Internasional

Partai Macron Kuasai Mayoritas Kursi Parlemen

Selasa, 20 June 2017 05:00 WIB Penulis: (AFP/Arv/I-4)

AFP PHOTO / POOL / CHRISTOPHE ARCHAMBAULT

PARTAI pendukung Presiden Prancis Emmanuel Macron menguasai mayoritas suara di pemilihan umum parlemen yang dihelat pada Minggu (17/6). Republique en Marche (REM) yang didirikan Macron dan para sekutunya memenangi 351 kursi dari 577 kursi di Majelis Nasional. Partai yang didirikan Macron sekitar 16 bulan lalu itu telah memulai babak baru peta politik di Prancis. Meski skor kemenangan lebih rendah ketimbang prediksi sejumlah lembaga survei, keunggulan itu memperkuat posisi posisi Macron dalam melaksanakan program reformasi yang dijanjikannya.

Sebelumnya, sejumlah lembaga survei memperkirakan REM bakal mengantongi 470 suara. "Setahun lalu, tidak ada yang membayangkan pembaharuan politik semacam ini," kata Perdana Menteri Edouard Philippe. Kendati demikian, lawan-lawannya mengklaim, keberhasilan Macron dinilai tidak memiliki dukungan besar. Pasalnya, menurut mereka, keberhasilan tersebut dipengaruhi jumlah pemilih yang hanya di bawah 44%. Pada pemilu tersebut, REM mampu meraih simpati pemillih kalangan sosialis. Hasilnya, Partai Republik yang berhaluan kanan kalah telak.

Di lain hal, politisi Front Nasional (FN) yang berhaluan kanan, Marine Le Pen, disebut merasa kecewa. Pasalnya, FN gagal mencapai sebanyak 15 kursi yang ditargetkan. Kemenangan Le Pen di Kota Henin-Beaumont, yakni wilayah bekas tambang batu bara, sebenarnya menjadi titik terang bagi FN. Pasalnya, kemenangan di wilayah itu merupakan hal yang langka bagi partai nasionalis. Namun, hal itu tidak dapat memberikan kontribusi yang besar untuk partai Le Pen.

Meski begitu, dia berkukuh ke depan FN masih memiliki peran kunci yang strategis. "Kami merupakan satu-satunya kekuatan perlawanan terhadap kemunduran Prancis, model sosial, dan identitas Prancis," tegas Le Pen. Kaum sosialis, kata Le Pen, merupakan pecundang besar. Mereka pantas dihukum karena mengakibatkan tingginya angka pengangguran, kerusuhan, dan kehilangan kepercayaan secara nasional dalam lima tahun kekuasaan mereka.

"Kekalahan Partai Sosialis tidak bisa di-sangkal," kata pemimpin PS Jean-Christophe Cambadelis yang kehilangan kursi di babak pertama. Di sisi lain, Partai Republik bernasib lebih beruntung. Partai itu meraih 131 kursi atau turun dari posisi 200 kursi pada pemilu parlemen sebelumnya.

Komentar