MI Muda

Mari Berhemat dan Berbagi Energi!

Ahad, 9 July 2017 03:01 WIB Penulis: Iis Zatnika

DOK ESDM

Energi bukan cuma soal kemampuan membayar, melainkan juga mengajarkan soal kontribusi, berbagi, dan keadilan.

'SUBSIDI tepat sasaran disinggung Pak Rudi. Listrik untuk semua. #BBMListrikLebaran @KementerianESDM'.

'Perkiraan daya selama Idul Fitri #BBMListrikLebaran'.

Cicitan @MariaMargaret20 dan @mommyathar itu di-retweet Sumiyati Sapriasih. Cicitan-cicitan tentang listrik, gerakan menghemat 10%, hingga berbagi energi itu intens berseliweran, bahkan hingga menjadi salah satu trending topic.

Sumiyati, pendiri Sahabat Blogger, salah satu buzzer yang diundang dalam kegiatan Sobat Energi, forum yang mempertemukan pelaku usaha, masyarakat umum, bloger, hingga akademisi dengan tim Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada Selasa (20/6) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

"Saya memang sudah tergabung dalam Sobat Energi. Sebelumnya juga ikut forum ini. Jadi makin paham dan lebih banyak kiat yang bisa kami bagi dan sebarkan pada netizen," kata bloger yang kini juga aktif mengoordinasi pertemuan antarinstitusi hingga korporasi dengan para buzzer.

Tantangan berhemat

Dalam memenuhi tantangan untuk menghemat konsumsi listrik, dengan mempraktikkan kiat-kiat yang dibagi, pemilik situs Sumiyatisapriasih.com itu bahkan bisa melampaui target 'Potong 10%'. Gerakan kampanye hemat energi listrik itu dalam tagihan listrik yang dibayarkan Sumiyati itu bahkan berwujud efisiensi hingga lebih dari 50%.

"Jika biasanya bayar listrik hingga Rp300 ribu, setelah tahu cara menghemat, turun hingga Rp100 ribuan. Memang butuh pembiasaan, juga penyesuaian, tapi yang bisa dihemat banyak lo. Jadi, bisa hemat untuk diri sendiri dan keluarga, juga berkontribusi mengalihkan energi yang untuk mereka yang lebih memerlukan," kata Sumiyati yang getol membagi kiatnya lewat Twitter, Instagram, hingga blog.

Sumiyati mengisahkan penghematan itu berpangkal pada cara penggunaan mesin cuci. Jika semula untuk membilas ia menggunakan mesin cuci, kini pembilasan dilakukan dengan tangan. Berikutnya, membiasakan listrik yang tersisa setiap malam setelah seluruh keluarganya tidur hanyalah lampu di depan rumah. Sementara itu, seluruh lampu di dalam rumah dimatikan. Begitu pun televisi, hanya ada satu yang bisa dinyalakan, yaitu di ruang keluarga. Perubahan yang membutuhkan penyesuaian lebih mendasar terjadi pada sistem penyaluran air.

"Saya membangun penampungan air, semula kan masih sistem cabut colok mesin air. Karena kan tiap mesin air dinyalakan, ada berapa watt yang dibutuhkan," kata Sumiyati.

Mahadaya dan energi

Selain Sumiyati, gaya hidup berhemat membawa berkah juga dipraktikkan

Donny Saputra, 20, mahasiswa semester 7 Jurusan Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta yang juga ketua panitia Mahadaya Mineral di kampusnya.

Untuk menyebarkan semangat berkontribusi buat energi Indonesia, Donny dan timnya menggelar rangkaian kegiatan kompetisi futsal, basket, poster ilmiah, poster kreatif, seminar, hingga penampilan band-band kampus lokal. Selain berkontribusi buat pengembangan energi terbarukan, ada pula pesan tentang pentingnya pemahaman dan empati publik.

"Penelitian, pengembangan, dan penyaluran energi itu mahal, lama, dan butuh proses yang kompleks, bahkan bisa butuh waktu hingga 50 tahun. Masyarakat harus tahu itu dan berempati, salah satunya dengan kebiasaan berhemat," ujar Donny.

Kolaborasi berbagi listrik

Donny yang kini menyewa rumah kontrakan bersama temannya di Kabupaten Bantul mengaku kebiasaan bijak menggunakan energi itu bukan cuma terkait dengan isu makro, tetapi berpengaruh langsung pada nasib kondisi keuangan para anak muda, termasuk para perantau seperti dirinya.

"Kalau jorjoran pakai microwave, kompor listrik, token listrik bisa habis diisi hingga Rp400 ribuan per bulan, tapi sejak dihemat, masak pakai kompor gas, hingga mencabut charger ponsel langsung dari colokan, sebulan habisnya cuma Rp190 ribuan," kata Donny yang dalam salah satu kegiatannya mengupas masih besarnya kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik sehingga menyedot dana dan ongkos lingkungan.

"Pada prinsipnya, jika efisiensi penggunaan energi bisa dilakukan, selain bisa hemat buat pengeluaran, energi bisa dialokasikan, dialihkan, untuk warga yang lebih membutuhkan," ujar Donny.

Di kampusnya, kata Donny, mahasiswa lima jurusan yang setiap hari berinteraksi dengan isu energi juga bergiat dalam kampanye hemat energi. "Kawan-kawan dari Jurusan Geologi rutin berkampanye saat Earth Day, mematikan listrik dalam Earth Hour," kata Donny.

Kolaborasi buat menggelar kegiatan Mahadaya Mineral, juga ikhtiar kampanye hemat energi yang terus digulirkan agar menjadi gaya hidup dan kultur, kata Donny, mengajarkan bahwa energi merangkai, menghidupkan, sekaligus menjadi wahana pembelajaran.

"Dalam soal energi, kita saling membutuhkan, pemerintah, warga, pihak penyedia, juga kami yang akan bekerja di bidang ini," ujar Donny. (M-2)

Komentar