Travelista

Bergelut dengan Ombak Sentarum

Ahad, 2 July 2017 05:00 WIB Penulis: ARIES MUNANDAR aris@mediaindonesia.com

Vegetasi hutan rawa pasang-surut dengan latar belakang perbukitan yang mengelilingi Danau Sentarum. MI/Aries Munandar

BUKIT berselimut kabut menghiasi pemandangan di sepanjang perjalanan. Etalase alam itu berpadu dengan barisan ombak yang mengempur laju perahu bermotor. Deru angin yang menghantam perairan membuat perahu beberapa kali harus melambat dan meliuk untuk menghindari ombak. Menikmati pemandangan alam dengan tumbuh tergunjang membuat petualangan ini menjadi menegangkan. Nyali pun terkadang menciut manakala ombak besar seakan tidak putus menerjang perahu bermesin 15 pk tersebut. Berada di tengah danau yang luas dalam kondisi seperti itu sungguh memacu adrenalin.

Danau Sentarum pagi itu, Jumat (26/5), seakan tengah bergejolak. Kemahiran dan jam terbang pengemudi pun benarbenar diuji. Salah perhitungan bisa membuat perahu oleng dan terbalik. Para penumpang juga harus mampu menjaga keseimbangan dengan tetap duduk tenang di perahu tanpa kursi tersebut. “Syukurlah penumpang tetap tenang. Kalau panik, speedboat akan oleng dan mungkin bisa terbalik,” ujar Direktur Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (Kompakh) L Radin, saat rombongan merapat di Dermaga Lanjak di Kecamatan Batanglupar, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Radin menjadi pemandu sekaligus memimpin rombongan journalist trip yang menyudahi perjalanan di hari itu. Kami mengarungi danau dari Dusun Sungaipelaik, Desa Melemba, Batanglupar, dengan mengunakan tiga perahu bermotor. Rombongan harus berkejaran dengan waktu agar tidak ketinggalan penerbangan. Ada sekitar 2 jam perjalanan lagi yang harus ditempuh melalui jalur darat untuk sampai ke bandara.

Waswas ketinggalan penerbangan terakhir pada hari itu menggenapi ketegangan selama mengarungi danau. Namun, eksotika alam berupa hamparan bukit hijau berselimut kabut dan ve getasi hutan lahan basah yang mengelilingi danau menjadi penawar ketegangan. Walaupun hari mulai beranjak siang, kabut masih pekat menyelimuti puncak perbukitan. “Gelombangnya tadi memang cukup besar. Saya terus terang, mengkhawatirkan kalian,” aku Kaya, warga Sungaipelaik yang ikut mengantar kami ke Lanjak.

Himpunan 20 danau
Danau Sentarum membentang seluas 120 ribu hektare dan menjadi bagian dari 132 ribu hektare Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Danau ini dianugerahi pemandangan alam menawan dan beragam keunikan. Ekosistemnya terdiri atas lahan basah, hutan rawa, dan hutan hujan tropis. Sentarum sejatinya merupakan danau majemuk atau kumpulan dari beberapa danau. Ada sekitar 20 danau yang membentuk Sentarum.

Saat kemarau, beberapa wilayahnya berubah menjadi daratan bahkan bisa dilewati dengan sepeda motor. Sentarum kembali menjelma menjadi genangan raksasa ketika musim penghujan tiba. Namun, perjalanan kali ini lebih banyak menyusuri kawasan pinggiran atau penyangga TNDS. Bentangan alam serta keragaman flora dan fauna mereka juga tidak kalah memesona. Seperti Danau Telatap, yang kami nikmati keasriannya dari sebuah menara berupa rumah panggung bertiang tinggi.

Danau Telatap menjadi satu di antara lokasi pemancingan sekaligus tempat persinggahan sebelum memasuki perkampungan di Desa Melemba. Danau berarus tenang ini dikelilingi perbukitan hijau. Seperti Danau Sentarum, air di Telatap jernih kecokelatan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya.

Mencari orang utan
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Desa Melemba. Ada dua dusun yang dituju, yakni Meliau dan Sungaipelaik. Di Meliau, kami menyusuri habitat alam orang utan Kalimantan. Walaupun belum berhasil menjumpai orang utan, kami menemukan sarang dan bekas pakan yang disantap mereka.

Toleransi di rumah panjang
Di Sungaipelaik, kami disambut dengan ritual adat oleh warga Dayak Iban yang bermukim di rumah panjang. Selain merasakan kehidupan tradisional, kami belajar makna toleransi dari mereka. Ada satu keluarga muslim bermukim di rumah panjang tersebut. Mereka hidup rukun dengan sesama warga Iban yang mayoritas Katolik. “Wisatawan bisa merasakan sendiri keseharian warga. Semua berjalan alami, tidak ada yang di-setting,” kata Radin. Danau Telatap kembali disinggahi saat perjalanan pulang dari Sungaipelaik menuju Lanjak. Kabut yang menyelimuti puncak perbukitan membuat pemandangan kali ini terasa berbeda dari sebelumnya.

Perjalanan selanjutnya pun harus mengarungi ombak besar di tengah Danau Sentarum, tidak seperti saat datang. Danau Sentarum memang dikenal berombak besar, terutama pada pagi dan sore hari. Ketinggian ombak bisa mencapai 2 meter pada saat sore hari. Warga setempat pun bahkan tidak berani mengarungi danau selepas pukul 17.00 WIB. Selain ombak besar, badai sering terjadi di pengujung sore tersebut. (M-1)

Komentar