Pesona

Gaya Unik dari Surabaya

Ahad, 16 July 2017 06:31 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

DOK IFC SURABAYA

SEPERTI seni kerajinan kertas, demikian koleksi karya Yunita Kosasih yang diperagakan di Surabaya Fashion Parade, beberapa waktu lalu.

Pada acara yang dipersembahkan Indonesia Fashion Chamber (IFC) cabang Surabaya, Yunita menghadirkan busana-busana berupa padanan rok dan blus yang penuh detail lipit dan tekukan.

Seperti pada gaun berpalet silver dengan material menerawang di bagian kerah dan lengan, yang dibubuhi permainan lipit pada bagian bawah. Ada pula blus dan rok berwarna salem dengan detail lipit dua arah dan ditambah lekukan unik. Arah lipit yang tidak satu jalur membuat koleksi bertajuk Harmonious Chaos ini makin mewakili tema tersebut.

“Sebuah instalasi seni dari kertas karya seorang seniman di Belanda, Peter Gentenaar menjadi inspirasi saya,” jelas Yunita Kosasih kepada Media Indonesia, kemarin.

Meski lipit-lipit tampak terlihat acak, tetap saja koleksi Yunita menonjolkan harmoni. “Itu representasi dari sesuatu yang terlihat tidak teratur. Ternyata ada keselarasan yang menjadikan koleksi tersebut tampil pas,” jelas desainer yang berkarir sejak 2002 ini.

Koleksi yang unik juga dipersembahkan Laura Paulina Kelly. Mengusung label Inverso, koleksinya menampilkan kesan busana yang bertumpuk dengan busana bagian luar yang terbelah sehingga mempertontonkan busana bagian dalam.

Di sisi lain, artikel-artikel busana ini berpotongan ala busana kantoran dan dalam warna monokrom sehingga tetap terlihat simpel. Contohnya ialah celana sebetis dengan bagian dalam material bahan putih bergaris hitam. Celana itu memiliki lapisan luar bahan berwarna abu yang memiliki cut out di beberapa bagian.

Atasannya blus crop dengan motif garis yang serupa.

Laura mengatakan memang terinspirasi dari keinginannya akan gaya pekerja kantoran yang unik. “Karena itu, saya wujudkan dengan potongan ala busana kantor namun tetap bisa dikenakan untuk acara semiformal. Penerapan hem pada celana, kerah yang tidak pada tempatnya menjadikan busana kantor tidak membosankan,” tukasnya.

Ukuran ekstra

Perancang lainnya, Aldre, menampilkan siluet busana tradisional Jepang, tapi dengan beberapa bagian yang dibuat dalam ukuran ekstra. Seperti pada padanan koleksi laki-laki dan perempuan dengan obi yang menyatukan jubah besar mereka, ditambah dengan permainan kantung besar pada bagian depan yang berkilau.

Bukan tanpa alasan, potongan besar itu menjadi representasi dari beban perjalanan suatu kaum dalam mencari. Ukuran yang tidak biasa menjadi representasi kegagalan pencarian itu sehingga menyebabkan kaum tersebut limbung. (M-3)

Komentar