Pesona

Kerja Sama Teknologi Tekstil

Ahad, 16 July 2017 05:31 WIB Penulis: Wnd/M-3

Dok. MI/Immanuel Antonius

TEKSTIL dan produk tekstil (TPT) Indonesia telah menjadi komoditas ekspor penting. Dengan menduduki peringkat ketiga ekspor nasional, komoditas ini juga memberikan pekerjaan bagi 2,7 juta orang.

Di sisi lain, desainer Didiet Maulana melihat masih banyaknya hal yang belum dikembangkan. Selain itu, tekstil Indonesia masih di bawah produk dari negara Asia lain, salah satunya India. Untuk mengembangkan TPT Indonesia, desainer yang terkenal dengan kreasi kain adati ini pun mendorong kerja sama teknologi dengan negara tersebut.

Hal itu pula yang disampaikan Didiet saat menjadi pembicara di acara Textiles India 2017 di Helipad Ground, Gandhinagar, Gujarat, pada 2 Juli lalu. Kehadiran itu atas undangan pemerintah India melalui Kementerian Tekstil India. “Prosesnya harus dibuat sebagai program yang simultan dan periodik.

Untuk tempat pertukaran pengetahuan ataupun teknologi bisa bergantian di antara negara Asean dan India. Harus memperbarui apa saja yang terjadi di negara masing-masing terkait pengembangan kain dan bagaimana meningkatkan kerjasama pembuatan kain maupun pemasaran,” kata Didiet dalam surat elektronik yang diterima Media Indonesia, Rabu(12/7).

Ia pun menyarankan agar peserta pertukaran ilmu maupun kerja sama pemasaran tersebut terdiri atas operator kain seperti penenun, pembuat border, misalnya supervisor, manajer, hingga tenaga pemasaran. Tidak hanya itu, ia berharap muncul rekomendasi kebijakan yang bisa disampaikan pelaku usaha kepada pemerintah di negara masing-masing.

Perancang yang juga anggota Kadin Industri Tradisional Berbasis Budaya ini juga menyampaikan usulnya terkait dengan penyertaan desainer atau praktisi dalam pengembangan tekstil Indonesia yang sedang digarap oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan. (Wnd/M-3)

Komentar