MI Muda

INDONESIA, Jawara Adu Ide Tingkat Global

Ahad, 16 July 2017 06:01 WIB Penulis: PALUPI MUTIASIH/M-1

DOK PALUPI

INNOVATION For Better World itulah tagline yang diusung dalam acara kompetisi produk inovasi Inovasi World Young Inventors Exhibition (WYIE) dan International Technology Exhibition (ITEX) di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia, pada 11-13 Mei lalu.

Sebanyak 7 medali emas, 13 perak, dan 4 perunggu diraih Indonesia dalam ajang kompetisi produk-produk inovasi berkategori pendidikan, aplikasi, lingkungan, teknologi, dan sebagainya.

Indonesia berjaya dalam kejuaraan yang diikuti 1.000 delegasi asal Malaysia, Korea, Taiwan, Hong Kong, Sri Lanka, Tiongkok, Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, dan negara-negara lainnya.

“Indonesia sendiri mengirim 24 tim yang terdiri atas 54 orang delegasi, terdiri atas 21 tim peserta WYIE yang mengadu produk inovasi anak-anak muda. Selain itu, ada tiga tim mengikuti ITEX, kompetisi untuk inovasi skala besar,“ ungkap Winda, tim HRD Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (Innopa).

Innopa, organisasi yang fokus pada inovasi yang dihasilkan pemuda di Indonesia. Tim mereka yang menyeleksi dan membawa delegasi Indonesia ke dua kompetisi ini.

Buku bersuara hingga penjernih jelantah Perwakilan Indonesia yang mengikuti kompetisi ini ialah mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Medan, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, SMA Lazuardi, SMP Fatih Bilingual School, Institut Pertanian Bogor, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Universitas Mercu Buana.

Inovasi kontingen Indonesia keren-keren lo! Ada yang membuat buku bersuara dengan konten Betawi, dikemas dalam desain rumah kebaya. Ada pula yang membuat alat penyaring minyak jelantah, konsep green house, hingga membuat alat pengetes lampu tanpa harus dicolok ke sumber listrik.

Tak kalah istimewa, spray untuk insektisida dari jengkol, alat penghancur sampah dengan sepeda hingga, teknik rehabilitasi terumbu karang.

Presentasi dan adu ide

Proses penjurian karya di kompetisi ini sangat ketat, setiap booth inovasi peserta kompetisi dikunjungi dua juri dari negara berbeda. Mayoritas jurinya, profesor, dosen, pengusaha, dan para ahli. Mekanisme proses penjurian diawali presentasi di hadapan juri selama 5 menit, dilanjutkan sesi tanya jawab.

“Nervous banget saat kedatangan juri yang sangat kritis. Awalnya, sebelum juri datang, kami pengen banget presentasi, tetapi pas jurinya datang, kami malah deg-degan. Alhamdulillah semua bisa teratasi,“ ungkap Khairunniza, salah satu anggota tim insektisida herbal dari kulit jengkol.

Medali terbanyak Setelah proses penjurian di hari pertama selesai, tiap-tiap kontingen memilih produk terbaik yang akan mendapat special award pilihannya masing-masing. Kontingen Indonesia mendapatkan 19 special award.

Para jagoan itu, di antaranya UNJ yang mendapatkan special award dari kontingen Arab Saudi, IPB dari Kanada, Unair dari Hong Kong, serta UPI dari Taiwan.

Puncak ajang kompetisi terjadi hari terakhir, pada acara Award Presentation, pemberian medali serta sertifi kat. Inovasi Indonesia yang mendapat gold medal, di antaranya, penjernih minyak dari UB, rehabilitasi terumbu karang dari IPB, alat pengetes lampu dari SMA Lazuardi, serta Green House dari UB.

Selain itu, tim yang mendapat silver medal, antara lain Betawi Smart Book dari UNJ, J-Spray Unimed, serta aplikasi pariwisata ke Madura UNAIR.

Sementara itu, inovasi yang mendapatkan Bronze Medal, di antaranya pembuatan mesin penghancur sampah Trasher Bike dari SMA Lazuardi 2 dan pembuatan lotion dari melinjo SMP Fatih Bilingual School 2.

Kerennya lagi, Indonesia jadi delegasi terbanyak yang mendapatkan medali dan special award.

“Kaget, awalnya tidak menyangka jika mampu mendapatkan gold medal karena inovasi lain juga bagus-bagus sekali. Saya dan tim tak hentihentinya bersyukur karena hasil riset kami membawa berkah. Semoga produk ini tidak hanya menjadi pemenang, tetapi juga memberikan dampak baik bagi konservasi terumbu karang,” ungkap Badri, delegasi asal IPB. (M-1)

Komentar