MI Muda

Seni untuk Kesehatan Jiwa

Ahad, 18 June 2017 00:31 WIB Penulis: Fathurrozak Jek, Universitas Esa Unggul

Dok. Pribadi

HANA ‘Madness’ Alfikih pernah didiagnosis bipolar psikotik, yakni keadaan naik turunnya suasana hati secara ekstrem disertai halusinasi. Ia merupakan salah satu seniman Art Brut yang menonjol. Pada akhir 2016 ia menjadi delegasi Indonesia untuk Unlimited Festival London, festival untuk para penyandang disabilitas.

Ia yang kini menjalani diet vegan dan sudah berhenti mengonsumsi obat selama empat tahun belakangan ini juga aktif dalam serangkaian pameran Art Brut, produk seni dari para penyandang gangguan kejiwaan.

Tak hanya berfokus di jalur seni, ia juga sering menjadi pembicara berbagai forum isu kesehatan jiwa dan seni, dan sesekali menuangkan karyanya untuk berbisnis.

Kapan kamu tahu punya potensi menggambar?

Aku suka menggambar sejak SMP. Karena di sekolah bermasalah, enggak bisa ngikutin pelajaran. Di rumah, gue juga udah harus struggling sama orangtua, dengan apa yang gue alami.

Akhirnya, cuma bawa sketch book sama drawing pen tiap hari. Kalau dita­nya soal potensi, sebenarnya kadang sampai sekarang juga suka enggak percaya diri. Tapi 2012, gue ketemu sama teman, yang sekarang jadi partner, yang menyarankan buat pindah media kreasi ke kanvas. Dulu sih lebih ke digital, di komputer.

Bagaimana kamu mulai merintis karier seni?

Pada 2010, gue bekerja sama dengan salah satu produsen korek ternama. Lima desain gue dibeli sama mereka, dan akhirnya rilis 2011. Kalau desain gue orang bayar, sudah mulai sejak SMA.

Gue percaya, banyak temen banyak rezeki. Dari situlah desain gue dipakai untuk clothing line dan teman-teman gue mulai minta dibikinkan desain, lumayan waktu itu. Ya, sekitar Rp200 ribuan per desain pas masih SMA.

Enggak langsung masuk kuliah waktu itu. Lulus SMA 2009, masuk kuliah 2011. Ayah memang masih membiayai buat kuliah, cuma untuk biaya hidup gue sudah cari sendiri.

Meskipun pada akhirnya enggak sampai selesai, cuma sampai semester lima. Karena gue harus masuk lagi bangsal RSCM, gangguan kejiwaan gue kambuh lagi.

Dari SMA pun gue sudah suka ikut pameran sebenarnya, cuma orangtua belum begitu peduli, sama halnya ketika desain gue sudah rilis di pasaran untuk produsen korek tadi.

Lalu, kenal Art Brut sejak kapan?

Pada 2012, gue diundang sebagai pembicara dalam acaranya Indonesia Street Art Database (ISAD), gue berbicara terkait street art dan disabilitas. Di situ pun gue belum kenal yang namanya Art Brut. Lalu kenalan sama wartawan, namanya Mas Nawa Tunggal, dia punya kakak yang mengidap skizofrenia akut, dan tunarungu juga, Dwi Putro (Pak Wi) namanya.

Pak Wi ini juga berproses kesenian. Mulai dari situ kita berjejaring. Menjalin komunikasi sampai akhirnya bikin proyek bareng, seperti jambore di Ancol dan beberapa proyek lain sampai sekarang.

Gimana ceritanya bisa jadi delegasi di Unlimited Festival London 2016?

Juni 2016 gue diundang British Council untuk ikut seminar Mainstreaming Dissability Art. Acara itu dihadiri Jo Verrent, produser eksekutif Unlimited Festival. Ternyata gue masuk daftar orang yang harus presentasi, memperkenalkan siapa gue.

Pas gue tanya, ternyata mereka dapet kontak gue dari Khairani Barokka, aktivis yang konsen isu difabel juga, yang lagi ambil S-3 di London. Dia sempat jadi salah satu pembicara bareng gue sewaktu acara ISAD 2012.

Beberapa hari kemudian, diundang dinner sama Jo Verrent dan gue bawa contoh karya yang gue bikin, di situ ada beberapa undangan juga. Terus dapet surel, gue ditawari untuk jadi delegasi ke Unlimited Festival. Disuruh milih, ke London apa Glasgow, gue bersama salah satu delegasi milih ke London, dan dua delegasi lain ke Glasgow, total ada empat.

Unlimited Festival ini acaranya teman-teman difabel secara general. Jadi enggak cuma yang kejiwaan aja, tapi juga teman-teman difabel fisik. Ada sekitar 20 negara yang turut serta dan 30 delegasi. Ada pameran, stand up, teater.

Sambutan masyarakat tinggi banget. Bisa dikatakan, masyarakat sudah enggak fokus ke difabelnya, tapi karya mereka. Gue pun membawa contoh karya yang dibagi-bagikan, gue ngobrolin kolaborasi yang mungkin terjalin.

Pokoknya ini kesempatan luar biasa. Ini pun jadi mimpi gue buat bikin acara serupa di Indonesia supaya teman-teman difabel juga terangkat isunya.

Dapat dukungan dari pemerintah?

Mungkin, sebelum 2010, isu difabel ini enggak terangkat, mata dunia tertutup. Tapi ada momentum Paralympic 2010 di London, yang akhirnya mereka melihat ternyata difabel juga mampu melakukan hal-hal yang luar biasa.

Awalnya ya dari komunitas-komunitas kecil, lembaga swadaya. Nah, barulah. Pemerintah mendukung adanya acara-acara seperti ini, Unlimited Festival. Kalau di Swiss malah sudah ada museum untuk Art Brut.

Di New York, sudah ada art fair yang digelar tahunan. Apresiasinya memang tinggi banget, lingkungannya juga memang sudah mendukung.
Kalau di negara kita, penyuluhan-penyuluhan mengenai kesehatan jiwa pun masih minim, jangankan bicara kesenian.

Pertama kali pemerintah melihat isu Art Brut itu, ya kemarin, Mei 2017, pas gue dan teman-teman pameran di Kemendikbud.

Ya ini juga upaya gue untuk membuat isu kesehatan jiwa ini enggak dianggap tabu lagi sama masyarakat. Bisa dikatakan apa yang teman-teman lakukan ini ya, baru merintis jejaring Art Brut.

Kalau karakter dalam karyamu?

Dulu, gue menggambar tuh dari waham-waham yang gue rasain. Sebenarnya gue ini orangnya ceria banget sih, tapi kalau lagi depresif, ya sudah bukan diri gue.

Karakter-karakter itu muncul dari halusinasi gue, dengan warna-warna cerah mereka, dan gue tuangkan dalam bentuk yang lebih ceria dan lucu, dengan warna cerah.

Bebeapa perusahaan yang kerja sama bareng gue pun, sebenarnya mereka sudah melihat dan tahu karakter gue, bukan siapa gue. Jadi ya, gue lebih ingin dikenal bukan sebagai seniman Art Brut, gue ingin dikenal karyanya, bukan personal gue. Tapi secara enggak langsung gue juga memperjuangkan teman-teman seniman Art Brut.

Apa lagi yang ingin disuarakan?

Dengan gue yang berkesenian terus-menerus, yang gue lakukan adalah hal positif dan enggak merugikan orang lain, orangtua mulai mengapresiasi. Gue juga berjuang supaya isu kesehatan jiwa ini enggak dianggap tabu supaya orang-orang melek sama isu ini dan perlahan mengerti. (M-1)

Komentar