MI Muda

Cupang dan Strategi Bisnisnya Juara!

Ahad, 2 July 2017 04:00 WIB Penulis: Syifa Amelia Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta muda@mediaindonesia.com

DOKPRIBADI

PERNAH dengar kontes ikan cupang hias? Ternyata, tak hanya ratu kecantikan, ikan cupang pun punya kontes sendiri! Di balik serunya kompetisi ini, ada peluang bisnis yang menjanjikan. Yuk intip perbincangan Muda dengan Syuhada, pebisnis cupang yang bukan cuma ikannya saja yang sering menjuarai berbagai kontes, strategi bisnisnya pun jadi jawara di berbagai kompetisi.

Ceritakan dong tentang bisnis kamu?
Bisnis saya, budi daya ikan cupang hias. Awalnya, saya saat menyusun skripsi, saya cari referensi di perpustakaan. Ada skripsi kakak kelas dengan tema menarik, maskulinisasi pada ikan cupang. Setelah itu saya pikir, kenapa enggak dijadikan bisnis saja? Daripada cuma sekadar jadi skripsi tapi tidak diaplikasikan, ya sudah saya aplikasikan. Lalu saya izin sama yang punya skripsi, sekalian minta diajarkan mengenai teknik masukulinisasi.

Akhirnya saya coba buka bisnisnya dan alhamdulillah dapat margin keuntungan. Terus saya mengajukan proposal ke Program Mahasiswa Wirausaha yang ada di kampus untuk nambah modal, ternyata di-acc. Dari sana saya ditunjuk untuk mengikuti lomba Program Wirausaha Indonesia dan alhamdulillah dari event itu saya bisa dapat banyak modal untuk mengembangkan bisnis.

Apa yang membedakan bisnis kamu dengan bisnis ikan cupang lainnya?
Prinsipnya ini kan budi daya ikan cupang, faktor pembedanya dari teknik maskulinisasi­nya. Maskulinisasi itu kan berarti jantan, jadi saya memaksimalkan produksi cupang jantannya karena kalau di Jepang, yang bernilai jual tinggi itu cupang jantan. Jadi saya sangat maksimalkan produksi ikan jantannya. Tekniknya sendiri, pakai tanaman purwoceng, beli bubuk ekstrak purwoceng instans di Serambi Botani, lalu dicampur dengan aquades, dilarutkan.

Setelah itu ekstrak purwoceng dicampurin ke pakan ikannya. Pokoknya sistemnya itu pengayaan pakan ikan. Jadi pakan yang kita kasih ke ikan itu sudah mengandung ekstrak purwoceng. Lazimnya, untuk meningkatkan produksi ikan cupang jantan itu pakai hormon metil atau menggunakan hormon yang mengandung bahan-bahan kimia. Nah, kelebihan teknik yang saya terapkan ini, bahan yang saya gunakan adalah bahan-bahan alami atau herbal seperti tanaman purwoceng tersebut.

Pasarnya ke mana saja?
Kalau pasarnya sih cukup luas, sampai mancanegara. Saya pernah kirim ke Prancis, Italia, Hong Kong, dan Singapura.

Seberapa menarik bisnis ikan cupang ini?
Ikan ini memang hanya dijadikan hiasan saja bagi para pehobi. Cupang ini sangat menarik karena ibaratnya, ikan ini enggak ada matinya, selalu ada terus zamannya.
Selain itu, sebetulnya cupang ini trennya sudah cukup luas bahkan sering ada kontes ikan cupang, baik dalam maupun luar negeri. Ikan cupang saya pun sudah sering dikonteskan di berbagai macam event dan sering jadi juara juga karena segmen saya, buat pemain kontes dan pehobi ikan cupang.

Wow, pernah menang kejuaraan apa saja?
Yang terbaru, Grand Champion kategori Baby Kontes Ikan Cupang Regional Open Banten 19-20 Mei 2017, Juara 1 Baby Crowntail (Orchid) Kontes Ikan Cupang Nasional Sentra Flona Semanan Jakarta 13-14 Mei 2017, serta Juara 3 Halfmoon Kombi Kontes Nasional Surabaya Betta Community 21-22 Januari 2017.

Dari mana kamu dapat bibit ikannya?
Semua ikan didapat dari Indonesia sendiri, enggak pernah impor malah justru saya yang ekspor.

Harga ikan paling mahal?
Harga relatif karena ini ibaratnya barang seni, jadi harganya tidak ternilai. Kalau saya sendiri paling mahal pernah menjual ikan seharga US$50 per ekor atau setara dengan Rp650 ribu. Untuk mengategorikan ikan mahal itu dapat dilihat dari keunikan ikan tersebut, seperti warnanya.

Ada berapa jenis ikan cupang yang kamu jual?
Ikan cupang ini ada berbagai jenis yaitu ada crowntail atau serit, modelnya yang siripnya seperti jarum. Halfmoon, jenis ikan yang siripnya lebar. Plakat, jenis ikan yang siripnya pendek.

Bagaimana cara kamu bagi waktu?
Saat ini saya jadikan bisnis itu sambilan karena sudah punya pekerjaan tetap. Sebelum berangkat kerja, saya kasih makan ikannya dulu, terus pulang kerja saya kasih makan lagi sambil mengurus yang lain seperti ganti air, foto-fotoin ikan untuk dijual, dan kegiatan lainnya. Alhamdulillah masih bisa atur waktu dan tidak terlalu bentrok dengan pekerjaan karena saya produksinya di rumah sendiri.

Bagaimana promosinya?
Semuanya via online.

Apa yang harus disiapkan anak muda untuk bisa terjun ke bisnis ini?
Tiap usaha pada intinya sama, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalau kita rajin, ulet, usahanya bakal cepat berkembang. Harus berani mencoba, jangan takut ini, takut itu, lakukan saja. Kalau gagal kan jadinya bisa dapat pembelajaran.

Pernah enggak mengalami kegagalan?
Pas awal-awal usaha itu gagal, dulu itu belum terlalu bisa budi dayanya, jadi saat saya belanja bahan-bahan suka ditipu sama orang. Terus juga pernah pas mengirim ikan, ikannya mati.

Bagaimana kamu menyikapi persaingan?
Kan pasar luas. Saya menyikapi persaingan itu dengan meningkatkan kualitas ikan, kualitas hasil foto dari ikan agar terlihat menarik dan berbeda dari yang lain. Selain itu, saya memberikan pelayanan terbaik.

Agenda ke depannya?
Ke depannya mau punya karyawan sendiri biar saya tinggal memantau saja. Saya juga i­ngin bisnis ini berkembang seperti di Thailand karena di sana sangat didukung pemerintah. Harapannya, di Indonesia juga didukung seperti itu, kayak legalitas untuk mengirim antardaerah kan masih ilegal tuh, masih suka curi-curi buat mengirim ikan. Untuk karantinanya juga masih dipersulit. Harapannya sih bisa didukung, dikasih bantuan berupa dana dan pelatihan karena yang mengerti tentang akademik pertanian dan perikanan cuma beberapa, masih banyak petani tradisional yang butuh bimbingan dan arahan. (M-1)

Komentar