Megapolitan

Sejak Bom Kampung Melayu, Polisi Bekuk 36 Terduga Teroris

Senin, 19 June 2017 15:51 WIB Penulis: Nicky Aulia Widadio

MI/Widjajadi

KEPOLISIAN telah melakukan upaya proaktif terkait pengungkapan rencana aksi teror di Indonesia. Pascainsiden bom bunuh diri di Kampung Melayu, polisi telah menangkap 36 orang terduga teroris di berbagai wilayah.

"Semenjak bom Kampung Melayu, saya sudah menginstruksikan kepada jajaran jangan ambil risiko, mereka yang baru punya rencana, baru mengumpulkan bahan-bahan bom meskipun belum lengkap, tangkap saja," kata Kapolri Jendral Tito Karnavian di Lapangan Monas, Jakarta, Senin (19/6)

Sebanyak 36 terduga teroris tersebut ditangkap di Medan, Jambi, sejumlah wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, hingga yang terakhir di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pada Jumat (17/6) lalu, Densus 88 menangkap dua orang terduga teroris di Bima. Mereka berencana menyerang Polsek Woha, Bima pada Sabtu (17/6). Namun aksi tersebut digagalkan lantaran keduanya tetangkap lebih dulu.

"Yang di Bima dua orang itu (ditangkap) berikut bom yang sudah jadi, bahan peledak TATP," tutur Tito.

Keduanya juga diduga melakukan komunikasi dengan pentolan IS asal Indonesia, Bahrun Naim terkait rencana teror tersebut. Selain mereka, terduga teroris kasus bom bunuh diri Kampung Melayu, yakni AS dan INS juga diketahui berkomunikasi dengan Bahrun Naim. Polisi menemukan bukti komunikasi itu dari ponsel keduanya. Termasuk cara pembuatan bom juga didapat dari Bahrun Naim yang berada di Raqqa, Suriah.

Rata-rata terduga teroris yang digrebek oleh polisi merupakan jaringan dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Sebab, kata Tito, para terduga teroris ini merupakan sel-sel dari kelompok teroris tingkat global yang berbaiat kepada IS.

Aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu dan Thamrin pada 2016 lalu juga dilakukan oleh kelompok JAD. Mereka menganut ideologi takfiri, yang membolehkan mereka membunuh siapa pun yang bukan berasal dari kelompok mereka. Beberapa aksi terorisme di Indonesia pun kerap kali menyerang polisi sebagai targetnya.

"Itulah sebabnya penangkapan yang dilakukan terutama banyak oleh Densus 88, mereka membalas. Tapi nyari Densus susah karena mobile, yang gampang yang anggota di lapangan seperti di Tuban ,anggota lalu lintas," kata Tito. (X-12)

Komentar