannya di Museum Mandiri, juga di kawasan Kota Tua.

“Kami memakai sirkulasi loop, pengunjung masuk dan dipertemukan dengan grand booth batik di kedua sisinya, diakhiri grand booth lainnya.

Ada banyak booth yang bisa dipakai berbisnis atau workshop untuk wadah bagi para seniman,” kata Leo.

Pedagang klithikan Semarang

Tak hanya memilih bangunan yang belum dimaksimalkan di Jakarta, peserta pun meriset dan mencoba mengaplikasikannya di kawasan Kota Lama Semarang. Salah satunya Bayu Kusuma Adi dari Universitas Gadjah Mada.

Ia menawarkan konsep arsitektural yang menjembatani tiga isu yang sedang panas di Semarang, yakni revitalisasi Kota Lama Semarang, perkembangan jumlah pelaku industri ekonomi kreatif, UMKM serta relokasi pedagang klithikan Kota Lama Semarang.

“Pada dasarnya perancangan pasar festival ini untuk memicu aktivitas di Kota Lama Semarang. Dengan kata lain, mengubah paradigma Kota Lama Semarang yang awalnya cost center menjadi profi t center,” kata Bayu.

Pasar ini nantinya akan menawarkan produk-produk unggulan Semarang dan Jawa Tengah yang dikemas dalam tampilan yang atraktif. Selain itu, pedagang klithikan atau barang bekas di kawasan Padangrani juga akan diberikan ruang di sana. Itu ide mereka, apa gagasanmu? (M-1)

Komentar